Meski Tantangan Berat, Peluang Usaha Logistik Nasional Masih Potensial di 2025

  • Share
Yukki Nugrahawan Hanafi

LOGISTIKNEWS.ID– Meskipun tantangan global dan domestik terhadap pertumbuhan ekonomi secara umum, serta sektor logistik secara khusus, sangat besar, namun potensi untuk tetap tumbuh di 2025 tetap ada. Hal ini akan terwujud jika bisa memanfaatkan peluang yang ada.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA) yang juga Ketua Regional Asia Pasifik (RAP) International Federation of Freight Forwarders Association (FIATA), Yukki Nugrahawan Hanafi, menyampaikan hal itu pada Selasa (24/12/2024) kepada wartawan saat membahas peluang dan tantangan bisnis pada tahun depan.

Yukki menilai dengan optimisme dan realisme bahwa meskipun tantangan perekonomian eksternal dan domestik berpotensi menekan laju pertumbuhan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kisaran 5-5.1% tetap dapat tercapai.

“Meski tantangan seperti daya beli domestik atau konsumsi masyarakat masih menjadi risiko akibat kebijakan-kebijakan di akhir tahun ini, seperti kenaikan PPN 12% dan UMP 6,5%, kami optimis bahwa belanja pemerintah bisa menjadi pendorong utama bagi perekonomian nasional untuk menjaga tingkat pertumbuhan sesuai asumsi,” ujarnya.

Yukki juga menggarisbawahi adanya tiga faktor utama yang mempengaruhi perekonomian global dan domestik tahun depan. Pertama, perang dagang yang dipicu oleh kebijakan pengetatan impor Amerika Serikat (AS) melalui kenaikan tarif impor oleh pemerintahan baru Donald Trump.

Kedua, pemangkasan suku bunga The Fed yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Ketiga, intensitas ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mempengaruhi rantai pasokan global dan harga komoditas.

Selain itu, Yukki juga mengakui adanya potensi disrupsi supply chain global, termasuk pergeseran pusat produksi dan logistik. Negara-negara ASEAN mulai dilirik sebagai alternatif pusat produksi untuk pasar global.

“Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN memiliki peluang besar. Ketika dunia melihat ASEAN sebagai pusat ekonomi baru, kita harus memanfaatkan peluang ini dengan sebaik-baiknya,” ucap Yukki.

Hilirisasi & Investasi Hijau sebagai Penopang Pertumbuhan

Menurut Yukki, kelanjutan program hilirisasi serta peningkatan investasi hijau dapat menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025. Hilirisasi dan komitmen untuk meningkatkan investasi pada sektor-sektor yang ramah lingkungan (green investment) secara berkelanjutan dipandang sebagai kunci untuk mendukung ekonomi nasional.

“Energi Baru Terbarukan (EBT), infrastruktur hijau, dan teknologi digital akan memainkan peran penting. Selain itu, kami juga melihat peluang besar pada pembangunan infrastruktur, termasuk rencana pemerintah untuk membangun 3 juta rumah, serta program ketahanan pangan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat,” jelas Yukki.

Dia menambahkan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan, pemerintah juga harus mendukung daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, yang selama ini menyumbang lebih dari setengah PDB nasional.

“Karenanya, berbagai insentif diperlukan untuk menggairahkan konsumsi masyarakat dan meningkatkan belanja mereka,” ucap Yukki.

Peluang bagi Perusahaan Logistik Nasional

Yukki juga berharap agar perusahaan logistik nasional tidak perlu khawatir berlebihan tetapi justru harus memanfaatkan peluang yang ada. Ia menilai bahwa perusahaan logistik Indonesia bisa memperbesar pangsa pasarnya sebagai dampak dari isu geopolitik dan perang dagang global.

Apalagi, imbuhnya, isu perang dagang akan mendorong investasi asing di Indonesia, meningkatkan produksi nasional, dan akan mendorong pertumbuhan volume ekspor.

Dia mengamini adanya peningkatan minat minat investasi asing, termasuk investor dari China. Ini tentu menjadi peluang besar bagi Indonesia.

“Perusahaan-perusahaan ini dapat mendirikan pabrik di Indonesia dan tetap mengekspor produk ke AS tanpa menghadapi tarif tinggi yang berlaku jika mereka mengekspor langsung dari China,” jelas Yukki.

Menurutnya, hal ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk menarik lebih banyak investasi asing, sekaligus memberikan kesempatan bagi perusahaan logistik Indonesia untuk berkembang.

Disisi lain, peningkatan permintaan terhadap produk alternatif dari Indonesia dapat mendorong volume ekspor, yang pada gilirannya akan menguntungkan perusahaan logistik domestik.

“Permintaan yang lebih besar terhadap produk Indonesia dapat meningkatkan volume ekspor kita secara signifikan, yang tentu saja akan menguntungkan pelaku usaha logistik nasional,” ujar Yukki.

Dia juga menyampaikan bahwa peningkatan permintaan ini akan mendorong pertumbuhan industri lokal.

Dengan permintaan yang lebih tinggi, industri lokal akan berkembang, dan investasi asing akan semakin meningkat.

Namun, Yukki mengingatkan bahwa pemerintah perlu memastikan perusahaan-perusahaan lokal, termasuk penyedia jasa logistik, turut mendapatkan manfaat dari peningkatan investasi asing.

“Kami menyambut baik kehadiran investasi asing, tetapi kami berharap perusahaan nasional juga bisa terlibat lebih banyak. Namun, Pemerintah perlu memastikan bahwa investasi asing ini dapat memberi manfaat yang lebih besar bagi bisnis logistik Indonesia,” tegas Yukki.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *