Kijing perlu Dukungan, Dwikora butuh Sentuhan

  • Share
Bongkar muat di terminal Kijing

LOGISTIKNEWS.ID – Pelabuhan Dwikora Pontianak Kalimantan Barat terus mengalami pendangkalan akibat sedimentasi tinggi di alur sungai kapuas.

Pelabuhan yang terletak terletak ditepi sungai Kapuas, merupakan pelabuhan diusahakan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), yang saat ini masih melayani aktifitas barang dan penumpang.

Berdasarkan  data kedalaman hasil survey dikolam pelabuhan -6 s/d -10 meter low water spring (Mlws) sedangkan kedalaman dialur pelayaran bervariasi antara -3.5 s/d 16.3 Mlws dengan kapasitas dermaga menampung maksimal ukuran kapal 1.000 dwt.

Dengan kondisi tersebut, kapal besar tidak bisa sandar di Pelabuhan Pontianak sehingga pelayanan kapal- kapal besar dapat dialihkan ke Pelabuhan Kijing.

Namun sayangnya, pengguna jasa belum sepenuhnya tertarik terhadap pemanfaatan Pelabuhan Kijing yang berada di Mempawah Kalimantan Barat itu.

Selain soal akses jalan atau infrastruktur yang dinilai terbatas, cost operasional bongkar muat maupun ongkos transportasi (trucking) dari Kijing ke fasiliitas gudang penumpukan barang diluar pelabuhan masih relatif mahal.

Hal tersebut dikemukakan Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Kalbar, Imam Darmawan Vidya, Owners PT PBM Berkah Utama Dua, Syahril Muhtar, dan Ketua Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Kalimantan Barat,Hamdan Godang kepada wartawan secara terpisah di Pontianak, pada Rabu (1/11/2023).

Sejak diresmikan oleh Presiden R.I Joko Widodo pada 9 Agustus 2022 lalu, Terminal Kijing – Mempawah Kalbar telah melayani bongkar muat cargo non curah cair atau non peti kemas.

Hamdan Godang mengatakan, untuk mengoptimalkan Pelabuhan Kijing, semestinya dibuka akses baru disamping yang eksisting saat ini.

“Pelaku usaha logistik ataupun perusahaan pendukungnya masih banyak yang beroperasi di kota Pontianak.Sehingga kalau hanya dengan infrastruktur jalan yang ada saat ini menuju Kijing maka kemacetan tidak bisa dihindari sehingga biaya pengangkutan daratnya menjadi tidak efisien,” ujar Godang.

Sedangkan Syahril Muhtar, menceritakan biaya bongkar muat yang berlaku di pelabuhan Kijing untuk nonpetikemas atau kargo umum masih lebih tinggi ketimbang yang berlaku di Pelabuhan Dwikora Pontianak.

“Biaya bongkar muatnya di Kijing sekitar Rp.80 ribu hingga Rp 90 ribu/ton sudah termasuk alat (crane). Namun kalau pakai crane sendiri dapat potongan atau discount Rp 2 juta-an perjam. Sementara kalau di pelabuhan Dwikora tarif bongkar muatnya hanya Rp 35 ribuan/ton,” ujar Syahril.

Hal senada juga dikemukakan Ketua DPD  Aptrindo Kalbar, Imam Darmawan Vidya. Menurutnya, dengan keterbatasan akses infrastruktur (khususnya jalan darat) dari dan menuju Kijing itu mengakibatkan ongkos angkutan trucking lebih mahal.

“Sebagai contoh tarif angkut dari Kijing ke gudang Bulog Wajo di Mempawah yang berjarak sekitar 100 kilometer saja, ongkos angkut truckingnya bisa diatas Rp.100 ribuan/ton,” ujar Imam.

Dengan kondisi seperti itu, kata Imam, kemungkinan besar para pemilik barang ataupun perusahaan pelayaran mesti menghitung ulang cost operasionalnya jika harus melalui pelabuhan Kijing.

Karenanya, Godang dan Syaril maupun Imam berharap Pemerintah daerah setempat dapat turut mendukung penyiapan akses yang lebih mumpuni di Kijing.

Selain itu optimalisasi keberadaan Pelabuhan Dwikora Pontianak juga cukup penting mengingat Pelabuhan Pontianak masih memiliki peran penting dalam menghubungkan Kalimantan Barat khususnya Kota Madya Pontianak dengan pelabuhan-pelabuhan lainnya.

General Manager Pelindo Regional 2 Pontianak, Hambar Wiyadi, mengungkapkan terminal Kijing di Mempawah Kalimantan Barat akan terus dikembangkan mengantispasi peningkatan arus barang di wilayah tersebut

Sesuai Rencana Induk Pelabuhan dan Perjanjian Konsesi, Pengembangan Terminal Kijing dilakukan secara bertahap yaitu Tahap Initial 1A, Tahap I dan Tahap II.

Adapun khusus untuk pengembangan fasilitas peti kemas di terminal Kijing untuk Tahap 1A (2022-2026) yakni penyediaan quay container crane atau QCC (2 Unit), rubber tyred gantry crane/ RTG (8 unit), Reach Stacker (1 unit),  Forklift (1 unit) dan Tractor & Chassis (60 unit).

Sedangkan Tahap 1 (>2026) yakni penyediaan QCC (12 unit), RTG/RMG (16 unit), Reach Stacker (3 unit), Forklift (2 unit),  Tactor and Chassis (125 unit).

Adapun pada tahap 2 (> 2032) yakni penyediaan QCC (12 unit), RTG/RMG (24 unit), Reach Stacker (5 unit), Forklift (4 unit), serta Tactor and Chassis (250 unit).

Hambar menambahkan, kehadirian fasilitas terminal Kijing sebagai pemicu perdagangan domestik maupun internasional dengan mengedepankan konsep ‘Ship Follow The Trade & Ship Promote The Trade’.[redaksi@logistiknews.id]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *