Bukan ‘Ritel Port’, Indonesia Justru Butuh ‘Hub Port’ Untuk Bersaing di Global

  • Share
Pembukaan Seminar Nasional & Rakernas ABUPI dilakukan oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno [photo:Logistiknews.id/Akhmad Mabrori]

LOGISTIKNEWS.ID-  Wakil Menteri Luar Negeri Kementerian Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno mengungkapkan, guna memperkuat eksistensi pelabuhan di Indonesia di tataran global, maka pelaku usaha dan pemerintah perlu berkolaborasi dengan merealisasikan adanya pelabuhan pengumpul atau Hub Port, yang memiliki kedalaman (draft) minimal -20 meter low water spring (LWs)

Hal itu disampaikan Wamenlu saat berbicara pada Seminar Nasional Kepelabuhanan dan Rakernas Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) di Jakarta pada Rabu (22/4/2026).

Pada kesempatan itu, Arif  secara komprehensif berbicara soal pelabuhan Indonesia dalam konteks global, dimana untuk kawasan Asia Tenggara  pemain utama hingga sekarang yakni Pelabuhan Tanjung Pelepas Malaysia dan Singapura.

“Namun sayangnya, kalau kita lihat di peta dunia, Pelabuhan Indonesia sampai saat ini tidak masuk dalam jalur perkapalan dunia (main route). Padahal kita sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Lalu, Pertanyaannya kita mau apa ? kita mau pelabuhan banyak (seperti saat ini ada 3000 lebih) ? atau kita hanya perlu satu atau dua pelabuhan hub saja yang mampu menyaingi Tanjung Pelepas dan Singapura itu,” tegasnya.

Dia mengungkapkan, jika pilihan kita adalah banyak pelabuhan seperti ‘ritel’, maka hendaknya di urus sebenar-benarnya dan jangan sampai overlapping kebijakan antar daerah.

“Kalau pilihannya itu (banyak pelabuhan) maka kita tak sanggup nyaingi Tanjung Pelepas atau Singapura dan kita cuma berperan jadi feeder atau pengumpan saja ke Singapura dan Malaysia,” ucapnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Kementerian Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno. (Photo:Akhmad Mabrori/Logistiknews.id)

Wamenlu mengatakan, ada prasyarat utama jika Indonesia ingin memiliki satu atau dua pelabuhan hub yang menjadi bagian dari global hub, yaitu harus membuat aliansi dengan perusahaan pelayaran global, lebih efisien dan adanya dukungan hinterland.

“Tetapi kalau kita mau mainnya ‘ritel’ (banyak pelabuhan) seperti saat ini, ya gak papa juga, itu pilihan kita semua dari bapak-ibu disini yang juga pelaku usaha di sektor itu (pelabuhan),” paparnya.

Pada kesempatan itu, Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub, Muhammad Masyud mengatakan, meskipun jumlah pelabuhan di Indonesia sangat banyak namun disisi lain jika bicara perbandingan dengan masyarakat di pulau-pulau yang menghuninya, maka fasilitas pelabuhan itu belum sebanding juga.

“Namun Pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan konektivitas yang terintegrasi dengan hinterland dan moda transportasi lain agar pelabuhan-pelabuhan di Indonesia semakin maju dan tercipta iklim logistik nasional yang efisien serta berdaya saing,” ujar Dirjen Hubla.

Peran ABUPI

Dalam sambutannya, Ketua Umum ABUPI, Liana Trisnawati mengatakan pelabuhan bukan lagi sekedar aspek pendukung tetapi garda terdepan mendorong daya saing ekonomi nasional.

Menurutnya, untuk menurunkan logistik menjadi 12% dari produk domestik bruto (PDB) maka transformasi pelabuhan harus menjadi langkah utama.

Ketua Umum ABUPI, Liana Trisnawati (Foto:Akhmad Mabrori/Logistiknews.id)

“Mendorong transformasi pelabuhan bukan hanya melalui aspek fisik tetapi juga melalui ekosistemnya yakni national logistik ekosistem (NLE). Selain itu optimalisasi single submision dalam hal perizinan dan fokus untuk menekan dwelling time. Disaat yang sama kita juga harus adaptif terhadap kelancaran arus barang dan logistik,” ujar Liana.

Disisi lain, imbuhnya, keterhubungan antar pelaku ekosistem itu sendiri menjadi kebutuhan. Dan karenanya, ABUPI sebagai mitra pemerintah akan terus berkomitmen mendorong percepatan investasi serta mendorong daya saing melalui sinergi mewujudkan pelabuhan berdaya saing global.

“Hasil Seminar yang menampilkan sejumlah nara sumber kompeten dibidangnya ini juga nantinya akan kami sampaikan sebagai rekomendasi ke Pemerintah,” ucap Ketum ABUPI.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *