Priok Berlakukan Tarif Baru Layanan Peti Kemas, Ini Kata GINSI & ALFI

  • Share
Adil Karim (kiri) & Capt Subandi (kanan)

JAKARTA – Sejumlah asosiasi pemilik barang dan pengguna jasa di pelabuhan Tanjung Priok disebut telah menyetujui adanya penyesuaian tarif penumpukan peti kemas (storage) dan lift on-lift off (Lo-Lo) yang akan berlaku pada 15 April 2021 di terminal peti kemas ekspor impor pelabuhan Tanjung Priok.

Tarif baru tersebut mulai berlaku per kedatangan kapal pada pukul 00.00 Wib tanggal 15 April 2021 di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Asosiasi itu yakni Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) DKI Jakarta, Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) DKI Jakarta, dan Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta.

“Ketiga asosiasi tersebut sudah menandatangani dan menyetujui penyesuaian tarif tersebut, sejak 2019 lalu, ” ujar Dini Endiyani, SFVP Komunikasi Korporasi Kantor Pusat IPC dan Arif Rusman  SVP Pemasaran Kantor Pusat  IPC, pada Rabu (7/4/2021).

Saat merilis penyesuaian tarif  itu, manajemen IPC  di dampingi oleh perwakilan manajemen operator terminal peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok yakni; Jakarta International Container Terminal (JICT), TPK Koja, New Priok Container Terminal One (NPCT-1), Terminal Mustika Alam Lestari (MAL) dan Terminal 3 Pelabuhan Tanjung Priok.

Dini menguraikan, tarif  Lo-Lo untuk peti kemas berukuran 20 kaki yang sebelumnya Rp 187.500/bok akan menjadi Rp 285.500/bok. Adapun peti kemas 40 kaki akan menjadi Rp 428.250/bok dari sebelumnya Rp 281.300/bok.

Sedangkan storage peti kemas dari sebelumnya Rp 27.200/bok/hari untuk peti kemas 20 kaki menjadi Rp 42.500/bok/hari. Adapun storage untuk peti kemas 40 kaki yang sebelumnya Rp 54.400/bok menjadi Rp 85.000/bok.

“Penyesuaian tarif tersebut hanya berlaku untuk layanan peti kemas internasional atau ekspor impor. Sedangkan untuk peti kemas domestik tidak ada penyesuaian,” ujar Arif menambahkan.

IPC mengungkapkan, penyesuaian tarif storage dan Lo-Lo itu telah melalui tahapan regulasi yang ada yakni melalui kesepakatan asosiasi penyedia dan pengguna jasa di pelabuhan Tanjung Priok dan di setujui oleh Kementerian Perhubungan.

Selain itu, pada 23 Feb 2021 dari Kemenko Maritim dan Investasi (Marvest) telah ada rekomendasi mengenai penyesuaian tarif di pelabuhan Priok itu kepada Kementerian Perhubungan. Kemudian pada 8 Maret 2021 telah terbit persetujuan Menteri Perhubungan untuk penaikan tarif tersebut.

“Dengan penyesuaian tarif  Lolo dan Storage di pelabuhan Tanjung Priok itu, IPC juga menghilangkan komponen cost recovery Rp 75.000/bok yang dalam beberapa tahun ini dibebankan kepada pemilik barang di pelabuhan Tanjung Priok,” ucap Arif.

Kemudian, tarif progresif juga hanya dikenakan maksimal 600 persen dari sebelumnya bisa mencapai 900 persen terhadap peti kemas dengan masa tiga hari penumpukan dan seterusnya.

Penyesuaian tarif Lo-Lo dan Storage di terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok itupun didasari karena sejak tahun 2008 belum pernah ada perubahan.

Respon Pebisnis

Saat dikonfirmasi logistiknews.id, Ketua Umum BPP GINSI, Capt. Subandi mengatakan pihaknya dapat memahami adanya penyesuaian tarif tersebut dengan catatan bahwa terminal tidak lagi mengutip (menghapus) biaya recovery yang Rp 75.000/bok dan tarif progresif storage yang 900% ditiadakan kecuali hanya 600%.

“GINSI memyetujui penyesuaian tarif itu namun kami juga meminta pengelola Terminal Peti Kemas di Priok harus lebih meningkatkan layanannya kepada pengguna jasa,” ucapnya, pada Rabu (7/4/2021).

Sementara itu, Adil Karim Ketua ALFI DKI Jakarta, membenarkan bahwa asosiasinya turut menandatangani persetujuan penyesuaian tarif Lo-Lo dan Storage Peti Kemas ekspor impor itu pada 2019.

“Sebelum saya menjadi Ketua ALFI DKI Jakarta (saat ALFI DKI masih dijabat Widijanto) kesepakatan itu sudah ada dan ditandatangani. Dan ALFI DKI dalam hal ini sudah menyetujuinya,” kata Adil dihubungi logistiknews.id.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.