Agar Ekonomi Tumbuh 8%, ALFI Dorong Infrastruktur Terintegrasi

  • Share
Yukki Nugrahawan Hanafi

LOGISTIKNEWS.ID- Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyebutkan sejumlah langkah strategis untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada tahun 2029 dan pengurangan biaya logistik hingga 12,5%. Salah satu solusi utama yang diusulkan adalah pembangunan infrastruktur yang terintegrasi, mudah diakses, dan terjangkau.

Ketua Dewan Pembina ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi, mengemukakan infrastruktur merupakan elemen penting yang mendukung pergerakan, mobilitas, dan konektivitas antar wilayah di Indonesia. Sekaligus penopang supply chain atau rantai pasok.

Kedepan, harapannya ketersediaan infrastruktur di Indonesia mesti bisa lebih mumpuni ketimbang negara-negara lain di kawasan regional dan global guna mendongkrak daya saing dan investasi.

Sebab, imbuhnya, infrastruktur yang memadai sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan investor. Dengan kondisi infrastruktur yang terintegrasi dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang optimal.

“Keterbatasan infrastruktur yang terintegrasi berdampak pada tingginya biaya logistik,” ucap Yukki.

Yukki mengakui, Pemerintah Indonesia telah meningkatkan fokus terhadap pembangunan infrastruktur, terbukti dengan peningkatan anggaran belanja negara untuk sektor ini.

Bahkan, sejumlah pencapaian penting telah terwujud, seperti pembangunan sekitar 1.885 km jalan tol, 50 bandara baru, dan 1.502 pelabuhan baru dalam satu dekade terakhir.

Kolaborasi & Peran Swasta

Yukki menegaskan, tentunya sektor swasta menyambut baik akan komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menunjukkan kebijakan inklusif dalam menyertakan tidak hanya BUMN dalam membangun infrastruktur negara.

“Selain itu, saya melihat bahwa dengan keterlibatan sektor swasta, maka visi pertumbuhan ekonomi 8% juga bisa tercapai,” tegasnya.

Yukki juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi sektor swasta dan BUMN, dimana dalam beberapa tahun terakhir, kolaborasi antara BUMN dan sektor swasta telah membuktikan manfaatnya dalam berbagai sektor ekonomi.

Kolaborasi ini telah mewujudkan sejumlah proyek besar dan inovatif yang tidak hanya meningkatkan daya saing ekonomi nasional, tetapi juga memberikan peluang pekerjaan baru bagi masyarakat.

Menurut Yukki, investasi bersama dalam infrastruktur, teknologi, energi terbarukan, dan sektor-sektor kunci lainnya telah mendorong terciptanya lapangan kerja yang beragam dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dia mengatakan, kombinasi pengalaman jangka panjang BUMN dalam mengelola aset publik dengan fleksibilitas dan inovasi sektor swasta membawa dampak positif pada pelayanan publik dan pembangunan berkelanjutan.

Disisi lain, sektor swasta juga memiliki keunggulan untuk dapat mendorong transfer pengetahuan dan teknologi, memperkuat kapabilitas lokal, dan mempromosikan pertumbuhan industri nasional yang lebih mandiri.

Oleh karena itu, peran sektor swasta juga sangat penting dalam konteks kolaborasi bagi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas.

“Meskipun demikian, Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan utama dalam pembanhugunan sektor infrastruktur terintegrasi. Namun dengan semangat kolaborasi, kita optimistis hal itu bisa teratasi,” jelas Yukki.

Daya Saing Ekonomi

Untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, Yukki mendorong adanya pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dan saling mendukung antar moda transportasi menjadi salah satu kunci utama.

Sebab, ujarnya, infrastruktur yang terhubung di semua moda, bakal mempercepat distribusi barang sekaligus mengefisiensikan biaya logistik.

“Pembangunan infrastruktur tersebut dapat dilakukan dengan, peningkatan kapasitas dan kualitas pada semua moda transportasi agar terintegrasi satu sama lain sesuai dengan karakteristik komoditi yang ditangani,” jelas Yukki.

Disisi lain, pengembangan fasilitas logistik di daerah-daerah pusat ekonomi baru sangat dibutuhkan untuk memperkuat konektivitas di seluruh Indonesia agar terus dilakukan.

Sementara itu, Ketua Umum DPW ALFI Jakarta Adil Karim mengatakan pembenahan infrastruktur merupakan langkah kunci baik dalam upaya memangkas biaya logistik maupun dalam merealisasikan target pertumbuhan ekonomi 8%.

Adil meyakini, jika pembenahan infrastruktur terintegrasi bisa dilakukan, terget biaya logistik Indonesia pada level 12,5% dari PDB (produk domestik bruto) pada tahun 2029 bisa tercapai.

“Indonesia akan siap menghadapi tantangan ekonomi global dan mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029 dan biaya logistik yang murah. Salah satu kuncinya adalah pembenahan infrastruktur terintegrasi,” tegas Adil.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *