Indonesia Bulk Carrier, Optimistis di Tengah Ancaman Oversupply

  • Share
Presiden Direktur PT IBC, Djoni Sutji (dok:Logistiknews.id/Akhmad Mabrori)

LOGISTIKNEWS- Di tengah bayang-bayang kelebihan pasokan armada (oversupply) yang mulai terasa di industri pelayaran nasional, PT Indonesia Bulk Carrier (IBC) tetap melaju dengan optimisme. Perusahaan pelayaran kargo curah ini mengandalkan kontrak jangka panjang dan kedekatan strategis dengan klien tambang sebagai penopang utama stabilitas usaha.

Presiden Direktur PT IBC, Djoni Sutji, menyatakan kondisi pasar saat ini memang menghadapi tekanan serius akibat pertumbuhan armada yang tidak seimbang dengan kenaikan permintaan. Namun, ia menegaskan bahwa IBC tetap fokus pada pertumbuhan berkelanjutan melalui kemitraan dan efisiensi operasional.

“Pasar memang sedang tidak mudah. Tetapi kami cukup terlindungi karena sebagian besar armada kami sudah terikat dalam kontrak jangka panjang dengan perusahaan-perusahaan tambang,” ujar Djoni saat ditemui Logistiknews.id di kantor pusat IBC, pada Selasa siang (12/8/2025)

Sejak didirikan pada 2010, IBC tumbuh dari hanya lima set tug and barge menjadi 11 set dengan ukuran antara 240 feet hingga 300 feet jumbo.

Saat ini, kapal-kapal tersebut beroperasi terutama di wilayah Kalimantan dan Sulawesi, melayani pengangkutan batubara dan nikel, dua komoditas yang menjadi pilar utama pelayaran curah domestik.

“Kami sudah 15 tahun beroperasi dan tetap menjaga komitmen layanan. Di Sulawesi, mayoritas armada kami melayani komoditas nikel, sedangkan di Kalimantan untuk batubara,” ungkap Djoni.

Ancaman Oversupply

Meski permintaan angkutan break bulk masih ada, industri pelayaran menghadapi tekanan akibat lonjakan pembangunan kapal baru. Djoni menyebutkan, kapasitas tambahan dari armada yang sedang dibangun diperkirakan mencapai 10 juta ton.

“Pembangunan tongkang baru saat ini sangat besar. Supply tumbuh jauh lebih besar dari demand. Ini jelas akan mengganggu keseimbangan pasar dan menekan tarif angkutan,” katanya.

Kondisi tersebut mulai berdampak pada freight rate atau tarif angkut tongkang, yang menurut data terkoreksi 10–15 persen pada kuartal III 2025. Hal ini memperburuk tekanan bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang belum memiliki kontrak tetap atau kapasitas operasional yang efisien.

Salah satu penyebab utama terganggunya keseimbangan pasar adalah melemahnya permintaan global terhadap batubara, komoditas yang selama ini menjadi andalan armada tongkang nasional.

“Permintaan dari China dan India menurun, dan pasokan dari negara lain seperti Australia serta Rusia makin kuat. Ini membuat ekspor kita terganggu dan berdampak langsung pada utilisasi kapal,” ujar Djoni.

Namun, di sisi lain, komoditas nikel memberikan harapan baru seiring peningkatan permintaan global akibat tren kendaraan listrik (EV). IBC pun secara aktif memanfaatkan momentum ini untuk mengonsolidasikan bisnisnya di sektor nikel.

“Nikel adalah peluang besar. Kami lihat tren global akan mendukung pertumbuhan sektor ini dalam beberapa tahun ke depan,” kata Djoni.

Fokus Tingkatkan Utilisasi

Fenomena oversupply saat ini tidak lepas dari ledakan investasi armada baru yang terjadi pada periode 2022–2023. Kala itu, harga batubara melonjak tinggi, memicu optimisme pelaku usaha untuk membangun kapal baru.

Namun, Djoni mengingatkan, pembangunan kapal bukanlah investasi jangka pendek. Proses pengembalian modal membutuhkan waktu lama dan penuh risiko.

Dia menyarankan agar pelaku industri melakukan kalkulasi ulang dan mempertimbangkan diversifikasi muatan, seperti sektor logistik industri, pertanian, atau konstruksi.

Dalam menghadapi situasi pasar yang menantang, IBC memilih untuk tidak gegabah dalam ekspansi. Perusahaan akan fokus pada peningkatan efisiensi armada yang ada, serta menjajaki peluang kemitraan strategis dengan perusahaan tambang nasional.

“Fokusnya kami adalah menjaga utilisasi armada dan memperkuat hubungan dengan klien-klien strategis,” tutur Djoni.

Tambah Armada

Ke depan, IBC juga tetap merencanakan penambahan armada, namun tetap disesuaikan dengan menyesuaikan kebutuhan pasar, termasuk ekspansi ke wilayah Indonesia Timur yang dinilai masih potensial.

Meski pasar sedang tertekan, IBC yakin mampu bertahan dengan strategi yang tepat dan pengelolaan risiko yang hati-hati.

“Selama kita disiplin dalam operasional dan menjaga relasi dengan mitra, kami yakin tetap bisa berlayar stabil, bahkan di tengah gelombang,” ucap Djoni.

Djoni berharap proyek-proyek tersebut dapat terus berlanjut agar memberi efek berganda bagi sektor pelayaran.

“Kami berharap pemerintah terus melanjutkan proyek-proyek besar seperti IKN dan PSN lainnya. Ini bisa membuka pasar baru bagi pelayaran tongkang, khususnya untuk mengangkut bahan bangunan dan material konstruksi ke lokasi-lokasi terpencil,” ucapnya.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *