GPEI Dorong Industri Baja Nasional, Pacu Ekspor

  • Share
Toto Dirgantoro, Ketua Umum Depalindo dan Sekjen DPP GPEI

JAKARTA,Logistiknews – Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) mendukung langkah pemerintah dengan menahan/membatasi importasi barang jadi komoditi baja untuk meningkatkan produksi industri baja di dalam negeri.

“Upaya pemerintah menekan laju importasi itu sudah sangat tepat supaya industri dalam negeri bisa full capacity dan tidak ada yang idle. Apalagi saat ini India sudah membebaskan bea masuk baja. Kita semestinya bisa mendongkrak produksi baja di dalam negeri supaya komoditi baja nasional bisa dilakukan ekspor kalau kebutuhan dalam negeri sudah bisa terpenuhi seluruhnya,” ujar Sekjen DPP Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro, melalui keterangan pers-nya pada Kamis (27/1/2022).

Dia mengatakan, GPEI mendorong Pemerintah RI melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) supaya bisa terus mendorong pertumbuhan industri baja nasional melalui kebijakan yang lebih baik.

“Kapan lagi kita bisa mendongkrak kinerja ekspor besi baja kalau tidak sekarang. Karena itu kapasitas mesin terpasang Industri baja nasional mesti terpenuhi terlebih dahulu atau full capacity,” ungkap Toto.

Dia menjelaskan bahwa industri baja sebagai mother of industry yang memiliki peran penting dalam kemajuan industri. Baja juga merupakan bahan baku bagi banyak industri, mulai dari konstruksi, permesinan, otomotif, elektronika, hingga peralatan rumah tangga.

Toto juga mengapresiasi pemerintah yang berupaya menekan laju importasi baja di dalam negeri melalui program substitusi importasi oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Berdasarkan data Direktorat Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian, target substitusi impor di sektor industri logam saat ini dapat tercapai.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat di kuartal III sektor industri logam dengan HS 72-73 ini mampu tumbuh diatas 9,82 persen. Kinerja ini juga didukung ekspor produk baja hingga November 2021 mencapai 19,6 USD dan surplus 6,1 Miliar USD dibanding jumlah impor baja di Indonesia.(am)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.