Aptrindo Bali, Soroti Diskriminasi Layanan Truk Logistik di Lintasan Ketapang-Gilimanuk

  • Share
Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Bali, I Ketut Anom Putra Darsana.

LOGISTIKNEWS.ID – Kian meningkatnya volume arus logistik maupun penumpang secara bersamaan di lintasan Ketapang-Gilimanuk pada saat musim liburan atau peak season, menyebabkan kepadatan sehingga seringkali aktivitas logistik alami antrean hingga terkorbankan.

Kondisi itu, menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Bali, I Ketut Anom Putra Darsana, sangat merugikan perusahaan truk logistik yang melayani di lintasan penyeberangan tersebut.

Pasalnya, ungkap Anom, antrean yang seringkali terjadi terutama saat peak season/musim liburan, pihak pengelola di lintasan itu cenderung memprioritaskan layanan angkutan penumpang. Sedangkan angkutan truk logistik di nomorduakan.

“Jika sedang padat dan antre, truk logistik diarahkan ke lokasi parkiran penampungan. Namun tidak ada aturan dan kepastian bagi truk logistik berapa lama waktu menunggu di lokasi penampungan itu. Akibatnya, banyak barang yang terlambat sampai ke tujuan atau konsumen. Bahkan bisa terlambat dua hingga tiga hari,” ujar Anom kepada Logistiknews.id, di Bali (12/7/2024).

Dia mengatakan, padahal sebagian barang yang diangkut melalui lintasan itu juga ada yang merupakan kargo ekspor yang akan dikapalkan melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Jawa Timur.

Belum lagi, imbuhnya, jika kargo yang diangkut truk logistik itu merupakan kargo wajib berpendingin (reefer).

“Hal ini menyebabkan peningkataan biaya operasional truk logistik karena mesin armada truk mesti tetap hidup lantaran membawa komoditi wajib menggunakan pendingin (reefer),” ucapnya.

Anom mengungkapkan, sebagai solusi jangka pendek, Aptrindo Bali mengusulkan supaya segera dilakukan perbaikan dan perluasan di dermaga Ketapang dan Gilimanuk, karena kondisi saat ini sudah tidak sebanding dengan pertumbuhan volume angkutan kargo maupun penumpang yang ada.

Selain itu, agar jumlah kapal penyeberangan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk ditambah serta diremajakan dengan kapal yang lebih besar atau berukuran diatas 1000 gross tonage (GT).

“Soalnya, kapal-kapal yang beroperasi di lintasan itu kini rata-rata berukuran dibawah 1000 GT, dan sudah tua sehingga daya angkutnya terbatas,” tegas Anom.

Dia mengemukakan, Aptrindo Bali telah berkordinasi dengan pihak PT Indonesian Ferry atau Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) maupun DPP Aptrindo serta instansi terkait mengenai usulan tersebut guna mengurai kepadatan di lintasan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk.

“Adapun kondisi per hari ini, laju trucking melalui Ketapang-Gilimanuk masih agak tersendat. Namun tidak separah beberapa hari sebelumnya dimana truk logistik harus antre berhari-hari untuk menyeberang,” ucap Anom.[redaksi@logistiknews.id]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *