Aptrindo: Sistem Transportasi Amburadul, Potensi Suburkan Praktik Pungli

  • Share
Gemilang Tarigan,Ketua Umum DPP Aptrindo

JAKARTA – Pengusaha Truk menyebutkan kemacetan jalur arteri di kawasan Tanjung Priok serta tidak seimbangnya utilisasi crane atau alat bongkar muat di Pelabuhan yang disebabkan ketidaksinkronan sistem transportasi arus barang dengan layanan di pelabuhan dan depo menjadi pemicu potensi praktik pungutan liar (pungli).

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan menegaskan, munculnya aksi premanisme yang menghantui para Sopir Truk dikawasan jalan arteri Tanjung Priok lantaran kroditnya tingkat kemacetan jalan atau akses distribusi dari dan ke pelabuhan tersibuk di Indonesia itu pada jam-jam tertentu.

Hal itu karena pemanfaatan akses langsung (Tol) dari dan ke pelabuhan Priok hingga saat ini tidak optimal sementara arus distribusi barang bergerak hampir disaat yang bersamaan yakni menjelang sore hingga malam hari.

“Aksi premanisme terhadap Sopir truk yang dilakukan oleh perorangan ataupun terorganisir yang terjadi di akses arteri Priok sangat meresahkan. Padahal disisi lain memang ada tol langsung dari dan ke Priok, namun hanya sekitar 30% Trucking yang memanfaatkan akses Tol itu. Sisanya atau 70% masih lewat arteri seperti menuju Cakung dan Marunda. Ini artinya ada yang kurang tepat dengan sistem pengelolaan transportasi dari dan ke pelabuhan Priok. Ini yang mesti kita benahi bersama demi menekan tingkat premanisme di jalan raya arteri tersebut,” ujar Gemilang, kepada logistiknews.id, pada Sabtu (12/6/2021).

Sementara menyangkut masih terjadi praktik pungli di dalam pelabuhan Priok yang melibatkan oknum petugas operator crane di salah satu terminal peti kemas di Pelabuhan Priok, Gemilang mengaku terkejut.

“Terus terang kami juga kaget kalau masih ada praktik pungli seperti itu di dalam terminal pelabuhan Priok. Setahu kami kalau di terminal pelabuhan selama ini relatif sudah baik pelayanannya,” kata Gemilang.

Dia mengatakan, terjadinya praktik pungli didalam terminal pelabuhan juga kemungkinan besar akibat belum tertatanya sistem yang baik lantaran utilisasi alat bongkar muat (crane) pada jam tertentu (pagi dan siang hari) rendah, sedangkan pada malam hari sangat tinggi atau padat pelayanannya.

“Kondisi utilisasi crane yang tidak seimbang seperti itu, mengakibatkan banyak Sopir truk pengangkut peti kemas yang ingin duluan dilayani. dan Kondisi ini pada akhirnya dimanfaatkan oleh oknum operator crane di lapangan terminal. Situasinya inilah yang memungkinkan Pungli terjadi. Makanya sistemnya mesti kita benahi bersama, bagaimana caranya supaya utilisasi crane itu bisa seimbang berjalan normal dari pagi hari hingga pagi hari lagi (24 jam penuh), jangan hanya di jam-jam tertentu saja,” paparnya.

Aptrindo juga mengajak semua pihak untuk duduk bersama guna membenahi sistem transportasi dari dan ke Priok itu mengingat saat ini Pelabuhan Priok menghandle lebih dari 65% kargo ekspor impor RI maupun aktivitas kargo domestik/antarpulau.

Aptrindo juga mendorong segera diimplementasikan single truck identity document (TID) serta adanya buffer trucking yang cukup memadai disisi timur dan barat yang terkoneksi langsung dengan akses dari dan ke pelabuhan Priok dalam membenahi layanan jasa logistik tersebut. (am)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.