LOGISTIKNEWS.ID – Waktu pelayanan kapal di Pelabuhan atau vessel port stay menjadi salah satu tolok ukur efisiensi layanan logistik. Kendati begitu, kedepan perlu ada barometer bagaimana cargo stay di pelabuhan.
Hal itu diutarakan Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Makassar Syaifuddin Syahrudi atau yang akrab dipanggil Ipho, kepada Logistiknews.id, pada Kamis (20/2/2025).
“Saat ini untuk layanan peti kemas, baik port stay kapalnya maupun produktivitas atau bok ship hour (BSH)-nya di pelabuhan Makassar sudah lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.
Dia mengatakan, jika port stay dan BSH semakin baik maka pihak pelayaran yang paling menikmati. Tetapi jika layanan receiving dan delivery (R/D) atau cargo stay disisi daratnya semakin membaik maka memiliki nilai tambah pemilik barang di pelabuhan.
“Nah untuk R/D dan cargo stay di tiap-tiap pelabuhan ini yang perlu ada barometer-nya,” tegas Ipho.
Berdasarkan data yang dihimpun Logistiknews.id, port stay terhadap layanan kapal peti kemas di sejumlah Pelabuhan yang dikelola operasikan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), kini terus membaik dari sebelumnya.
Di pelabuhan Belawan misalnya, port stay tehadap layanan kapal peti kemas mencapai rata-rata 32 jam dari sebelumnya 55 jam, dan di Makassar kini 22 jam dari sebelumnya 32 jam.
Adapun di Ambon dan Sorong rata-rata port stay-nya kini 24 jam dari sebelumnya 72 jam, dan di Jayapura rerata 17 jam dari sebelumnya 36 jam.
Kemudian, port stay di Nilam rerata 12 jam dari sebelumnya 21 jam, Pantoloan 15 jam dari sebelumnya 16 jam, Tarakan 27 jam dari sebelumnya 31 jam, dan Perawang 19 jam dari sebelumnya 35 jam. Selain itu, port stay di Kupang kini 16 jam dari sebelumnya 29 jam, dan di Semarang 15 jam dari sebelumnya 17 jam.
“Jadi kalau layanan kapal peti kemas di Makassar sudah bisa dibilang untuk port stay-nya sudah lebih baik saat ini dari sebelumnya. Apalagi sekarang sudah ada dua fasilitas terminal peti kemas di pelabuhan Makassar dan ketersediaan tambatan mendukung,” ujar Ipho.[am]













