LOGISTIKNEWS.ID- New Priok Container Terminal (NPCT-1) menginjak usianya 10 tahun dan menyatakan tetap berkomitmen mendorong inovasi berkelanjutan sebagai ekosistem maritim di pelabuhan Tanjung Priok.
Realisasi volume petikemas melalui New Priok Container Terminal One (NPCT-1) selama periode Januari – September 2026 mencapai 1.243.951 twenty foot equivalent unit (TEUs) atau tumbuh 8% dibandingkan pencapaian periode yang sama pada 2025 yang tercatat 1.155.159 TEUs.
Terminal petikemas ekspor impor tersebut juga menargetkan mampu menghandle 1,6 juta TEUs pada tahun ini.
Direktur NPCT-1, Abdul Azis mengatakan pertumbuhan kinerja terminal petikemas tersebut selama sembilan bulan pertama tahun 2026 menunjukkan kepercayaan customer yang terus meningkat setiap tahunnya.
“Bahkan sejak beroperasi selama 10 tahun ini, kinerja NPCT-1 terus. Komitmen kami custumer kian menjadi prioritas,” ujarnya saat media gathering di kantor NPCT-1 di kawasan Tanjung Priok pada Selasa (27/10/2026).
Selama 10 tahun beroperasi (satu dekade terakhir), NPCT-1 juga mengalami transformasi signifikan dalam budaya keselamatan dari pendekatan yang berorientasi buahnya HSSE yang proaktif dan berkelanjutan.
Azis menegaskan selama satu dekade, NPCT-1 terus menjaga kelancaran operasional ditengah berbagai tantangan melalui tiga aspek yang membuat terminal peti kemas tersebut tetap tangguh selama 10 tahun terakhir ini.
Pertama, mengembangkan yard planning dan monitoting dashboard untuk memantau utilisasi lapangan dan kinerja perencanaan secara berkelanjutan. Hal ini memungkinkan tim operasional mengoptimalkan kapasitas lapangan, meningkatkan kelancaran arus petikemas dan mendukung efisiensi operasional kapal dan kegiatan disisi darat (landside).
Kedua, menerapkan Truck Booking System (TBS) dan pengelolaan gate pass. Langkah-langkah ini membantu menjaga keseimbangan arus receiving dan delivery, memastikan kelancaran operasional gate, serta meminimalkan potensi kepadatan lalu lintas pada periode puncak.
“NPCT-1 juga memperkuat koordinasi lintas stakeholder dengan melibatkan regulator, asosiasi, dan berbagai pemangku kepentingan terkait lainnya dalam menyelaraskan pengaturan operasional,” ucap Azis.
Ketiga, NPCT-1 menerapkan backload operation serta mengatur kegiatan bongkar muat secara bertahap dan terencana untuk mengoptimalkan produktivitas kapal.
Pendekatan ini, imbuhnya, membantu menjaga kinerja kapal, mengurangi tekanan terhadap okupansi dermaga serta memastikan kesinambungan layanan, termasuk pada periode dengan permintaan operasional yang tinggi.
Azis mengungkapkan, perkembangan armada selama satu dekade terakhir di NPCT-1 dimana jika pada 2016 hanya memiliki 8 unit Quay Cranes (QC) menjadi 9 unit pada 2026. Untuk Rubber Tyred Gahtry Crane (RTG) yang pada 2016 hanya 20 unit kini sudah menjadi 29 unit. Sedangkan truk internal yang pada 2016 hanya 44 unit saat ini bertambah menjadi 51 unit.
“Kedepan kami juga akan lakukan full eletrifikasi untuk semua peralatan di NPCT-1,” papar Azis.
Sebagai gambaran, pada tahun 2018, NPCT-1 mencapai total throughput kumulatif 1 juta TEUs yang menandau tonggak sejarah penting dalam operasional terminal tersebut.
Kemudian pada 2022, througput kumulatif NPCT-1 mencapai 5 juta TEUs, dan pada 2025 (setelah satu dekade perjalanan) tercatat 10 juta TEUs.
“Secara kumulatif, sejak beroperasinya NPCT-1 hingga 2026, diharapkan bisa mencapai lebih 11 juta TEUs,” ucap Azis.[am]













