Kinerja Bisnis Logistik Masih Moncer ?

  • Share

JAKARTA – Pemerintah mengeluarkan proyeksi optimistis untuk perekonomian nasional di Triwulan I tahun 2021 meskipun pertumbuhan ekonomi pada Triwulan IV 2020 terkontraksi sebesar (minus) 2,19% (y-on-y) dan membaik dari pertumbuhan Triwulan III 2020 sebesar (minus) 3,49% (y-on-y).

Seperti dikemukakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pemerintah menargetkan perekonomian RI akan tumbuh 4,5 – 5,5% tahun ini. Dengan proyeksi Triwulan I tahun 2021 diperkirakan tumbuh 1,6% sampai 2,1%.

Reboundnya ekonomi Indonesia setelah mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen (c-to-c) dibandingkan tahun 2019 karena didukung peningkatan konsumsi rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor.

Proyeksi ini sejalan dengan outlook beberapa lembaga internasional, seperti World Bank, OECD, ADB dan IMF. Di sisi lain, BPS mencatat bahwa laju pertumbuhan lapangan usaha transportasi dan pergudangan atau logistik pada Triwulan IV 2020 (y-on-y) mengalami kontraksi sebesar (minus) 13,42 persen.

Disisi lain, Pemerintah juga telah menginventarisir sejumlah capaian dari cetak biru sistem logistik nasional (Sislognas). Kendati begitu masih terdapat evaluasi terhadap implementasi Sislognas tersebut.

Meskipun terdapat kemajuan yang berarti dari implementasi Sislognas tetapi impaknya relatif belum signifikan.

Hal ini ditandai antara lain dengan belum menurunnya biaya logistik nasional yakni masih sekitar 24% dari produk domestik bruto (PDB). Selain itu masih ada gap ketidakseimbangan flow of goods masih besar.

Selain itu, belum ada tools secara organisasional untuk mengevaluasi implementasi Sislognas. Sehingga tidak ada evaluasi terhadap capaian dan eksekusi program kementerian dan lembaga (K/L) yang terkait dengan Sislognas.

Pemerintah juga perlu mempertimbangkan adanya usulan untuk menaikkan payung hukum Sislognas menjadi Undang-Undang dan pembentukan Kelembagaan Logistik Nasional. Alasannya, Sistem National Logistic Ecosystem (NLE) juga diharapkan dapat memicu perbaikan sektor logistik nasional kedepan.

Namun tak bisa dipungkiri, terdapat sejumlah capaian Sislognas hingga saat ini antara lain; terbitnya Perpres No 71 tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting yang sudah diubah dengan Perpres No:59 tahun 2020.

Selain itu, sampai dengan akhir tahun 2019, terdapat 46 proyek strategis nasional (PSN) telah dibangun meliputi jalan tol, bandara, pelabuhan, bendungan, pembangkit listrik dan rel Kereta Api dengan investasi mencapai Rp.159 Triliun.

Capaian lainnya, sampai dengan 1 Februari 2021,telah ada 187 Pusat Logistik Berikat di 187 lokasi.

Indikator kinerja logistik yang membaik juga bisa dilihat dari dwelling time di pelabuhan yang semakin baik yakni pada Februari 2021 hanya 2,68 hari.

Namun kunci sukses dalam Sislognas masih perlu dikelola secara akurat, cepat serta terintegrasi melalui Badan Independen (Adhoc) yang berperan secara aktif dan terkoordinir dibawah kepemimpinan dan kewenangan khusus sehingga mampu melakukan koordinasi lintas kementerian/lembaga dalam menentukan kebijakan tehnis yang komprehensif.

“Dengan kata lain, intinya Indonesia memerlukan leading sector yang ngurusin soal logistik nasional,” ujar Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki N Hanafi, dalam satu kesempatan.

Direktur Perdagangan Investasi dan Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian PPN/Bapenas, Laksmi Kusumawati, memaparkan bahwa Logistik merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong perkembangan perekonomian.

Dia menjelaskan bagaimana Pandemi Covid 19 telah memengaruhi kondisi bisnis dan kegiatan logistik di Indonesia maupun secara global.

“Pandemi Covid 19 telah memberikan tekanan terhadap semua kegiatan bisnis termasuk dampaknya pada mobilitas masyarakat maupun barang,” ujarnya.

Dia berharap dengan adanya vaksinasi yang sedang dilaksanakan saat ini diharapkan bisa mengembalikan keadaan perekonomian menjadi pulih kembali.

“Sektor transportasi dan pergudangan di dalam negeri terkontraksi sangat tajam akibat Pandemi Covid-19 yakni sebesar 15,4 persen,” ujarnya.

Laksmi juga menyoroti hingga saat ini belum ada Lembaga Logistik di Indonesia yang bisa mensinergikan antar stakeholders di sektor logistik nasional.

Kendati demikian, Supply Chain Indonesia (SCI) mengungkapkan bahwa sektor logistik cenderung menunjukkan tren positif selama 2020.

Menurut Chairman Supply Chain Indonesia Setijadi, walaupun sektor logistik pada periode itu berkontraksi, tetapi justru terjadi kecenderungan positif. Pada Triwulan II dan III, laju pertumbuhan transportasi dan pergudangan berturut-turut sebesar minus 30,80 persen dan minus 16,71 persen.

Dengan pertumbuhan sektor logistik yang cenderung positif, diharapkan dapat mendorong perbaikan pada pertumbuhan ekonomi nasional.(*)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.