Ada Kontainer Cesium di Priok, Importir Minta Optimalkan Hico Scan

  • Share
Ketua Umum BPP GINSI, Capt Subandi.(Photo:Logistiknews.id)

LOGISTIKNEWS.ID – Pemeriksaan lebih komprehensif melalui alat pemindai peti kemas atau Hico-Scan Kontainer di pelabuhan dinilai vital guna mendeteksi masuknya barang impor yang diduga terkontaminasi radiasi Radionuklida Cesium 137 (Cs-137).

“Berarti keberadaan Hico-Scan itu penting ya, agar bisa mendeteksi keberadaan barang yang diduga terpapar radiasi Cs-137,” ujar Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Capt Subandi, kepada Logistiknews.id, saat dimintai komentarnya sehubungan dengan adanya kargo/kontainer yang diduga terpapar Cesium 137 di pelabuhan Tanjung Priok, baru-baru ini.

Berdasarkan catatan redaksi Logistiknews.id, penerapan Hico-Scan Kontainer di pelabuhan Tanjung Priok yang notabene sebagai pelabuhan tersibuk di Indonesia itu, telah dilakukan di semua terminal petilemas yang melayani ekspor impor, antara lain; Jakarta International Container Terminal (JICT), Terminal Peti Kemas (TPK) Koja, New Priok Container Terminal One (NPCT-1), Terminal 3 Priok IPC TPK, dan Terminal Mustika Alam Lestari atau T-MAL.

Untuk JICT, NPCT-1 dan TPK Koja, penerapannya sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu, sedangkan di Terminal 3 Priok IPC TPK dan T-MAL sosialisasi pengoperasian Hico Scan telah dilakukan pada Selasa 25 November 2025 lalu kepada sejumlah pelaku usaha dan asosiasi terkait di pelabuhan Tanjung Priok.

Truk Logistik Pengangkut Peti Kemas saat melintasi Alat Pemindai Kontainer yang di operasikan Bea dan Cukai Tanjung Priok di fasilitas TPFT Graha Segara.-photo:Logistiknews.id/Akhmad Mabrori

Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kerawanan Bahaya Radiasi Radionuklida Cesium 137 (Cs-137) kembali menemukan kargo berbahaya yang masuk ke Indonesia.

Ada delapan kontainer berisi zinc powder yang terkontaminasi Cesium 137 saat diperiksa di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada 14 November 2025.

Ketua Bidang Diplomasi dan Komunikasi Satgas Cesium-137, Bara Krishna Hasibuan, menyebut seluruh kontainer tersebut berasal dari Angola, Afrika.

Kedelapan kontainer telah ditahan oleh otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, sambil menunggu proses administrasi untuk dilakukan re-ekspor kembali ke negara asal.

“Ada satu informasi pada tanggal 14 November 2025, pihak otoritas Pelabuhan Tanjung Priok berhasil menghentikan delapan kontainer berisi zinc powder yang terbukti terkontaminasi Cs-137,” ujar Bara saat konferensi pers di gedung Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, awal pekan ini.

“Setelah dilakukan penelusuran, delapan kontainer tersebut berasal dari Angola, sebuah negara di benua Afrika. Saat ini, kedelapan kontainer tersebut ditahan sambil menunggu selesainya proses administrasi untuk dilakukan re-ekspor,” ucapnya.

Arus Peti Kemas

Selama periode Januari hingga September 2025, realisasi arus perti kemas internasional atau ekspor impor melalui pelabuhan Tanjung Priok Jakarta tercatat sebanyak 4.075.521 TEUs, dengan rincian di  JICT mencapai 1.603.253 twenty foot equivalent units (TEUs), NPCT-1 tercatat 1.155.159 TEUs, TPK Koja 777.134 TEUs, Terminal 3 Priok (IPC TPK) 305.880 TEUs dan T-MAL 228.095 TEUs.

Jika dibandingkan periode yang sama tahun 2024 lalu yang mencapai 3.853.951 TEUs, arus petikemas internasional (konsolidasi) melalui Pelabuhan Tanjung Priok selama periode 9 bulan pertama 2025 ini mengalami pertumbuhan 6,3%.

Adapun arus peti kemas internasional pada periode Januari-September 2024 yang berasal dari JICT sebanyak 1.655.723 TEUs, NPCT-1 tercatat 965.687 TEUs, TPK Koja 765.434 TEUs, Terminal 3 Priok (IPC-TPK) 251.085 TEUs, dan T-MAL 216.122 TEUs.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *