Meski Sudah Normal, GINSI Tetap Mendesak Backup Sistem CEISA, Kenapa ?

  • Share
Capt Subandi, Ketum BPP GINSI

JAKARTA – Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) tetap mendesak adanya cadangan atau backup sistem utama pada layanan Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kemenkeu.

Ketua Umum BPP GINSI, Capt. Subandi mengemukakan, backup sistem itu sangat diperlukan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan atau trouble saat hendak dilakukannya upgrade maupun perbaikan pada sistem eleketronik layanan kepabeanan ekspor impor itu.

“Terjadinya gangguan atau trouble sistem CEISA baru-baru ini mesti menjadi pelajaran bagi Ditjen Bea dan Cukai dan Kemenkeu selaku penanggung jawab sistem layanan kepabeanan tersebut. Makanya diperlukan backup sistemnya agar tidak ada layanan yang terganggu berhari-hari jika sistem utamanya sedang dilakukan perawatan atau shutdown. Jangan sampai kejadian kemarin itu dianggap biasa dan yang perlu pemakluman saja,” ujar Cap Subandi, pada Senin (2/8/2021).

Sebagaimana diketahui, sistem CEISA Kepabeanan ekspor impor sempat mengalami down lebih dari dua pekan sejak 8 Juli 2021. Kondisi ini menyebabkan hambatan pada kegiatan ekspor impor nasional termasuk di Pelabuhan Tanjung Priok.

“CEISA memang error sejak 8-19 Juli 2021. Namun faktanya, meskipun sistem itu sempat pulih sebentar pada 19 Juli tetapi keesokannya mengalami masalah lagi hingga tanggal 24 juli 2021 lantaran Panel CBA ke Pendingin server down, sehingga pendingin mati, membuat server overheat. Ini menyebabkan malfunction simponi ke sistem MPN, koneksi ke MPN jadi off sehingga tidak dapat melayani kewajiban pembayaran layanan di Kementerian dan Lembaga (K/L),” ungkap Capt Subandi.

Dia mengemukakan, meskipun saat ini layanan pengurusan dokumen di Bea dan Cukai sudah mulai normal tetap efek yang ditimbulkan akibat shutdown sistem CEISA layanan masih dirasa hingga sekarang.

Menurutnya, peristiwa down-nya sistem CEISA maupun sistem SIMPONI di Kemenkeu harus di jadikan pelajaran agar tidak terulang lagi, karena sangat merugikan pelaku usaha impor-ekspor, baik secara materi maupun non materi termasuk tehambatnya pasokan hingga tidak terpenuhinya komitmen.

“Meskipun sekarang ini sistem tersebut sudah kembali normal, namun kerusakan sistem CEISA beberapa waktu lalu itu menimbulkan multiplier effect yang luar biasa bagi aktivitas dunia usaha nasional,” ucap Capt Subandi.(am)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.