LOGISTIKNEWS.ID- Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, nilai ekspor Indonesia Januari–Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar atau naik 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
Sejalan dengan total ekspor, nilai ekspor nonmigas naik 5,48 persen menjadi US$185,63 miliar. Sementara pada Agustus 2026, ekspor mencapai US$26,61 miliar, naik 6,72 persen dibanding Agustus 2025. Demikian juga dengan ekspor nonmigas Agustus 2026 naik 7,23 persen menjadi US$25,62 miliar.
Adapun nilai impor Indonesia Januari–Agustus 2026 mencapai US$186,39 miliar atau naik 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Sejalan dengan total impor, nilai impor nonmigas naik 16,83 persen menjadi US$157,09 miliar.
Sementara pada Agustus 2026, impor mencapai US$23,06 miliar, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Demikian juga dengan impor nonmigas naik 17,20 persen menjadi US$19,53 miliar.
BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia Januari–Agustus 2026 mengalami surplus US$7,25 miliar yang berasal dari surplus sektor nonmigas US$28,54 miliar, sementara sektor migas defisit senilai US$21,29 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa kinerja ekspor Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan di tengah dinamika perekonomian global.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai US$25,62 miliar. Dari sektor tersebut, ekspor industri pengolahan atau manufaktur tumbuh 12,48%.
“Capaian ekspor Indonesia pada Agustus 2026 yang mencapai US$26,61 miliar menunjukkan fundamental perdagangan Indonesia tetap memiliki daya tahan yang kuat,” ujar Budi Santoso.
Menurut Mendag, saat ini terjadi pergeseran struktur ekspor Indonesia menuju produk bernilai tambah. Indonesia kini mulai bertransformasi dari eksportir bahan mentah ke produsen produk olahan industri bernilai tambah tinggi.
Penguatan ekspor juga tercermin dari neraca perdagangan Indonesia yang pada Agustus 2026 mencatat surplus US$3,55 miliar. Surplus sektor nonmigas mencapai US$6,09 miliar.
Komoditas yang menopang ekspor nonmigas pada periode tersebut antara lain besi dan baja, minyak kelapa sawit beserta produk turunannya, serta batu bara.
Adapun negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia pada Agustus 2026 adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India.
Untuk menjaga surplus perdagangan, Kementerian Perdagangan akan terus memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk nasional melalui berbagai kerja sama serta perjanjian perdagangan.
Budi mengatakan, optimalisasi perjanjian perdagangan diperlukan untuk membuka peluang pasar yang lebih luas sekaligus mengurangi hambatan perdagangan bagi eksportir Indonesia.[red]













