LOGISTIKNEWS.ID- Pelaku usaha Sawit meminta kepada Pemerintah Indonesia untuk memberikan guide line atau pedoman yang jelas terkait pengembangan industri kelapa sawit nasional.
Sebab, tanpa guide line tersebut, maka hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi rantai pasok Sawit Indonesia yang sekaligus menjadi problematika pada ritme logistik industri biodiesel di dalam negeri.
Hal itu di ungkapkan Ketua Bidang Perdagangan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawir Indonesia (GAPKI), Manumpak Manurung, saat menjadi salah satu nara sumber pada Seminar Nasional Kepelabuhanan yang mengambil Tema ‘Memperkuat Sinergi, Mendorong Transformasi Pelabuhan Nasional‘ yang dilaksanakan oleh Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) di Jakarta pada Rabu (22/4/2026).
Dia menyebutkan, ada sejumlah tantangan rantai pasok Sawit di dalam negeri saat ini, yakni, infrastruktur logistik yang minim sehingga harus mandiri; daerah sentra sawit di remote area yang masih di dominasi di pulau Sumatera dan Kalimantan; serta mutu tandan buah dan cruide palm oil (CPO) yang rentan dengan waktu simpan.
“Selain itu, industri kelapa sawit merupakan industri dengan logistik yang sangat besar dan padat karya. Sementara disisi lain konsumsi lokal ada di Jawa dan Bali yang justru tidak ada potensi sawitnya,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan pentingnya memobilisasi logistik dari semua industri/produsen biodiesel agar diserap sepenuhnya oleh Pemerintah dalam hal ini Pertamina. “Apalagi sekarang ini harga minyak sawit lebih murah ketimbang harga bahan bakar fosil,” ucapnya.
Manurung juga menyampaikan, bahwa kinerja Sawit Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Pada tahun 2025, produksi CPO mencapai 51,66 juta Ton atau naik 7,2% ketimbang tahun 2024 yang tercatat 48,16 juta Ton.
Adapun konsumsi komoditi sawit juga naik 3,8% dari 23,87 juta Ton menjadi 24,76 juta Ton. Begitupun volume ekspornya naik 9,5% dari 29,53 juta Ton menjadi 32,34 juta Ton.
“Konsumsi secara nasional dalam lima tahun terakhir juga naik, rata-rata pertahunnya diatas 3%,” paparnya.
Adapun geliat ekspor komoditi itu saat ini didominasi ke India, Amerika Serikat, Uni Eropa, Afrika, China dan Pakistan.
Manurung menegaskan, bahwa kondisi geografis Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan biaya logistik nasional lebih mahal.
Sedangkan produsen sawit Indonesia, imbuhnya, sekarang ini (data GAPKI tahun 2025) menggunakan sekitar 317 Tersus/TUKS atau lebih 80% di luar pelabuhan umum, dan sisanya sekitar 20%- di pelabuhan umum atau Pelindo.
“Begitupun pelabuhan tujuan ekspornya, masih di dominasi Tersus 53% dan sisanya pelabuhan umum/BUP, dan mayoritas kargo yang dikirim via Pelabuhan adalah berbentuk bulk,” ucapnya.[am]












