Irwandy: Pelemahan Ekspor Sulit Dihindari

  • Share
Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) DKI Jakarta, Irwandy MA Rajabasa.

LOGISTIKNEWS.ID – Eksportir nasional mengungkapkan penurunan aktivitas ekspor pada September 2022, selain dipicu melorotnya permintaan komoditi ekspor (pasar tradisional) dari beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa, juga adanya ketidakpastian perekonomian global.

“Penurunan ekspor tersebut juga tidak bisa kita hindari karena di kedua negara itu mulai merasakan krisis global,” ujar Ketua Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) DKI Jakarta, Irwandy MA Rajabasa, kepada Logistiknews.id, pada Senin (17/10/2022).

Dia menjelaskan, saat memasuki semester kedua tahun ini, ada peningkatan ekspor tujuan AS dan Eropa karena peralihan permintaan barang atau order yang sebelumnya didatangkan dari negara lain, namun dihandle oleh para eksportir Indonesia.

Tetapi, imbuhnya, dengan kondisi melemahnya perekonomian di kedua negara tersebut saat ini, otomatis pasar ekspor tradisional seperti produk UMKM dan tekstil maupun garmen ikut terpengaruh mengalami pelemahan.

“Kategori pasar ekspor tradisional itu pengurangannya sangat drastis ketimbang pasar-pasar ekspor yang baru dirintis. Termasuk yang ke As dan Eropa juga turun,” jelas Irwandy.

Untuk itu, dia mengingatkan agar eksportir nasional dapat melakukan penetrasi pasar secara komprehensif, mengingat potensi pasar domestik saat ini juga masih menjanjikan.

“Kalau saat ini grafik ekspor turun dan naik itu dimaklumi lantaran kondisi perekonomian global juga sedang tidak baik-baik saja. Tetapi kita tetap optimistis bahwa penurunan itu ada titik nadirnya dan kemudian pastinya akan naik lagi. Jadi yang bisa kita lakukan saat ini bagaimana agar survive. Ya istilahnya pandai-pandailah bertahan dan melakukan efisiensi disegala bidang” ujar Irwandy.

Sementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Setianto mengatakan, BPS mencatat ekspor Indonesia pada September 2022 sebesar US$ 24,8 miliar, atau turun sebesar 10,99 persen dibandingkan bulan Agustus 2022.

Dia menjelaskan ekspor non-migas melorot sebesar 10,31 persen dipicu karena peran komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati HS 15 yang turun sebesar 31,91 persen.

Kemudian komoditas pakaian dan aksesorisnya HS 61 juga mengalami penurunan 30,75 persen dan besi dan baja atau HS 72 turun sebesar 5,87 persen. Sedangkan ekspor migas turun 21,41 persen karena perubahan nilai ekspor untuk gas yang melorot 22,06 persen. Secara volume, ekspor juga turun 12,26 persen.

“Selain itu, hasil minyak ini juga turun 35,43 persen sementara volume ikut turun sebesar 21,40 persen,” ucap Setianto, dalam jumpa pers, pada Senin (17/10/2022).

Sebelumnya, Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani telah mengingatkan bahwa resesi perekonomian Amerika Serikat akan berdampak buruk bagi Indonesia.

Menkeu menjelaskan AS merupakan salah satu negara tujuan ekspor RI. Jika ekonomi bergejolak, maka permintaan ekspor dari Negeri Paman Sam juga berpotensi berkurang.[*]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *