LOGISTIKNEWS.ID- Sistem logistik yang cepat, handal, dan terintegrasi, sangatlah dibutuhkan di provinsi Jawa Barat (Jabar) mengingat wilayah itu merupakan basis industri manufaktur terbesar di Indonesia, meliputi sektor otomotif, elektronik, tekstil, pangan, dan kimia.
Karenanya, rencana menghadirkan layanan moda Kereta Api (KA) Kilat Pajajaran sebaiknya dialihkan ke penguatan logistik berbasis KA untuk lebih mengefisienkan industri maupun layanan logistik di Jawa Barat.
Tambahan layanan seperti KA Kilat Pajajaran juga dinilai tidak akan mendapatkan permintaan yang memadai dan berisiko membebani operator KA tanpa nilai tambah yang signifikan.
Selain itu, dengan kepemilikan saham terbesar secara tidak langsung KAI di KCIC (Whoosh), akan terjadi kompetisi tiga layanan serupa (KA Parahyangan, Whoosh, dan Kilat Pajajaran) yang sama-sama dimiliki PT KAI.
“Salah satu bentuk potensi dukungan penting adalah pengembangan container yard (CY) KAI di Cikarang, Klari, Cibungur, dan Bandung, yang dapat menjadi peluang bisnis logistik KAI dan berdampak positif untuk industri di Jawa Barat,” ujar Founder & CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi, melalui keterangan pers-nya pada Rabu (3/12/2025).
Berdasarkan data tahun 2024, terdapat 8.239 perusahaan manufaktur skala menengah dan besar, serta 38 kawasan industri di Jawa Barat yang notabene juga merupakan hinterland (wilayah pendukung) pelabuhan Tanjung Priok.
Adapun volume ekspor melalui pelabuhan Tanjung Priok yang berasal dari industri (hinterland) Jawa Barat, terutama dari wilayah Bekasi 32%, Karawang 29%, Purwakarta 8%, Bandung 6%, Tangerang 14%, Bogor 4%, serta Cilegon dan Serang 8%.
Sementara, tujuan impor meliputi, Bekasi 23%, Karawang 36%, Purwakarta 9%, Bandung 6%, Tangerang 14%, Bogor 4%, serta Cilegon dan Serang 3%.
Dengan asumsi itu, jika tersedia fasilitas penumpukan kargo yang memadai di hinterland tersebut maka bisa mengurangi kepadatan aktivitas penumpukan kargo di Tanjung Priok.
“Hal ini dapat menekan biaya logistik dan meningkatkan daya saing industri, mengurangi kemacetan jalan dengan pemindahan sebagian pengangkutan dari jalan ke rel, serta menghindarkan praktik pengangkutan overdimension dan overload,” ujar Setijadi.[am]













