LOGISTIKNEWS.ID- Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong terwujudnya aktivitas green logistik melalui transparansi dan kecepatan layanan sehingga dapat memberikan kehandalan layanan logistik nasional serta berdaya saing.
Karena itu, Kemendag saat ini sedang menyiapkan sejumlah reegulasi terkait logistik, termasuk pengaturan soal perdagangan barang antar pulau agar tersedia data yang lebih akurat.
“Selama ini pelaporan (data) terhadap aktivitas barang antar pulau itu berkali-kali. Kita ingin simplikasi regulasinya agar lebih sederhana dan mudah dipahami,” ujar Direktur Sarana Perdagangan dan Logistik Kementerian Perdagangan RI, Sri Sugy Atmanto, saat berbicara pada kegiatan LogiSYM Platinum Indonesia 2025, yang dilaksanakan Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) di Jakarta pada Kamis (27/11/2025).
Dia menegaskan, dalam mewujudkan green logistik, selain digitalisasi juga perlu dukungan penuh dari ekosistem logistiknya, konektivitas antar wilayah agar mampu menurunkan biaya logistik.
“Karena itu kami berharap ALI bisa berperan penting dalam hal ini aekaligus menjadi mitra strategis Pemerintah untuk mendukung kelancaran arus barang dan logistik,” papar Sugi.
Green logistik adalah pendekatan dalam logistik yang bertujuan untuk meminimalkan dampak lingkungan dari seluruh rantai pasok. Ini dilakukan dengan mengurangi jejak karbon, emisi, dan limbah melalui praktik seperti memanfaatkan kendaraan ramah lingkungan, mengoptimalkan rute, menggunakan kemasan berkelanjutan, dan meningkatkan efisiensi energi di gudang.
Chairman ALI, Mahendra Rianto mengatakan, pada forum ini akan membahas berbagai kebijakan dan strategi penting yang dibutuhkan Indonesia untuk meningkatkan klaster industri, menarik investasi, dan mengoptimalkan rantai pasok industri.
“Selain itu, kami akan membahas berbagai kebijakan dan strategi Pemerintah yang dirancang untuk memperkuat sektor vital ini,” ucap Mahendra.[am]













