Mendag: Konflik Rusia-Ukraina Belum Berdampak Pada Kinerja Perdagangan RI

  • Share
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi

LOGISTIKNEWS.ID– Konflik Rusia-Ukraina yang terjadi sejak akhir Februari 2022 ternyata belum memberikan dampak terhadap kinerja perdagangan bilateral Indonesia dengan kedua negara tersebut.

Ekspor dan impor Indonesia-Ukraina pada Februari 2022 masih menunjukkan peningkatan dan mencatatkan surplus perdagangan sebesar USD 3,60 juta,” ungkap Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, melalui siaran pers-nya pada Jumat (18/3/2022).

Sementara, ekspor dan impor Indonesia-Rusia justru mengalami penurunan dan membukukan defisit perdagangan sebesar USD 4,88 juta di periode yang sama.

Mendag mengatakan, jika dilihat dari kontribusi ekspor Ukraina terhadap total ekspor Indonesia tercatat hanya 0,11 persen di Februari 2022 dan pangsa Rusia terhadap ekspor Indonesia hanya mencapai 0,76 persen.

Kinerja Positif

Mendag Lutfi mengatakan, neraca perdagangan mencatatkan kinerja positif. Pada Februari 2022, neraca perdagangan surplus sebesar USD 3,83 miliar.

Surplus perdagangan ini disebabkan nilai ekspor Indonesia yang tercatat USD 20,46 miliar lebih tinggi dari nilai impornya yang hanya USD 16,64 miliar. Adapun Surplus perdagangan Januari 2022 hanya sebesar USD 0,96 miliar.

“Surplus perdagangan Februari 2022 ini melanjutkan tren surplus secara beruntun sejak Mei 2020. Jika dibandingkan dengan periode Februari 2021 dan 2020 yang mengalami surplus sebesar USD 1,99 miliar dan USD 2,49 miliar, surplus perdagangan Februari 2022 lebih baik,” jelasnya.

Mendag menguraikan, surplus perdagangan Februari 2022 disumbang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar USD 5,73 miliar dan defisit perdagangan migas sebesar USD 1,91 miliar.

Beberapa negara mitra dagang utama Indonesia, seperti Amerika Serikat (AS), Filipina, dan Jepang menyumbangkan surplus perdagangan terbesar yang mencapai USD 3,14 miliar.

Sementara itu, negara mitra sumber defisit perdagangan tertinggi adalah Tiongkok (USD 0,86 miliar), Thailand (USD 0,45 miliar), dan Australia (USD 0,39 miliar).

Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-Februari 2022 mengalami surplus USD 4,79 miliar, melebihi surplus perdagangan periode Januari-Februari 2021 yang hanya mencapai USD 3,95 miliar.

Surplus perdagangan nonmigas selama Januari-Februari 2022 sebesar USD 8,02 miliar mampu menutupi defisit perdagangan migas yang mencapai USD 3,24 miliar. Surplus tertinggi periode kumulatif Januari-Februari 2022 berasal dari transaksi perdagangan dengan AS yang  mencapai USD 3,42 miliar, Filipina senilai USD 1,26 miliar, dan India surplus senilai 1,02 miliar.

“Tingginya surplus perdagangan Februari 2022 memberikan optimisme untuk mencapai target ekspor nonmigas di 2022 yang didukung peningkatan ekspor nonkomoditas yang bernilai tambah dan berdaya saing,” ujar Mendag.

Mendag juga menyebutkan, bahwa kinerja Ekspor Februari 2022 Mengalami Perbaikan. Kinerja ekspor Indonesia pada Februari 2022 mencapai USD 20,46 miliar, naik 6,73 persen dibandingkan dengan Januari 2022 (MoM). Demikian pula apabila dibandingkan dengan ekspor Februari 2021 lalu (YoY), ekspor pada Februari 2022 mengalami peningkatan 34,14 persen dan kinerja ekspor di Februari 2022 ini juga merupakan nilai ekspor awal tahun tertinggi selama ini.

Peningkatan ekspor tersebut disebabkan adanya kenaikan ekspor migas 15,59 persen (YoY) dan peningkatan ekspor nonmigas sebesar 35,24 persen (YoY).

“Peningkatan kinerja ekspor Februari 2022 akibat peningkatan harga komoditas utama Indonesia di pasar internasional, seperti timah, emas, nikel, dan besi baja turut mendorong nilai ekspor,” ungkap Mendag.

Beberapa produk ekspor nonmigas yang mengalami peningkatan yang signifikan dibanding Februari 2021 (YoY), yakni bijih, terak, dan abu logam (HS 26) naik 265,65 persen, timah dan barang daripadanya (HS 80) naik 171,18 persen; nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 162,76 persen; logam mulia/perhiasan/permata (HS 71) naik 126,71 persen; dan bahan kimia anorganik (HS 28) naik 70,86 persen.

Pasar Ekspor

Pada Februari 2022, Tiongkok, AS, dan Jepang masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai ekspor nonmigas sebesar USD 7,82 miliar dan kontribusi sekitar 40,84 persen terhadap ekspor nonmigas nasional.

Adapun beberapa pasar tujuan ekspor nonmigas utama Indonesia yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada Februari 2022, antara lain Swiss tercatat naik 646,57 persen (YoY); India naik 97,80 persen (YoY); Korea Selatan naik 81,44 persen (YoY); Spanyol naik 81,29 persen (YoY); dan Bangladesh naik 74,45 persen (YoY).

Ekspor nonmigas Indonesia ke kawasan emerging markets dan developing economies juga mengalami pertumbuhan yang signifikan.

Pada Februari 2022, ekspor nonmigas ke kawasan Afrika Utara tumbuh sebesar 126,96 persen (YoY); Amerika Tengah naik 122,68 persen (YoY); dan Eropa Timur naik 95,05 persen (YoY). Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar ekspor nonmigas Indonesia terdiversifikasi.

Nilai ekspor selama periode Januari-Februari 2022 mencapai USD 39,64 miliar atau naik 29,75 persen (YoY) dibanding periode yang sama pada 2021. Peningkatan ekspor tersebut dipicu oleh naiknya ekspor nonmigas sebesar 31,02 persen (YoY) dan ekspor migas yang juga tumbuh 8,69 persen (YoY).

Peningkatan ekspor nonmigas periode Januari-Februari 2022 terutama didorong kenaikan ekspor bijih,terak, dan abu logam (HS 26) yang tumbuh 220,43 persen (YoY); logam mulia/perhiasan/permata (HS 71) naik 96,39 persen (YoY); dan besi dan baja naik 83,95 persen (YoY).

Selain itu, secara keseluruhan, peningkatan ekspor nonmigas selama periode Januari—Februari 2022 dipicu meningkatnya ekspor ke 30 besar pasar, kecuali Bangladesh dan Arab Saudi yang turun, masing-masing sebesar 0,70 persen (YoY) dan 10,90 persen (YoY).

Kinerja Impor

Impor Februari 2022 Naik dibanding Februari 2021.Dari sisi impor, nilai impor Indonesia di Februari 2022 tercatat USD 16,64 miliar atau naik 25,43 persen dari Februari 2021 (YoY). Peningkatan kinerja impor tersebut dipicu naiknya impor nonmigas sebesar 14,84 persen (YoY) dan melonjaknya impor migas sekitar 122,52 persen (YoY).

Dengan demikian, impor Januari-Februari 2022 tercatat mencapai USD 34,85 miliar, naik 31,04 persen dari Januari-Februari 2021.

Ditinjau dari golongan penggunaan barang (BEC), peningkatan impor Februari 2022 disebabkan oleh meningkatnya permintaan impor pada bahan baku/penolong yang naik 29,98 persen (YoY) dan barang modal naik 20,98 persen (YoY) serta penurunan impor barang konsumsi sebesar 3,06 persen (YoY).

Peningkatan impor nonmigas terdalam di Februari 2022 berasal dari besi dan baja (HS 72) naik 57,24 persen (YoY); susu, mentega, telur (HS 04) naik 51,04 persen (YoY); pupuk (HS 31) naik 49,93 persen (YoY); kendaraan dan bagiannya (HS 87) naik 48,23 persen (YoY); dan kapas (HS 52) naik 47,10 persen (YoY).

Sementara itu, impor nonmigas Indonesia dengan pertumbuhan tertinggi di Februari 2022 terjadi pada impor yang berasal dari Oman yang naik 501,16 persen (YoY); Rusia naik 173,38 persen (YoY),  Austria naik sebesar 141,22 persen (YoY), Afrika Selatan naik 139,57 persen (YoY), dan impor dari Kanada naik 73,91 persen (YoY).*(syifa)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.