Harmonisasi Kemitraan Pelindo & PBM, demi Pertumbuhan Ekonomi Nasional

  • Share
Bongkar Muat Peti Kemas di Pelabuhan

LOGISTIKNEWS.ID – Pada bulan Oktober mendatang, genap setahun telah ditandatanganinya MoU atau naskah kerjasama antara PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI).

MoU itu mengatur soal kerjasama atau kemitraan dalam pelaksanaan kegiatan bongkar muat barang dari dan ke kapal di terminal multipurpose dan konvensional pada pelabuhan yang diusahakan oleh PT Pelindo (Persero).

Kerjasama tersebut dilakukan menganut prinsip saling melengkapi antara PBM anggota APBMI dan Pelindo serta saling menguntungkan dengan berpegang pada Good Corporate Governance (GCG) yang merupakan prinsip-prinsip yang diterapkan oleh perusahaan untuk memaksimalkan nilai dan kinerja serta tata kelola perusahaan.

Penekanan pola kerjasama antara APBMI dan Pelindo itu berlaku di area multipurpose atau konvensional terhadap kargo yang dikerjakan oleh Perusahaan Bongkar Muat (PBM) bermitra dengan Pelindo.

Naskah kerjasama itu sudah ditandatangani Direktur Pengelolaan PT Pelindo Putut Srimulyanto dengan Ketua Umum DPP APBMI Juswandi Kristanto, dalam rangkaian acara Rakernas APBMI 2022 yang dilaksanakan di Sumatera Utara (Sumut), pada Oktober 2022 lalu.

MoU itu juga mengatur single tarif bongkar muat barang di pelabuhan supaya tidak terjadi perang tarif, dan di sesuaikan dengan kondisi PBM maupun Pelabuhan yang dikelola Pelindo di daerah-daerah.

Inisiasi kerjasama Pelindo sebagai BUP dengan PBM itu mengacu pada aturan perundang-undangan yang berlaku diantaranya PM 59/2021 tentang Jasa Terkait di Perairan serta mengacu pada  UU No:17/2008 tentang Pelayaran.

MoU tersebut juga dimaksudkan memerhatikan kesetaraan dan keadilan dalam berusaha, dan bisa sebagai pedoman melakukan kerjasama dengan memperhatikan kemampuan masing-masing pihak.

MoU yang berlaku selama dua tahun itu juga telah disosialisasikan ke seluruh pengurus APBMI di daerah-daerah untuk menindaklanjutinya. Termasuk juga terkait dengan kerjasama dalam pengelolaan data bongkar muat antara BUP dan PBM di seluruh Indonesia yang mekanismenya disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan di daerah masing-masing.

Disisi lain, Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) bertekad dapat terus eksis di Pelabuhan ditengah persaingan dan tantangan kegiatan jasa bongkar muat dari dan ke kapal maupun aktivitas kepelabuhanan saat ini.

Namun, perusahaan bongkar muat (PBM) juga mesti meraih trust (kepercayaan) dari pemilik barang. Selain perlu memperluas networking. PBM juga harus pertahankan performance kerjanya ditengah persaingan tarif saat ini.

Pasalnya, saat ini PBM anggota APBMI juga berperan mendorong peningkatan perekonomian nasional dan terus berupaya mengefisiensikan layanan logistik melalui layanan jasa bongkar muat di pelabuhan.

Memang perlu diakui bahwa biaya buruh pelabuhan atau tenaga kerja bongkar muat (TKBM) sampai saat ini masih merupakan komponen terbersar dalam biaya bongkar muat. Bahkan dibeberapa daerah lebih 50%-nya biaya bongkar muat itu merupakan biaya TKBM.

Aspek lainnya, PBM juga dituntut melaksanakan investasi alat bongkar muat mekanis maupun nonmekanis untuk memacu kinerjanya supaya kinerja logistik nasional bisa semakin membaik dimasa mendatang.

Pasalnya, peringkat Logistik Performace Index (LPI) Indonesia pada 2023 berada diangka 3.0 atau menempati posisi ke 63 di dunia berdasarkan data laporan World Bank, baru-baru ini.

Berdasarkan data itu, Score LPI Indonesia masih berada di bawah Chile, Vietnam maupun Brazil. Bahkan jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Singapura yang menempati urutan score tertinggi LPI versi World Bank yakni 4.3 dan Hongkong dengan score 4.0.

Laporan itu juga merinci mengenai Custom Score, infrastruktur, International Shipments, Logistic Competent & Quality, serta Tracking and Tracing.

Padahal disisi lain, selama hampir 10 tahun terakhir Indonesia sangat masif membangun dan mempersiapkan infrastruktur termasuk untuk kelancaran arus barang dan logistik termasuk jalan tol, pelabuhan dan bandar udara (Bandara).

Bukan cuma infrastruktur, berbagai perangkat digitalisasi berbasis informasi dan tehnologi (IT) juga telah siapkan dan di implementasikan demi mendukung kelancaran arus barang dan logistik dengan harapan bisa mendongkrak performance indeks logistik Indonesia.

Karenanya, sejumlah kalangan menilai bahwa kemitraan Pelindo selaku BUP dengan PBM yang lebih harmonis diyakini sebagai salah satu simbol dalam upaya menekan biaya logistik sekaligus mendorong pertumbuhan perekonomian nasional.[redaksi@logistiknews.id]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *