Pelayaran Global, Mulai Jajaki Makassar New Port

  • Share
I Nyoman Sutrisna (photo:Logistiknews)

LOGISTIKNEWS.ID- Makassar New Port (MNP) terus berupaya memperluas pasar baru, khususnya untuk angkutan peti kemas internasional (ekspor impor).

Setidaknya kini sudah ada pelayaran global yakni SITC yang secara rutin dengan satu kapal menggunakan fasilitas MNP.

Terminal tersebut selama ini juga telah melayani peti kemas domestik dengan customer utama pelayaran antara lain; SPIL, Temas Line, Tanto Intim Line dan Meratus.

“Baru-baru ini ada dua pelayaran global juga yakni CMA-CGM dan Maersk Line yang visit dan menjajaki untuk melakukan kegiatan di MNP. Semuanya sedang dalam proses,” ujar Terminal Head Makassar New Port, I Nyoman Sutrisna, saat ditemui di  kantor MNP pada Kamis (6/6/2024).

Makassar New Port merupakan pelabuhan terbesar kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.

Saat ini, MNP mengelola terminal 1 (TPK Makassar)  dan terminal 2 (MNP) dengan produktivitas (throghput) peti kemas pada tahun 2023 mencapai 700 ribuan twenty foot equivalent units (TEUs).

“Sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), pada tahun 2024 ini, ditargetkan mencapai 715 ribu TEUs,”ucapnya.

Dia mengatakan, dari total throughput peti kemas saat ini, produktivitas di T1 sebanyak 60% dan T2 mencapai 40%. Adapun target jangka panjangnya (hingga 2028) semua kegiatan pengapalan peti kemas nantinya akan difokuskan ke T2 (MNP).

Makassar New Port (Photo: Akhmad Mabrori/Logistiknews.id)

Nyoman menegaskan, pihaknya juga telah menerapkan sistemisasi, digitalisasi dan standarisasi layanan kepelabuhanan yang mumpuni di MNP.

“Kami Optimistis bisa mencapai target tersebut, karena berdasarkan informasi pelaku usaha logistik (ALFI) akan ada potensi lonjakan pengapalan nikel dari Bantaeng, termasuk komoditi beras melalui pengapalan kontainer,” paparnya.

Nyoman juga mengajak Logistiknews, melihat langsung fasilitas control and planning serta container yard maupun dermaga MNP.

Kedepannya, control dan planning tower di MNP akan dikembangkan untuk mengakomodir pelabuhan-pelabuhan di seluruh Kawasan Timur Indonesia.

Ruang Planning Control MNP.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder  Indonesia (Alfi) Sulsel, Syaifuddin Saharudi– yang akrab di panggil Ipho mengatakan optimistis bahwa sejumlah komoditi di Sulsel dapat tumbuh hingga bisa memenuhi kebutuhan ekspor.

Oleh karenanya, Ipho, berharap dengan adanya MNP maka pihak Pemprov Sulsel harus benar-benar dapat menjadikan Sulsel sebagai hub Indonesia Timur untuk kelancaran distribusi logisitik.

“Harapannya kedepan MNP menjadi hub di Indonesia timur, sehingga tidak perlu lagi ke Jawa,” ujar Ipho kepada Logistiknews (6/6/2024).

Dia mengatakan, untuk mendukung MNP perlu ada sentra ekonomi yang lebih masif mendukungnya.

Sebab, dengan analisa pertumbuhan ekonomi dan penduduk di Sulsel saat ini, sejumlah komoditi kebutuhan pokok masih mesti didatangkan dari pulau Jawa.

“Namun dengan adanya MNP yang infrastrukturnya supermewah, seharusnya MNP bisa jadi hub ekspor impor. Dan ALFI mendukung untuk itu, supaya semua masuk MNP. Dengan begitu, otomatis problem kepadatan arus barang di wilayah Barat juga bisa berkurang,” ujar Ipho.

Saat ini MNP sudah menerapkan aspek safety yang terukur bahkan telah melarang sepeda motor untuk masuk ke dalan terminal, dan mesti menggunakan sutle buss untuk masuk.

Dengan panjang total dernaga mencapai 1000 meter2, MNP mengoperasikan lapangan penumpukan seluas 10 Ha, dan 6 Crane bongkar muat peti kemas.

gate Makassar New Port (Photo: Akhmad Mabrori/Logistiknew)

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan Pelabuhan Makassar New Port yang berlokasi di Jalan Sultan Abdullah Raya, Kecamatan Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan pada Kamis (22/2/2024).

Presiden mengutarakan bahwa Makassar New Port merupakan pelabuhan terbesar kedua di Indonesia setelah Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta.[redaksi@logistiknews.id]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *