Dua Tahun STID Pelabuhan Priok Masih Dihantui Isue Truk ‘Bodong’, Kenapa ?

  • Share
Truk Peti Kemas antre terjebak kemacetan akibat TOS JICT alami trouble sejak Kamis dini hari (17/11/2022)

LOGISTIKNEWS.ID – Lebih dua tahun  pemberlakuan Single Truck Identification Data (STID), di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.

Pelabuhan tersibuk di Indonesia itu menjadi pelabuhan pertama yang comply dengan regulasi Dirjen Perhubungan Laut melalui Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Laut Nomor 803/DJPL/2021 tentang Penerapan Data Identifikasi Truk Tunggal (Single Truck Identification Data) di Pelabuhan Tanjung Priok pada September 2021.

Program STID-pun menjadi pilot project untuk memberikan layanan angkutan barang dan logistik yang lebih baik, aman, nyaman dan mengedepankan aspek keselamatan di pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Bahkan STID juga turut dikawal oleh Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) guna mengakselerasi digitalisasi layanan jasa kepelabuhan.

Kesuksesan STID sekaligus bisa menjadi tolok ukur PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) selaku BUP dalam peningkatan pelayanan dan kelancaran distribusi barang karena angkutan barang lebih tertata dan terawasi.

Namun sayangnya, isue tak sedap justru muncul dari pelabuhan Tanjung Priok. Adalah Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta, Sudirman yang mengungkapkan bahwa meskipun sudah ada STID, namun masih terdapat sekitar 7.000-an armada truk liar alias bodong masih bisa lalu lalang melayani pengangkutan logistik dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok.

Dia menegaskan, kategori ‘bodong’ yang dimaksud yakni tidak atau belum memenuhi kelengkapan persyaratan, misalnya diragukan keabsahan kelaikan armadanya.

“Menurut data kami masih ada 7.000-an armada yang tak penuhi syarat itu. Tetapi kami pastikan itu bukan anggota Aptrindo,” ujar Sudirman saat Dialog bertema ‘Memperkuat Sinergi Antara BUP dengan Mitra Kerja dan Pengguna Jasa Pelabuhan Tanjung Priok’, pada Selasa (28/11/2023).

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan, turut menguatkan pernyataan Sudirman.

“Bahkan dulu di awal-awal program STID ada puluhan ribu truk tidak penuhi syarat kelaikan,” ujar Gemilang.

Berdasarkan data yang peroleh logistiknews.id dari pelabuhan Tanjung Priok, hingga periode Akhir Agustus 2023 telah diterbitkan sebanyak 28.562 STID di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu. Selain itu, juga telah dilakukan Driver Identification Data (Driver ID) terhadap 7.648 Pengemudi/Sopir truk.

Gemilang menambahkan, STID merupakan program progresif kolaborasi antara Pelindo, Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok dan para Stakeholders melalui asosiasi terkait di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Disisi lain, ujar Gemilang, implementasi STID itu belum mampu menghilangkan tingkat kemacetan yang terjadi dari dan ke pelabuhan Priok yang melayani lebih dari 65% kegiatan ekspor impor nasional.

Sudah dua tahun secara data terkompilasi dengan baik. Tetapi, ujarnya, secara wajah dan estitika masih belum ada perubahan.

“Tentunya ini harus ditindaklanjuti supaya ketertiban dan kelancaran arus barang dari dan ke pelabuhan Priok tidak terdistorsi dengan kendaraan truk yang tidak laik jalan atau diistilahkan ‘bodong’ itu, sergahnya.

Gemilang yang juga Chairman Asean Trucking Federation (ATF) itu berharap, implementasi STID bukan sekedar mengkolek data trucking yang beroperasi semata, tetapi mesti ada multiplier efect yang dirasakan untuk mempercantik wajah pelabuhan Priok. Salah satunya adalah mengurai tingkat kemacetan dengan mempercepat layanan trucking dan produktifitas di terminal pelabuhan.

Apalagi, kata dia, sejak awal Aptrindo sangat mensupport program STID ini, agar program tersebut bisa memberikan manfaat lebih luas dalam mewujudkan layanan logistik yang lebih efisien dan aman di pelabuhan Tanjung Priok.[redaksi@logistiknews.id]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *