LOGISTIKNEWS.ID- Ditengah kondisi perekonomian dan geopolitik global saat ini yang berimbas pada pelemahan rupiah terhadap dolar AS bisa menjadi mementum kalangan eksportir nasional dalam meningkatkan volume ekspornya ke beberapa negara tujuan ekspor.
Namun disisi lain, kondisi ini sekaligus menjadi masalah tersendiri bagi eksportir yang mengandalkan barang produksinya di dalam negeri masih bergantung pada bahan baku impor.
Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) DKI Jakarta, Irwandy MA Rajabasa mengatakan, menguatnya mata uang dollar terhadap rupiah saat ini, menjadikan produk dalam negeri dinilai lebih murah di pasar global sehingga berpotensi adanya peningkatan permintaan market ekspor.
Namun disisi lain, imbuhnya, di tengah ketidakpastian geopolitik saat ini akibat konflik di Timur Tengah telah memantik gangguan terhadap rantai pasok global.
“Memang disatu sisi, bagi eksportir ini momentum bagus lantaran penerimaan dalam Rupiah bertambah kalau kurs Dollar-nya naik. Daya saing produk kita juga meningkat. Tetapi dilain sisi bagi eksportir yang bahan baku impornya nya banyak – juga mengalami kenaikan juga untuk membeli bahan baku impornya dalam Dollar sehingga mereka mengalami kesulitan juga untuk menyiapkan ketersediaan produknya untuk di ekspor,” ujar Irwandy pada Jumat (24/4/2026).
Dia menegaskan, Pemerintah perlu terus mendorong dan menggerakkan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang memiliki orientasi produk-nya untuk bisa tembus ke pasar internasional dengan memberikan edukasi berkesinambungan maupun kemudahan proses ekspor.
“Karena ekspor mendatangkan devisa sebagai penggerak pertumbuhan perekonomian nasional. Namun disisi lain, perlindungan bagi ketahanan industri di dalam negeri juga perlu dimaksimalkan,” ucapnya.
Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah masih melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) akibat ketidakpastian global dan eskalasi perang di Timur Tengah. Bahkan pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah sempat tembus ke level Rp 17.300 per dollar AS, meskipun akhirnya ditutup di level Rp 17.286, atau melemah 0,61 persen atau 105 poin dari penutupan hari sebelumnya.
Dia menegaskan, kondisi melemahnya mata uang Rupiah terhadap dollar tersebut tidak sepenuhnya berimbas positif bagi perekonomian dalam negeri, lantaran Industri yang masih bergantung pada bahan baku impor diperkirakan akan menghadapi kenaikan biaya produksi akibat pelemahan rupiah tersebut, meskipun produknya nantinya juga adalah untuk tujuan ekspor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor Indonesia pada periode Januari-Februari 2026 mencapai USD44,32 miliar atau naik 2,19 persen dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar USD43,37 miliar.
Total nilai ekspor sepanjang Januari-Februari 2026, itu mengalami peningkatan sebesar 2,19 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.[am]













