LOGISTIKNEWS.ID – Lahan eks Jakarta International Container Terminal (JICT) 2, di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, kini tidak lagi difungsikan sebagai buffer area trucking.
Seluruh kegiatan buffer area dipusatkan di lahan Inggom yang berada di jalan Martadinata Ancol, Jakarta Utara.
Informasi itupun cukup jelas terpampang melalui spanduk yang salah satunya terpasang di gate pelabuhan Tanjung Priok.
Buffer area selama ini berperan sebagai area transit sementara trucking sebelum masuk ke terminal peti kemas, atau sebagai lokasi rekayasa arus trucking disaat terjadi kepadatan receiving maupun delivery (R/D) dari lini satu pelabuhan.

Saat dikonfrimasi hal tersebut, Executive General Manager (EGM) Pelindo Regional 2 Tanjung Priok, Adi Sugiri, secara singkat membenarkan bahwa lahan eks JICT-2 sudah tidak lagi difungsikan sebagai buffer area trucking.
“Ya benar, buffer area trucking kini dipusatkan semuanya dilahan Inggom Martadinata,” ujar Adi, kepada Logistiknews,pada Kamis (20/6/2024).
Berdasarkan informasi yang diperoleh redaksi, revitalisasi fasilitas eks terminal JICT-2 yang sudah idle hampir 8 tahun itu kini mulai dilakukan oleh manajemen Pelindo untuk difungsikan sebagai terminal kontainer domestik.
Bahkan beberapa waktu lalu, Pelaku bisnis yang tergabung dalam Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mendesak Pelindo segera merealisasikan revitalisasi fasilitas terminal di Pelabuhan Tanjung Priok itu untuk optimalisasi layanan peti kemas/kontainer domestik.
Selain untuk menambah kapasitas terpasang, pemanfaatan kembali eks JICT-2 juga untuk menopang kelancaran arus barang dan logistik dari dan ke pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.
Menurut Ketua DPW ALFI DKI Jakarta, Adil Karim , fasilitas eks JICT-2 yang idle itu idealnya bisa difungsikan dan dimanfaatkan untuk kegiatan bongkar muat peti kemas domestik yang pergerakan pertumbuhannya cukup signifikan setiap tahunnya di pelabuhan Priok.
“Optimalisasi fasilitas eks JICT-2 itu sekaligus dalam rangka menyiapkan terminal khusus kontainer domestik yang lebih representatif di pelabuhan Priok, dengan pengelolaan yang lebih profesional (dedicated) guna memberikan pelayanan terbaik kepada pengguna jasa,” ujar Adil Karim.

Ketua ALFI DKI itu, mengingatkan agar Pelabuhan Tanjung Priok tidak hanya fokus pada layanan kapal dan bongkar muat kontainer internasional.
“Tetapi layanan kontainer domestik juga mestinya mendapat perhatian yang sama. Apalagi saat ini potensi domestik sangat besar, ” ucap Adil.
Rencana Revitaliasi eks JICT-2 juga pernah disampaikan Dirut Pelindo Arif Suhartono beberapa waktu lalu yang mengatakan, revitalisasi fasilitas tersebut dengan melakukan perbaikan container yard serta pendalaman kolam dermaga eks JICT-2 dari sebelumnya -9 meter low water spring (LWs) menjadi -12 meter LWs.
Sebagaimana diketahui, saat ini terdapat lima fasilitas terminal kontainer yang melayani ekspor impor di pelabuhan Tanjung Priok yakni, JICT, TPK Koja, NPCT-1, Teminal MAL (NPH) dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok yang dikelola IPC-TPK.[redaksi@logistiknews.id]













