Untuk Penuhi Rantai Pasok Global, Hilirisasi Industri Dikebut

  • Share
Kapal Peti Kemas Jumbo sandar di dermaga JICT Pelabuhan Tanjung Priok, pada Senin (31/10/2022).

LOGISTIKNEWS.ID – Dalam rangka penguatan industri dalam negeri, Pemerintah terus mendorong akselerasi kebijakan hilirisasi industri berbasis sumber daya alam (SDA).

Dengan program hilirisasi, produk-produk dalam negeri tidak hanya dapat menggantikan barang impor, namun juga dapat memasok kebutuhan dunia dalam rangka partisipasi rantai pasok global.

Pemerintah juga concern dalam perbaikan kemudahan berusaha untuk mendorong investasi, dengan meluncurkan Online Single Submission Risk Based Approach (OSS-RBA), mengeluarkan Daftar Prioritas Investasi (DPI), dan mendirikan Lembaga Pengelola Investasi (LPI).

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan, sektor industri  berperan penting sebagai penggerak dan penopang utama perekonomian nasional bahkan meski terdapat gejolak dan tantangan.

Bahkan, sektor industri pengolahan masih memberikan kontribusi terbesar pada struktur PDB nasional sebesar 18,57%, dimana pada Triwulan 1-2023 tumbuh 4,43% (yoy).

Partisipasi terhadap realisasi investasi sektor industri itu juga cukup besar.

Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, hingga semester I-2023 industri pengolahan manufaktur berkontribusi 39,8% terhadap total investasi yang mencapai Rp270,3 triliun atau naik 17% (yoy). Angka ini merupakan kontribusi terbesar kedua setelah sektor jasa (41,9%) atau Rp284,1 triliun.

Disisi lain, ekspektasi perusahaan manufaktur Indonesia juga impresif, bertahan di level positif yakni 53,30 di bulan Juli 2023. Kemudian dari sisi neraca perdagangan, Indonesia surplus selama 38 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

“Ini capaian yang bagus di tengah isu perlambatan ekonomi global. Mudah-mudahan dari sektor industri ini, dari neraca perdagangan kita bisa tetap menjaga surplus,” ungkap Haryo, melalui siaran pers-nya dikutip Jumat (4/8/2023).

Haryo mengatakan antisipasi Pemerintah terhadap perlambatan ekonomi global di tahun 2023 yang dapat menyebabkan penurunan permintaan global dan berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia ke depan.

Untuk meningkatkan resiliensi perekonomian nasional, diperlukan transimisi peningkatan kinerja ekspor melalui berbagai kebijakan, seperti pembentukan Satgas Peningkatan Ekspor, Revisi Peraturan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE), dan penguatan implementasi Local Currency Settlement (LCS).

Sedangkan untuk menjaga resiliensi industri manufaktur tetap tinggi dalam menghadapi berbagai tantangan baik domestik maupun global, Pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan-perbaikan melalui berbagai kebijakan seperti penguatan pasar dalam negeri melalui Bangga Buatan Indonesia, Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri  (P3DN), serta subtitusi impor dan peningkatan ekspor.

“Jadi bagaimana pentingnya kinerja ekspor kita ini tetap terjaga, sehingga kita tetap punya peran walaupun ekonomi global melambat, eskpor kita tetap terjaga sehingga nanti efeknya petumbuhan ekonomi kita juga tetap terjaga,” ucap Haryo.[redaksi@logistiknews.id]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *