LOGISTIKNEWS.ID– Dengan kedalaman dermaga hingga -12 meter Low Water Spring (LWs), Terminal Peti Kemas (TPK) Panjang di Bandar Lampung memiliki potensi untuk terus dikembangkan menjadi pelabuhan pengumpul atau Hub bagi kapal-kapal berukuran besar maupun fasilitas konsolidasi kargo ekspor impor pendukung industri wilayah Sumatera bagian selatan (Sumbagsel).
Letak geografis Panjang Lampung yang berhadapan dengan Jakarta juga menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam pengembangan ekspor via pelabuhan Panjang mengingat akses tol yang telah tersedia (Trans Sumatera).
Namun sayangnya, mayoritas kebutuhan peti kemas kosong atau empty (repo) masih harus didatangkan dari Jakarta sehingga shipping line di Panjang terpaksa keluar kocek lebih.
“Kalau ketersediaan petikemas empty (repo) ekspor di Jakarta sangat tercukupi<span;> sehingga layanan ekspor ter-support. Sementara di sini (Panjang) repo petikemasnya masih terbatas,” ujar Manager Area IPC TPK Panjang- Lampung, Anang Subagyono, saat ditemui Logistiknews.id, diruang kerjanya pada Rabu (28/1/2026).
Dia menjelaskan, sekarang ini aktivitas TPK Panjang merupakan layanan pengapalan kontainer internasional dengan komposisi 40%-nya direct (pengapalan langsung) dan sisanya atau 60% ketegori feeder atau pengumpan Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
“Kalau dari sisi jenis komoditinya, 70% ekspor dan sisanya impor,” ucap Anang.
Adapun komoditi yang dominan di ekspor melalui TPK Panjang antara lain; Kopi, gliserin (turunan sawit), Tapioka, Karet dan olahan buah Nanas.
Bahkan sepanjang 2025, ekspor kopi melalui TPK Panjang mencapai 16 ribu twenty foot equivalent units (TEUs), Gliserin 4000-an TEUs, Tapioka 1.500 TEUs, Karet 1.400 TEUs, Nanas sebanyak 1.224 TEUs. Jika dibandingkan dengan 2024, tren ekspor komoditi itu tumbuh signifikan. Bahkan Gliserin tumbuh 438%, Tapioka naik 600%, Karet 76%, dan Nanas tumbuh 18%.
Anang memaparkan, secara konsolidasi pada 2025, TPK Panjang menghandle 128.000 TEUs petikemas internasional atau naik sekitar 26% dibanding pencapaian tahun 2024 yang tercatat 103.000 TEUs.
Dia menceritakan, di TPK Panjang juga ada empat perusahaan pelayaran dengan kontribusi througput terbesar yakni Mediterranean Shipping Company (MSC) dengan layanan langsung (direct service) ke Asia tengah, Cihina dan Eropa, serta 3 shipping line dengan layanan feeder Tanjung Priok Jakarta yakni Pelayaran Tresna Muda Sejati (TMS), Sindo Damai dan CMA CGM.
Investasi Peralatan
Anang mengungkapkan, pada April tahun ini, manajemen TPK Panjang juga mendatangkan alat bongkar muat peti kemas jenis quay container crane (QCC) baru merek ZPMC dari China. type post panamax.

Saat ini, TPK Panjang telah mengoperasikan 3 QCC di dermaga produksi tahun 2010, 1996, dan 1964. Selain itu, mengoperasikan 5 rubber tyred gantry cranes (RTG), 2 Reach Stackeer, 1 Side Loader, 2 Forklift, dab 12 Head Truck.
Intinya, dengan kapasitas terpasang TPK Panjang pertahun 580 ribuan TEUs, dan realisasi throughput pertahun saat ini (2025) yang baru 128 ribuan TEUs, TPK Panjang masih sangat memungkinkan untuk terus menambah market share peti kemas agar berperan sebagai hub.
Untuk itu, Pemda setempat agar mampu terus mendorong masuknya investasi di kawasan Industri, lantaran kini baru ada dua industri di Lampung yang orientasi ekspor yakni Gliserin dan Komoditi Olahan Nanas yang aktivitas ekspornya dikapalkan via TPK Panjang.
Integrated Planning & Control
Mengawali tahun 2026, di pelabuhan Panjang juga telah diresmikan wajah baru fasilitas integrated Planning & Control sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam melakukan standarisasi fasilitas dan layanan kepelabuhanan.
Transformasi ini menjadi langkah strategis untuk mendorong peningkatan efisiensi waktu, akurasi perencanaan, serta kinerja operasional terminal secara menyeluruh.
Pembenahan Integrated Planning & Control ini dirancang untuk memperkuat peran pengendalian pelayanan operasional, optimalisasi jadwal sandar kapal, hingga peningkatan kualitas pengambilan keputusan berbasis data.
Seluruh inisiatif tersebut sejalan dengan komitmen IPC TPK Area Panjang untuk turut bersinergi dalam menghadirkan layanan di Pelabuhan yang andal, terstandar, dan berdaya saing.
“Wajah baru Integrated Planning & Control sebagai wujud komitmen terhadap sinergi pelayan di Pelabuhan Panjang yang mendorong semangat baru IPC TPK Panjang dalam menghadirkan layanan yang semakin profesional, terukur, dan berorientasi pada kinerja,” ujar Anang.

Manajemen IPC TPK Panjang menilai bahwa pembaruan fungsi Planning & Control menjadi fondasi penting untuk menjaga momentum pertumbuhan tersebut. Dengan sistem perencanaan dan pengendalian yang semakin terstandar, diharapkan proses operasional menjadi lebih efisien, waktu layanan semakin singkat, serta produktivitas terminal terus meningkat.
“Pembaharuan Integrated Planning & Control ini merupakan bagian dari komitmen IPC TPK Panjang dalam melakukan standarisasi fasilitas dan layanan terminal. Kami ingin memastikan seluruh proses perencanaan dan pengendalian operasional berjalan lebih terukur, responsif, dan efisien. Dengan fondasi ini, kami optimistis kinerja ke depan dapat terus tumbuh dan pelayanan kepada pengguna jasa semakin andal.” ucap Anang.
Ke depan, IPC TPK Panjang optimistis transformasi ini akan memperkuat daya saing terminal, menjaga kepercayaan pelanggan, serta mendukung pencapaian target kinerja perusahaan secara berkelanjutan.[Akhmad Mabrori]













