Pelabuhan Baai Kembali Bergeliat, Aktivitas  Logistik di Bengkulu Melejit

  • Share
Dimas Rizky Kusmayadi

LOGISTIKNEWS.ID- Sejumlah truk tanki pengangkut cruide palm oil (CPO) nampak teratur untuk bergantian dilayani saat dua kapal CPO yakni Kapal Sukses Bersama 18 Batam dan Kapal Cavalo Marindo 10, melakukan kegiatan muat komoditi tersebut di dermaga Nusantara Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu, saat Logistiknews.id berkunjung ke Pelabuhan tersebut pada Selasa Siang (29/9/2026).

Di dermaga yang sama, Kapal Shinriki juga sedang melakukan bongkar semen curah yang dimuat ke sejumlah truk yang telah siap di sisi kapal tersebut. Sedangkan di sisi berbeda, juga terdapat kapal penumpang Muhammad Thamrin yang sedang sandar di dermaga tersebut.

Saat ini, aktivitas Pelabuhan Baai Kembali Bergeliat, bahkan Manajemen PT Pelabuhan Indonesia  (Pelindo) Regional 2 Bengkulu, terus memperkuat sinergi infrastruktur dan tata kelola Pelabuhan Pulau Baai.

Berdasarkan pantauan dilapangan, aktivitas pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu, sudah kembali berjalan normal setelah pekerjaan pengerukan alur pelayaran selesai dilakukan hingga mencapai kedalaman 6,5 meter LWS (Low Water Spring).

Meski operasional pelabuhan telah kembali normal, implementasi komersialisasi alur pelayaran masih menunggu penetapan pemerintah melalui Kementerian Perhubungan. Kebijakan tersebut diperlukan agar pengelolaan dan pemeliharaan alur pelayaran dapat dilakukan secara berkelanjutan.

General Manager Pelindo Regional 2 Bengkulu Dimas Rizky Kusmayadi mengatakan, pekerjaan pengerukan alur telah selesai sehingga kapal-kapal dapat kembali melakukan aktivitas pelayaran dan bongkar muat secara normal.

“Setelah pengerukan selesai, kegiatan operasional pelayaran di Pelabuhan Pulau Baai sudah kembali normal,” ujar Dimas.

Kondisi tersebut terlihat dari aktivitas kapal di Dermaga Nusantara pada Selasa, 29 September 2026 di mana ada lima kapal sedang bersandar untuk melakukan bongkar muat. Kapal-kapal tersebut antara lain kapal perintis Mohammad Husni Thamrin yang melayani rute Bengkulu-Enggano-Linau, dua kapal pengangkut crude palm oil (CPO), yakni Cavalo Marinho 10 dan Sukses Bersama 18, kapal general cargo Shinriki, serta kapal feri milik ASDP yang melayani rute Pulau Baai-Enggano.

Seiring kembali normalnya operasional setelah pengerukan alur, arus kunjungan kapal (ship call) dan volume barang melalui Pelabuhan Pulau Baai juga menunjukkan pertumbuhan.

Berdasarkan data Pelindo Regional 2 Bengkulu, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kunjungan kapal kontainer tercatat rata-rata enam hingga delapan call per bulan. Layanan tersebut antara lain dioperasikan oleh Temas Line dan SPIL.

Dalam periode yang sama, jumlah peti kemas yang diangkut mencapai 7.038 boks. Sementara itu, arus penumpang tercatat sebanyak 11.270 orang, yang merupakan akumulasi penumpang embarkasi dan debarkasi.

Aktivitas angkutan energi juga menjadi bagian penting dari kegiatan Pelabuhan Pulau Baai. Hingga Agustus 2026, tercatat 101 kunjungan kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM) Pertamina.

Dari jumlah tersebut, angkutan Pertalite mencapai 137.418 ton dengan 51 kunjungan kapal. Angkutan Pertamax tercatat 37.825 ton (22 call), sedangkan angkutan B40 mencapai 59.572 ton melalui (21 call). Adapun angkutan B50 tercatat 19.669 ton, total dari tujuh call.

Untuk komoditas lainnya, volume angkutan batu bara hingga Agustus 2026 mencapai 1.397.412 ton. Sementara itu, arus CPO tercatat sebanyak 349.161 ton.

Pembangunan TCC dan Revitalisasi Fasilitas Pelabuhan Target Operasi Awal 2027

Selain melakukan pengerukan alur pelayaran, Pelindo Regional 2 Bengkulu juga terus melakukan pembenahan fasilitas pendukung kegiatan bongkar muat di pelabuhan.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah memperbaiki peralatan bongkar muat batu bara (conveyor) yang digunakan untuk menangani komoditas batu bara.

Dimas menjelaskan, perbaikan peralatan tersebut dilakukan untuk mendukung kelancaran aktivitas bongkar muat di pelabuhan.

Selain itu, Pelindo juga tengah membangun Terminal Curah Cair (TCC) yang nantinya akan digunakan untuk menangani komoditas cair, termasuk crude palm oil (CPO). “Ke depannya, bongkar muat CPO akan dipindahkan ke TCC,” ujar Dimas.

Pembangunan TCC diharapkan dapat mendukung peningkatan aktivitas bongkar muat komoditas CPO di Pelabuhan Bengkulu. Dengan adanya fasilitas khusus tersebut, kargo CPO diharapkan dapat lebih banyak ditangani melalui Pelabuhan Bengkulu sehingga mendukung aktivitas logistik dan distribusi komoditas dari wilayah tersebut.

Pembangunan TCC saat ini masih berlangsung dan ditargetkan dapat selesai pada awal 2027. Selain pembangunan fasilitas tersebut, Pelindo Regional 2 Bengkulu juga melakukan perbaikan akses jalan di kawasan lini 1. Pembenahan infrastruktur ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kelancaran arus kendaraan dan kegiatan operasional di area pelabuhan.

Komersialisasi Alur jadi Model Percontohan Nasional

Pelindo Regional 2 Bengkulu juga menyiapkan rencana komersialisasi alur pelayaran melalui penerapan channel fee bagi pengguna jasa. Dimas mengatakan, skema tersebut telah disepakati bersama para pengguna jasa yang diwakili sejumlah asosiasi terkait.

Menurut Dimas, komersialisasi alur diperlukan untuk memastikan kegiatan pemeliharaan atau maintenance alur dapat dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, kondisi alur pelayaran dapat tetap terjaga dan mendukung kelancaran aktivitas pelayaran.

“Komersialisasi alur ini diperlukan untuk menjamin pemeliharaan alur ke depannya,” kata Dimas.

Dimas mengatakan, rencana komersialisasi tersebut telah memperoleh konsesi selama 24 tahun. Namun, pelaksanaannya masih menunggu ketetapan dari Kementerian Perhubungan.

Dia berharap skema komersialisasi alur di Pelabuhan Bengkulu nantinya dapat menjadi role model bagi pelabuhan lain di Indonesia, terutama pelabuhan yang dikelola Pelindo.

“Dengan skema tersebut, pembiayaan pemeliharaan alur diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan,” tegas Dimas.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *