Kemenhub Rilis Truk ODOL Masih 38%, Aptrindo: Sudah Bagus Itu, Dulu Bisa 90%

  • Share
Gemilang Tarigan,Ketua Umum DPP Aptrindo

JAKARTA – Pengusaha truk logistik menyebutkan, praktik truk obesitas atau overdimensi dan overload (ODOL) sekarang ini kian menurun ketimbang sebelumnya.

Hal itu disampaikan Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan, menanggapi adanya rilis hasil pemeriksaan angkutan barang yang tidak mengikuti regulasi sesuai dengan berat dan besaran muatan yang ditentukan.

Pemeriksaan itu dilakukan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan pada lima fasilitas jembatan timbang yang berada di bawah Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kemenhub Wilayah IX Provinsi Jawa Barat, baru-baru ini.

Kelima jembatan timbang yang dilakukan pemeriksaan tersebut adalah Balonggandu, Losarang,Kemang, Gentong dan Tomo.

Kementerian Perhuhungan merilis bahwa bahwa selama Januari-April 2021, pada kelima jembatan ini telah diperiksa 54.992 kendaraan, dengan tingkat pelanggaran 20.620 kendaraan 38%.

Sebagai perbandingan, pada Januari-Desember 2020, di tempat yang sama telah diperiksa 63.776 kendaraan, dengan pelanggaran 36.208 kendaraan 57%.

“Sudah bagus itu hasilnya, sudah ada kemajuan. Kalau melihat data yang disampaikan Kemenhub itu praktik Truk ODOL semakin berkurang saat ini. Kalau dahulu bisa 90% karena semua yang angkut barang dipastikan ODOL, sisanya yang tidak ODOL yakni Truk yang kosong alias tanpa muatan,” ujar Gemilang kepada logistiknews.id, pada Senin (7/6/2021).

Dia mengungkapkan upaya dan komitmen Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi beserta Ditjen Perhuhubungan Darat Kemenhub dalam memerangi praktik Truk ODOL perlu terus didukung dan diapresiasi, temasuk oleh pengusaha truk.

“Kita apresiasi, namun semangat memberantas praktik truk ODOL ini jangan sempai kendor. Pengusaha Aptrindo pasti mendukung,” ucap Gemilang.

Direktorat Jenderal Perhubungan Darat memperketat pemeriksaan angkutan barang. Pengusaha logistik yang tidak mengikuti regulasi sesuai dengan berat dan besaran muatan yang ditetentukan akan diberi tindakan.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, jembatan timbang adalah satu fungsi kontrol pergerakan logistik.

Sehingga, pergerakan barang dari satu tempat ke tempat lain dapat berjalan dengan selamat dan aman.

“Kita semua menginginkan selamat sampai tujuan. Jika kendaraan itu besaran muatannya sesuai, kemungkinan besar kendaraan akan selamat. Tetapi jika muatan melebihi, maka tingkat keselamatannya tidak terjamin,” tegas Menhub.

Menhub berharap, para pelaku usaha logistik semakin sadar untuk tidak melanggar ketentuan, antara lain dengan tidak menggunakan kendaraan ODOL.

“Kami memang menegakkan hukum secara intensif. Hanya saja, kami lebih mengutamakan pendekatan persuasif. Kami mengharapkan kesadaran semua pengusaha logistik untuk mengikuti regulasi sesuai dengan berat dan besaran muatan yang ditentukan. Apabila semua taat, maka tidak perlu kita melakukan transfer muatan, melakukan tilang, bahkan melakukan kegiatan yang lebih dari itu,” ucap Menhub.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.