LOGISTIKNEWS.ID- Pemprov DKI Jakarta perlu menertibkan keberadaan areal dan fasilitas depo kontainer empty (kosong) yang tersebar di beberapa wilayah sekitar Marunda maupun Cakung Cilincing Jakarta Utara lantaran menyebabkan kemacetan lalu lintas sehingga menghambat alur distribusi logistik dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok.
Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta, Dharmawan Witanto mengemukakan, saat ini untuk mengembalikan kontainer empty eks impot maupun mengambil kontainer empty untuk keperluan ekspor di depo empty membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan ada yang lebih dari dua hari belum terlayani.
“Selain menyebabkan Sopir trucking kelelahan di jalan yang berpotensi rawan kecelakaan d jalan raya, ritase angkutan (trucking) juga berkurang karena dalam seminggu rata-rata truk hanya bisa operasional dua ritase,” ujar Dharmawan, pada Jumat (26/6/2026).
Pria yang akrab disapa Akong itu mengaku sekarang ini, secara bisnis angkutan trucking merugi akibat berkurangnya ritase angkutan yang disebabkan parahnya kemacetan di depo empty.
Padahal, kata dia, asosiasinya sudah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak-pihak terkait termasuk melalui Asdeki selaku asosiasi yang mewadahi sebagian dari para pelaku depo kontainer empty tersebut.
“Mayoritas perusahaan truk anggota kami saat ini mengeluhkan kemacetan parah yang setiap hari terjadi di depo empty tersebut. Karena itu kami meminta Pemprov DKI Jakarta menertibkan dan bisa mencarikan solusi terhadap hal ini demi kelangsungan dunia usaha trucking di Jakarta,” ucap Akong.
Aptrindo DKI mendesak supaya operasional depo empty kontainer seharusnya memiliki izin Amdal dan Lingkungan (Amdalin) yang diterbitkan instansi tehnis terkait.
“Selain itu perlu kejelasan dan ketegasan siapa (instansi atau kementerian) mana yang menerbitkan izin pendirian depo empty kontainer dan siapa yang berhak memberikan punishment-nya. Sehingga tidak semerawut seperti sekarang ini,” tegas Akong.
Koordinasi dengan Asdeki
Dia mengungkapkan, sebelumnya juga sudah pernah dilakukan pertemuan koordinasi antara Aptrindo DKI dan Asdeki DKI Jakarta. Dalam pertemuan itu Aptrindo menegaskan tiga point yang perlu mendapat perhatian para pengelola depo kontainer.
Pertama, Pengusaha Truk Aptrindo akan bersikap menolak mengambil atau mengembalikan kontainer di depo yang kondisinya padat atau macet.
Kedua, Aptrindo meminta Asdeki untuk menyebar market share kontainer di depo anggotanya sehingga tidak ada lagi salah satu atau beberapa depo saja yang alirannya berlebih atau over flow.
Ketiga, Agar tidak ada lagi pembayaran jasa lift on-lift off (Lo-Lo) yang dititipkan melalui trucking ke depo, tetapi bisa melalui sistem online sehingga bisa dibayarkan langsung oleh perusahaan forwarding maupun pemilik barang (eskportir-importir). Dalam hal ini Asdeki akan menyosialisasikannya ke forwarding atau pemilik barang.
Pihak Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki) Jakarta merespon positif semua masukan yang disampaikan oleh Aptrindo DKI Jakarta.
Menurut pihak Asdeki, karakteristik depo ada dua karegori yakni depo multi customer /shipping line dan yang hanya melayani customer/shipping line tertentu saja.
Kendati begitu, Asdeki mengakui bahwa masih ada beberapa depo sebagai penyumbang masalah kemacetan sehingga Aptrindo mendesak pengelola Depo Kontainer Asdeki bisa mengurai kemacetan-kemacetan di layanan depo dan mesti ada standar waktu tertentu layanan depo.
Dalam pertemuan itu juga terungkap bahwa khusus pelayanan ekspor di depo perlu di prioritaskan. Pasalnya lamanya layanan pengambilan kontainer ekspor di depo dikarenakan pihak trucking seringkali memilih-milih kontainer. Selain itu dibahas mengenai Standar Operation Prosedur (SOP) Layanan Depo termasuk layanan pencucian kontainer (cleaning) di depo.
Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara mengungkapkan, bahwa masih terdapat sejumlah permasalahan krusial yang perlu diselesaikan antar stakholders terkait guna mendukung kelancaran arus barang dan logistik dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok. Selain itu untuk menghidari kemacetan di luar pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.
Berdasarkan inventarisasi Pemkot Jakut terdapat 102 depo dan 95 pool petikemas diluar area pelabuhan untuk menopang aktivitas pelabuhan Tanjung Priok dengan kondisi distribusi market share tidak berimbang (depo over flow) dan mengakibatkan kepadatan lalu lintas pada ruas jalan di lokasi luar pelabuhan.[am]













