ALFI Ingatkan Kemacetan di Depo Empty, Jangan Sampai Bikin Pelabuhan Priok Stagnasi

  • Share
Ketua Umum ALFI Jakarta, Adil Karim SE,CPSM

LOGISTIKNEWS.ID- Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengkhawatirkan kondisi kepadatan di luar pelabuhan Tanjung Priok lantaran terjadinya antrean penerimaan dan pengambilan kontainer kosong di sejumlah fasilitas depo empty kontainer akhir-akhir.

Untuk itu, perlu dicarikan solusinya supaya tidak berimbas pada stagnasi layanan di dalam pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Ketua Umum ALFI DKI Jakarta, Adil Karim mengatakan Pemerintah melalui Kementerian dan Lembaga (K/L) terkait yang berhubungan dengan aktivitas ekspor impor agar bisa menyiapkan solusi jangka panjang dalam mendukung kelancaran ekosistem logistik dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok.

Pasalnya, saat ini mayoritas depo kontainer empty di Jakarta yang menjadi penopang layanan pelabuhan Tanjung Priok menghadapi situasi kritis di mana tingkat keterisian lahan atau yard occupancy ratio-nya/YOR telah melonjak rata-rata di atas 80%, bahkan beberapa di antaranya telah melampaui 100%.

Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor krusial, antara lain ketidakseimbangan ekspor-impor, dimana tingginya volume kegiatan impor tidak sebanding dengan aktivitas ekspor, sehingga pengosongan lahan depo menjadi tidak optimal.

“Jika dibiarkan berlarut-larut situasi ini, kami khawatir kondisi krodit di luar pelabuhan itu justru menyebabkan sirkulasi receiving dan delivery (R/D) pelabuhan Tanjung Priok juga mengalami hambatan. Sebab ALFI menerima informasi dari anggota bahwa saat ini, di beberapa terminal peti kemas di Priok juga sudah alami kepadatan akibat ketidakseimbangan R/D,” ujar Adil Karim kepada Logistiknews.id, pada Jumat (3/7/2026).

Dia mengatakan, sebagai solusi jangka pendek, pihak KSOP Tanjung Priok mengeluarkan diskresi dengan mengalihkan sementara waktu kegiatan layanan bongkar muat beberapa kapal kontainer di pelabuhan Priok ke pelabuhan Patimban. Dan inipun jika fasilitas di Patimban sudah mumpuni untuk melayani kontainer.

“Disisi lain, ekosistem di pelabuhan Tanjung Priok juga perlu memikirkan untuk menyiapkan fasilitas depo empty yang mendekatkannya dengan hinterland-nya atau industrinya yang saat ini lebih banyak di wilayah Jawa Barat,” ucap Adil.

Sebelumnya, Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta, Dharmawan Witanto mengemukakan, saat ini untuk mengembalikan kontainer empty eks impot maupun mengambil kontainer empty untuk keperluan ekspor di depo empty membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan ada yang lebih dari dua hari belum terlayani.

Selain menyebabkan Sopir trucking kelelahan di jalan yang berpotensi rawan kecelakaan d jalan raya, ritase angkutan (trucking) juga berkurang karena dalam seminggu rata-rata truk hanya bisa operasional dua ritase.

“Mayoritas perusahaan truk anggota kami saat ini mengeluhkan kemacetan parah yang setiap hari terjadi di depo empty tersebut,” ucap Akong.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *