Layanan Peti Kemas: Kala Shipping Ingin Bersanding di Kijing

  • Share
Tim dan rombongan dari pelayaran global berbasis di Thailand yakni Regional Container Line (RCL) untuk Indonesia saat melakukan kunjungan ke terminal Kijing di Mempawah Kalimantan Barat pada Selasa (28/3/2023)-Photo:Logistiknews.id/am

LOGISTIKNEWS.ID – Terminal Kijing yang terletak di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat (Kalbar) semakin ramai dikunjungi para pelaku pelayaran kontainer/peti kemas domestik maupun internasional untuk menjajaki peluang bisnis yang dapat digarap dari dan ke pelabuhan itu.

Pasalnya, pelabuhan Dwikora yang menjadi pelabuhan eksisting di Pontianak Kalbar saat ini disebut-sebut bakal tidak dioperasikan lagi (shutdown) pada 2025 mendatang khususnya untuk aktivitas kontainer dan general kargo.

Pelabuhan Dwikora yang berada ditengah kota Pontianak itu nantinya hanya akan melayani kapal penumpang atau rol on-rol off (ro-ro).

Berdasarkan catatan Pelindo Regional 2 Pontianak Kalbar, setidaknya sudah ada sejumlah shipping line kontainer yang menjajaki potensi di terminal Kijing Mempawah, yakni Meratus Line, Temas Line, dan yang teranyar yakni pelayaran global berbasis di Thailand yakni Regional Container Line (RCL).

“Kami akan terus persiapkan semua kebutuhan untuk bisa melayani kapal-kapal kontainer tersebut di terminal Kijing. Memang saat ini yang sudah operisional baru untuk non kontainer atau kargo umum maupun curah,” ujar General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak Hambar Wiyadi didampingi Manajer Area IPC TPK Pontianak Mochammad Loutfie, saat menerima kunjungan tim RCL untuk Indonesia, di terminal Kijing Mempawah Kalimantan Barat, pada Selasa (28/3/2023).

Sebelum bertolak ke Terminal Kijing, Tim Rombongan RCL juga berdiskusi dengan manajemen Pelabuhan Pontianak yang juga turut dihadiri Direktur Operasi dan Tehnik IPC TPK, Ahmad Mimbar. Kemudian, juga melihat Planning Control Room pelabuhan Pontianak.

Tim RCL saat berdiskusi dengan management Pelindo Regional 2 Pontianak.(photo:Logistiknews.id)

Hambar menambahkan, kehadiran fasilitas terminal Kijing sebagai pemicu perdagangan domestik maupun internasional dengan mengedepankan konsep ‘Ship Follow The Trade & Ship Promote The Trade’.

Dia mengatakan, Ship Follow The Trade merupakan manifestasi hukum permintaan dan penawaran dimana ada komoditi yang diperdagangkan di sekitar pelabuhan, maka kapal akan singgah ke pelabuhan tersebut untuk mengantar barang dagangan.

Sedangkan Ship Promote The Trade merupakan konsep trayek keperintisan, menerobos wilayah-wilayah yang belum dilayari oleh kapal komersial karena minim dan kecilnya volume perdagangan, atau situasi perdagangan yang tidak seimbang antara wilayah barat dan timur Indonesia, sehingga mengakibatkan biaya operasional kapal tidak mampu dibiayai dari uang tambang (freight).

Hambar mengemukakan, sesuai Rencana Induk Pelabuhan dan Perjanjian Konsesi, Pengembangan Terminal Kijing Kalbar dilakukan secara bertahap yaitu Tahap Initial 1A, Tahap I dan Tahap II.

Adapun khusus untuk pengembangan fasilitas peti kemas di terminal Kijing untuk Tahap 1A (2022-2026) yakni penyediaan quay container crane atau QCC (2 Unit), rubber tyred gantry crane/ RTG (8 unit), Reach Stacker (1 unit),  Forklift (1 unit) dan Tractor & Chassis (60 unit).

Sedangkan Tahap 1 (>2026) yakni penyediaan QCC (12 unit), RTG/RMG (16 unit), Reach Stacker (3 unit), Forklift (2 unit),  Tactor and Chassis (125 unit).

Adapun pada tahap 2 (> 2032) yakni penyediaan QCC (12 unit), RTG/RMG (24 unit), Reach Stacker (5 unit), Forklift (4 unit), serta Tactor and Chassis (250 unit).

Usai menerima penjelasan dari GM Pelindo Regional 2 Pontianak dan Manajer Area IPC Pontianak, pihak Regional Container Line (RCL) melalui Joy Loekito-selaku Location Head-Indonesia RCL, mengapresiasi positif semua pemaparan yang disampaikan pihak Pelindo tersebut.

“Potensinya (terminal Kijing) prospektif. Makanya kami melakukan studi banding dan penjajakan disini bagaimana kedepannya, apalagi jika Dwikora di shutdown untuk layanan peti kemas,” ujar Joy sambil mengungkapkan bahwa ketertarikan RCL terhadap terminal Kijing sebenarnya sudah cukup lama, apa lagi ada juga kapal RCL yang kinipun melayani rute Brunai Darussalam maupun Malaysia.

Tim RCL untuk Indonesia saat menjajaki Terminal Kijing pada Selasa (28/3/2023)

Pada kesempatan kunjungan Tim RCL ke Terminal Kijing itu, selain melihat langsung kondisi dermaga dan lapangan penumpukan (container yard), pihak RCL Indonesia mendapatkan penjelasan soal kapasitas terpasang handling peti kemas di terminal Kijing.

Total kapasitas terminal Kijing nantinya bisa mencapai 1.950.000 twenty foot equivalent units (TEUs), dengan rincian pada 2022-2026 mencapai 500.000 TEUs, setelah 2026 bisa mencapai 950.000 TEUs, dan 2032 bisa 1.000.000 TEUs.

Mendengar penjelasan itu, Tim rombongan RCL nampak puas dan sumringah, lantaran kapasitas terpasang layanan peti kemas akan terus ditambah sesuai dengan perkembangan perdagangan sebagaimana konsep yang dipaparkan tadi, yakni ship follow the trade & ship promote the trade.[Akhmad Mabrori]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *