Menanti Obat Mujarab Momok Logistik di Tanjung Priok

  • Share

Oleh : Akhmad Mabrori

SOLUSI penanganan terkait kontainer yang sudah menimbun dalam waktu lama atau longstay di sejumlah fasilitas terminal petikemas di kawasan pabean pelabuhan Tanjung Priok, masih menjadi persoalan tersendiri.

Hal lainnya adalah keberadaan fasilitas depo penumpukan kontainer kosong atau empty yang berada di luar pelabuhan Tanjung Priok, yang dituding kerap berkontribusi pada imbas kemacetan dari dan ke pelabuhan tersibuk di Indonesia ini.

Kedua problematika itu sempat mencuat dalam acara Diskusi Logistik dan Kepelabuhanan bertema ‘Prospek Bisnis di Pelabuhan Tanjung Priok’ yang digelar dalam rangka HUT ke-1 Indonesia Port Editors Club (IPEC), di Jakarta pada Selasa 29 Juli 2025.

Kepala Bidang Lalu Lintas Laut Dan Kepelabuhanan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok, Wim Hutajulu mengatakan,  bahwa Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pintu gerbang ekonomi nasional yang melayani arus barang 60% -70 % di Indonesia.

“Prospek bisnis-nya juga terus tumbuh dan dapat di optimalkan bukan hanya oleh Regulator Pelabuhan tapi kolaborasi nyata seluruh pemangku kepentingan dan pelaku usaha yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok,” ujar Wim.

Berdasarkan data yang dihimpun Logistiknews.id pada Rabu 30 Juli 2025  hingga pukul 08.00 Wib, tercatat ada 9.237 bok kontainer longstay di terminal petikemas kawasan pelabuhan Tanjung Priok.

Jumlah kontainer longstay itu berasal dari kategori yang lebih dari 3 hari menumpuk di kawasan pelabuhan mencapai 8.554 bok dan yang telah menimbun  lebih 30 hari sebanyak 683 bok.

Adapun kontainer longstay yang lebih dari 3 hari  menumpuk di kawasan terminal petikemas pelabuhan Priok itu tersebar di JICT sebanyak 3.471 bok, TPK Koja 755 bok, IPC TPK Internasional (OJA) 268 bok, dan IPC TPK Internasional (TSJ) 382 bok.

Kemudian, di IPC TPK Domestik (MSA) 187 bok, IPC TPK Domestik (Temas) 5 bok, IPC TPK Domestik (009) 690 bok, IPC TPK Domestik (Adipurusa) 1.097 bok, IPC TPK Domestik (DHU) 756 bok.

Selain itu, di Mustika Alam Lestari (MAL/NPH) 97 bok, dan New Priok Container One (NPCT-1) 852 bok.

Adapun kontainer longstay kategori yang telah menimbun lebih dari 30 hari di Pelabuhan Tanjung Priok, hingga Rabu 30 Juli 2025 tersebar di JICT sebanyak 366 bok, TPK Koja 131 bok, IPC TPK Internasional (OJA) 23 bok, dan IPC TPK Internasional (TSJ) 10 bok.

Kemudian, di IPC TPK Domestik (MSA) 3 bok, TPK Domestik (Adipurusa) 59 bok, TPK Domestik 009 sebanyak 3 bok dan IPC TPK Domestik (DHU) 80 bok,  dan Terminal MAL 8 bok.

Yard Occupancy Ratio

Sedangkan tingkat yard occupancy ratio (YOR) saat ini di JICT rata-rata 51%, TPK Koja 41%, IPC TPK Internasional (OJA) 33%, dan IPC TPK Internasional (TSJ) 33%.

Adapun YOR di IPC TPK Domestik (MSA) 63%, IPC TPK Domestik (Temas) 38%, IPC TPK Domestik (009) 49%, IPC TPK Domestik (Adipurusa) 45%, dan IPC TPK Domestik (DHU) 43%.

Kemudian, New Priok Container Terminal One (NPCT-1) 43%, Mustika Alam Lestari (MAL/NPH) 29%, Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) 32%, PTP (Multipurpose) 32%.

Respon Pelaku Usaha

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Adil Karim, mengungkapkan untuk mengatasi kemacetan di luar pelabuhan Priok yang berhubungan dengan kegiatan depo kontainer empty itu perlu ada kajian komprehemsif dari Pemda DKI Jakarta maupun Pemerintah Kota (Pemkot) setempat yang melibatkan para stakkeholders termasuk asosiasi terkait.

“Jadi Pemerintah daerah harus action mengatasi kendala di luar pelabuhan (depo empty) yang bisa berpotensi menghambat kelancaran arus barang dan logistik tersebut,” ucap Adil.

Sedangkan Ketua Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (ASDEKI) Jakarta, A Yacub mengatakan mahalnya tarif depo saat ini lantaran perusahaan pelayaran mengambil hak tarif-nya Depo.

“Makanya kami setuju dan sudah siapkan kajian mengenai tarif-tarif batas atas dan bawah di depo tersebut. Kami juga mohon Dinas Perhubungan menertibkan lokasi-lokasi depo di luar pelabuhan yang seringkali bikin macet,” ucap Yacub yang juga menyoroti keberadaan kontainer longstay di pelabuhan Tanjung Priok.

Yacub menyadari bahwa depo menjadi salah satu pihak yang tertuduh penyumbang kemacetan di sekitar pelabuhan Tanjung Priok. Padahal dari 63 depo di seputaran Cilincing, namun separoh nya bukan anggota asosiasi itu.

“Makanya Asdeki minta supaya pemerintah menertibkan keberadaan usaha depo yang terus menjamur itu,” tegas Yacub.

4 Persoalan

Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara mengungkapkan, bahwa masih terdapat sejumlah permasalahan krusial yang perlu diselesaikan antar stakholders terkait guna mendukung kelancaran arus barang dan logistik dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok. Selain itu untuk menghidari kemacetan di luar pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Kepala Suku Dinas Perhubungan Pemkot Jakarta Utara, Hendrico Tampubolon mengatakan, Pemkot Jakut telah menginventarisir permasalahan arus barang dan logistik  yang mengakibatkan kemacetan di luar pelabuhan Priok.

Pertama, terdapat 102 depo dan 95 pool petikemas diluar area pelabuhan untuk menopang aktivitas pelabuhan Tanjung Priok dengan kondisi distribusi market share tidak berimbang (depo over flow) dan mengakibatkan kepadatan lalu lintas pada ruas jalan di lokasi luar pelabuhan.

Kedua, belum diterapkannya tarif batas atas dan batas bawah oleh Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub sehingga terjadi disparitas dan ketidakaturan market share.

Ketiga, belum adanya pembatasan waktu operasional angkutan barang di ruas jalan raya Pelabuhan, jalan Jampea, jalan raya Cilincing, jalan akses Marunda, jalan Cakung Cilincing Raya, jalan Yosaudarso dan jalan RE Martadinata memgakibatkan kepadatan lalu lintas pada ruas jalan dari dan menuju pelabuhan Tanjung Priok.

Keempat, terdapat 328 kecelakaan yang terjadi di wilayah kota administrasi Jakarta Utara (Tahun 2022 s/d 2024) yang mengakibatkan korban meninggal dunia, luka berat dan luka ringan dengan total kerugian tidak sedikit.

Kolaborasi

Executive General Manager (EGM) Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Yandri Trisaputra mengatakana sekarang ini sudah banyak perubahan atau transformasi yang di lakukan Pelindo baik dari sisi Prasarana Dan Sarana Fasilitas Pelabuhan maupun sisi tehnologi yang terus diperbarui sesuai kebutuhan saat ini.

Sebagai gambaran, Pelindo kini telah melakukan beberapa program strategis diantara nya adalah pembangunan Pengembangan Terminal Kalibaru ( New Priok) untuk menjawab peluang dan tantangan dengan memperhatikan integrasi ke dalam ekosistem  sebagai simpul logistic dan juga infrastruktur ke kawasan industri atau hinterland.

Yakni, Jalan Tol Cibitung Cilincing serta New Priok Eastern Akses (NPEA) yang menghubungkan dengan wilayah industri sisi timur Pelabuhan, dan yang terkini juga terkait Revitalisai Infrastruktur Ex-JICT 2 untuk menjawab peluang dan tantangan Pelabuhan Tanjung Priok ke depan.

Pelindo juga membuka diri atas kritik yang membangun, saran dan masukan dari seluruh stakeholder Pelabuhan dan siap berkolaborasi untuk menata Pelabuhan Tanjung Priok yang lebih baik lagi agar tetap dapat bersaing dengan Pelabuhan lain di dunia untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.

Namun, kalangan pelaku usaha tetap berharap semua persoalan diatas membutuhkan langkah konkret membenahinya, agar tak terus-terusan menjadi momok sektor Logistik di Tanjung Priok.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *