Priok Lancar Pacsa Nataru, Repo Kontainer Empty Mendominasi

  • Share
Gate Pelabuhan Tanjung Priok.

LOGISTIKNEWS.ID- Aktivitas logistik dari dan ke pelabuhan Tanjung Priok selama dua hari terakhir pasca adanya pembatasan operasional angkutan barang periode Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), relatif lancar terkendali. Pergerakan perdagangan ekspor impor di awal tahun 2026 melalui pelabuhan itu juga masih landai.

Kalangan Pelaku usaha truk pengangkut barang dan petikemas di Pelabuhan tersibuk di Indonesia itu mengungkapkan, saat ini order pengangkutan oleh trucking didominasi angkutan repo (pengembalian) kontainer kosong dari depo-depo diluar pelabuhan ke sejumlah terminal petikemas di Priok untuk dikirimkan atau ekspor ke beberapa negara tujuan.

“Sejak awal tahun justru kegiatan repo ekpor kontainer empty (kosong) meningkat untuk balik ke negara asal. Jadi sekarang ini trucking banyak kerja repo dari depo ke pelabuhan atau terminal. Bahkan dalam sehari bisa ratusan bok permintaan repo ekapor dari depo ke terminal. Sedangkan repo impor-nya sedikit,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) DKI Jakarta, Dharmawan Witanto, kepada Logistiknews.id pada Selasa (6/1/2026).

Dia mengungkapkan, order pengangkutan repo kontainer empty terpaksa dilakukan lantaran sepinya pengangkutan kontainer isi (full) dari dan ke pelabuhan Priok, meskipun ongkos angkutan repo empty tidak sebanding dengan perhitungan ekonomis dan investasi perusahaan truk.

“Pusing juga pengusaha truk sekarang ini. Kita banyak ngangkutin repo doang, dengan tarif angkut hanya rata-rata Rp360 ribuan perbok dari depo ke pelabuhan (sekali jalan). Jumlah itu belum dipotong uang jalan sopir, solar dan gate pas pelabuhan yang totalnya bisa mencapai Rp200 ribuan lebih,” ungkap Akong.

Kendati begitu Akong (panggilan akrab Dharmawan) mengakui kondisi pelabuhan Tanjung Priok pasca Nataru relatif lancar dan terkendali. Dirinya-pun masih bersyukur bahwa order trucking masih ada meskipun didominasi oleh repo kontainer.

Pasalnya, ungkap Akong, saat ini pemilik barang impor juga sudah lebih memahami pengaturan stok barang sehingga semakin terencana jadwalnya dalam pemasukan barangnya ke Indonesia.

“Ya kita nikmati saja dulu kondisi seperti ini, eksportir maupun importir kemungkinan sedang menyiapkan rencana-rencana bisnisnya di awal tahun seperti ini,” ucapnya.

Dharmawan Witanto

Berdasarkan data yang dihimpun Logistiknews.id, tingkat keterisian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio di sejumlah terminal peti kemas pelabuhan Tanjung Priok per Selasa 6 Januari 2026 pukul 08.00 Wib, relatif aman yakni sekitar 20%-58%.

Di Jakarta International Container Terminal (JICT) rerata YOR tercatat 49%, Terminal Peti Kemas (TPK) Koja 40%, dan New Priok Container Terminal One (NPCT-1) 45%.

Sedangkan rerata YOR di IPC TPK Internasional (OJA) 52%, dan IPC TPK Internasional (TSJ) 52%, IPC TPK Domestik (MSA) 43%, IPC TPK Domestik (Temas) 54%, IPC TPK Domestik (009) 31%, IPC TPK Domestik (Adipurusa) 41%, dan IPC TPK Domestik (DHU) 48%.

Adapun di Terminal Mustika Alam Lestari (TMAL) rerata YOR-nya 20%, Indonesia Kendaraan Terminal (IKT) 34%, PT Pelabuhan Tanjung Priok 47% d<span;>an Prima Nur Panurjwan (PNP) 58%.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *