JICT Luncurkan Movable Lifebuoy Platform untuk Pekerja saat Kapal Sandar & Labuh

  • Share
Dirut JICT Ade Hartono dan Kepala Syahbandar Tanjung Priok Capt Wisnu Handoko, saat peluncuran Moveable Lifebuoy untuk pekerja mooring kapal  dan TKBM yang bertugas saat kapal sandar dan berlabuh di JICT.

JAKARTA – Sebagai pelabuhan bongkar muat petikemas International terbesar di Indonesia, JICT berkomitmen untuk terus meningkatkan pelayanan sekaligus memastikan keamanan dan keselamatan para pekerja yang beraktifitas di dalamnya.

Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah keselamatan pekerja operasional yang berada di lini satu, khususnya yang berada di sisi laut, dermaga dan pelayanan kapal sandar dan labuh.

Jakarta International Container Terminal merupakan salah satu terminal dengan tingkat kegiatan bongkar muat yang paling tinggi di Pelabuhan Tanjung Priok.

Saat ini Dengan prosentase kegiatan operasional yang mencapai hampir 80 % maka JICT merupakan terminal dengan tingkat pelayanan bongkar muat yang tersibuk melakukan kegiatan operasional.

Oleh karena itu dengan makin tingginya arus kegiatan bongkar muat barang khususnya petikemas di dermaga JICT ini maka makin tingginya risiko yang terjadi, baik itu risiko yang berhubungan dengan kecelakaan kerja, biaya maupun waktu.

Menyadari itu, JICT merasa perlu mencari inovasi inovasi peningkatan awarness terhadap kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja di dermaga pada khususnya dan Terminal penumpukan pada umumnya.

Penggunaan Lifebuoy, yang merupakan salah satu jenis alat safety yang digunakan untuk penyelamatan di air pada saat kejadian selama kegiatan sandar, labuh dan bongkar muat di dermaga merupakan hal yang umum di pelabuhan, tetapi menyediakan lifebuoy tambahan dengan platform yang berbeda mungkin baru pertama kali di adakan di pelabuhan Indonesia, yaitu menyediakan Moveable Lifebuoy untuk pekerja mooring kapal  dan TKBM yang bertugas saat kapal sandar dan berlabuh di JICT.

Saat ini, JICT meluncurkan 10 moveable Lifebuoy untuk mengantisipasi kecelakaan kerja di kolam dermaga JICT. Ini diluar lifebuoy existing yang sudah disediakan di setiap QCC yang beroperasi di JICT.

SOP Pemakaian Lifebuoy ini adalah sebelum kapal sandar 1 moveable lifebuoy akan di letakkan di setiap haluan dan buritan kapal, sekaligus menunjukan posisi kapal sandar , lampu rotary akan di hidupkan dimalam hari dan sirine akan dibunyikan apabila ada kejadian gangguan keselamatan dan keamanan dikegiatan bongkar muat atau pun sandar atau labuh kapal.

“Ini akan sangat memudahkan pekerja melakukan kegiatan penyelamatan lebih cepat dan efisien apabila ada kejadianlJICT sangat berkomitmen dalam upaya peningkatan keselamatan dan keamanan untuk setiap pekerja yang menjalankan tugasnya di JICT.  Kami secara berkesinambungan mengadakan training safety awareness terhadap seluruh Pekerja dan lebih fokus lagi di bagian operasional yang memiliki resiko tinggi terhadap keselamatan kerja,” ujar Direktur Utama JICT-Ade Hartono saat peluncuran Moveable Lifebuoy untuk pekerja mooring kapal  dan TKBM yang bertugas saat kapal sandar dan berlabuh di JICT, pada Rabu (19/5/2021).

Selain menyediakan seperangkat Alat Perlindungan Diri, pelatihan K3 dan pemeriksaan rutin terhadap persiapan kerja dan kelengkapannya, JICT juga terus melakukan kampanye budaya keselamatan kerja di lingkungan perusahaan baik untuk pekerja di lini 1 maupun lini 2.

“Tidak ada bantahan lain, safety is our priority,” tegas Ade Hartono.

Moveable Lifebuoy yang diluncurkan di dermaga utara JICT tersebut di lakukan oleh Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Pelabuhan Tanjung Priok Capt Wisnu Handoko dan disaksikan oleh perwakilan terminal petikemas lain nya.

Saat ini JICT merupakan Terminal Petikemas paling efisien di Indonesia. Pada masa pandemi, Kecepatan handling petikemas yang diukur dengan Gross Crane Ratio, mencapai 28,4 gerakan per jam dan di dermaga utara bahkan lebih dari 30 Move per hour.

Saat ini JICT merupakan terminal yang menguasai 42% Market Share di pelabuhan Tanjung Priok untuk terminal petikemas yang melayani kegiatan bongkar muat container Internasional.

“Untuk meminimalisir kecelakaan kapal kita semua mesti memiliki kesadaran dan kepedulian,” ujar Capt Wisnu.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.