LOGISTIKNEWS.ID – Terminal Peti Kemas (TPK) Ambon berhasil menghandle bongkar muat peti kemas sebanyak 78.478 twenty foot equivalent units (TEUs) selama periode Januari-September 2024.
Pencapaian sepanjang 9 bulan pertama tahun 2024 itu naik 4,75% dibanding realisasi pada periode yang sama tahun 2023 lalu yang tercatat 74.919 TEUs.
Terminal Head Terminal Peti Kemas (TPK) Ambon, Yandi Sofyan Hadi, mengemukakan, pertumbuhan arus peti kemas selama Januari-September 2024 di TPK Ambon, lantaran adanya kenaikan peti kemas transhipment dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dikarenakan adanya strategi dari pihak pelayaran nasional yakni; Salam Pasific Indonesia Line (SPIL) untuk melakukan stock peti kemas empty di Ambon yang akan di pasarkan ke wilayah pelabuhan sekitar yakni; Tual, Fakfak, Kaimana, Sorong dan Jayapura.
“Pertumbuhan arus peti kemas itu juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di kota Ambon selama 9 bulan pertama tahun ini yang rata-rata sebesar 3,12%,” ujarnya saat ditemui di kantornya di TPK Ambon pada Rabu (16/10/2024).
TPK Ambon merupakan fasilitas pelabuhan di kawasan timur Indonesia yang pertama kali melakukan transformasi dan digitalisasi layanannya, bahkan sebelum dilaksanakannya merger Pelindo.
TPK Ambon kini memiliki kedalam kolam -12 meter low water spring (mLWS). Adapun panjang dermaga-nya mencapai 684 meter dengan rincian untuk layanan kapal peti kemas sepanjang 334 meter, Multipurpose 181 meter dan kapal Penumpang 169 meter. Terminal ini, juga mengoperasikan lapangan penumpukan 6 Ha.

Adapun Bok/Ship/Hour (BSH) di TPK Ambon rerata mencapai 25-30 BSH. Bahkan pernah mencapai rekor hingga 45 BSH. Begitupun dengan port stay di TPK Ambon juga kini kian singkat.
“Sedangkan komoditi yang biasa ditangani antara lain Sembako, Bawang, Kopra, Semen, Aspal, Ikan dan Kopra,” ujar Yandi.
Pada kempatan itu, Yandi di dampingi VP Corporate Communication PT Pelindo Terminal Petikemas Suryo Khasabu, dan Manager Penunjang Operasi (yang membidangi Keuangan, Manajemen Resiko, SDM, HSSE, Sistem manajemen dan Hubungan Pelanggan) Andre Rico.
Yandi juga mengungkapkan strategi pamungkas TPK Ambon yang akan menggarap kegiatan transhipment port (konsolidasi) peti kemas ke area Tual, Saumlaki, dan Dobo.
“Selain itu kami juga akan terus optimalkan aktivitas cargo consolidation dengan Multi Terminal Indonesia (MTI) di area lini 2,” ucapnya.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Provinsi Maluku, H.B Sirait dan Sekretaris Wilayah ALFI Maluku Manumara Oscar mengapresiasi transformasi dan digitalisasi layanan yang telah dilakukan manajemen Pelindo dan TPK Ambon.
Pengurus ALFI Maluku itu mengatakan, pasca transformasi yang dilakukan TPK Ambon sejak tahun 2020, layanan TPK Ambon sekarang ini semakin meningkat dan lebih baik.
Namun, Sirait maupun Oscar, berharap agar TPK Ambon terus melakukan perbaikan peralatan khususnya reach stacker di lapangan konsolidasi kargo, dan bila perlu diganti dengan yang baru karena yang ada saat ini sudah berusia tua.
“Juga perlu ditingkatkan lagi kompetensi SDM-nya agar layanan kepada customer semakin baik,” ucap Sirait.
Selain itu, ALFI Maluku juga mendorong agar TPK Ambon dapat membangun kerjasama dengan Pemerintah Daerah, khususnya dalam menyiapkan pusat-pusat konsolidasi kargo seperti fasilitas pergudangan di luar pelabuhan.
TOS Nusantara
VP Corporate Communication PT Pelindo Terminal Petikemas Suryo Khasabu, menambahkan untuk meningkatkan performance layanan kepada pengguna jasa saat ini telah diterapkan terminal operating system (TOS) Nusantara pada 9 fasilitas terminal peti kemas (TPK) yakni; IPC TPK Tanjung Priok, TPK-1 Makassar, TPK Ambon, TPK Pontiqnak, TPK-2 Makassar, TPK Palembang, TPK Belawan (Domestik), TPK Panjang dan TPK Bitung.
TOS Nusantata itu sendiri mencakup portal Palapa (operasional), Parama (customer), dan Praya (internal dan keuangan).[redaksi@logistiknews.id]













