LOGISTIKNEWS.ID- Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Tengah dan DIY, meyakini pertumbuhan arus barang dan petikemas melalui Terminal Petikemas Semarang (TPKS) akan terus terjadi menyusul makin tumbuhnya kepercayaan investor di wilayah tersebut.
Ketua ALFI Jawa Tengah & DIY, Teguh Arif Handoko mengemukakan, saat ini minat investor di kawasan industri Jawa Tengah seperti KIK Kendal, KITB Batang, Jateng Land, dan lainnya tumbuh sekitar 20%.
“Oleh karenananya untuk menyerap potensi perrumbuhan itu, maka pengelola pelabuhan Tanjung Emas Semarang maupun TPKS harus menambah infrastruktur, baik peralatan maupun fasilitas dermaga maupun container yard yang memadai untuk menopang kegiatan ekspor impor dan domestik,” ujar Teguh, pada Rabu (6/8/2025).
Teguh menegaskan, ALFI Jateng mendukung pertumbuhan dan kelancaran arus barang dan logistik melalui TPKS guna mendorong perekonomian Jawa Tengah maupun nasional.
Disisi lain, ALFI juga mengapresiasi berbagai pengembangan, inovasi dan upaya yang sudah dilakukan manajemen TPKS maupun Pelabuhan Tanjung Emas Semarang untuk kelancaran arus barang dan logistik di Jateng.
Apalagi pada awal 2026 direncanakan ada penambahan 4 unit alat bongkar muat petikemas atau quay container crane di TPKS.
Bahkan, ungkap Teguh, pilot project terminal booking system (TBS) yang sudah berjalan 3 tahun lalu di pelabuhan Tanjung Emas semarang juga telah berhasil berjalan baik.
“Dalam perjalanan implementasi TBS itu, selama ini ALFI Jateng dan Manajemen TPKS terus melakukan modifikasi operasional TBS sehingga program ini bisa terus berjalan dengan baik,” ucap Ketua ALFI Jateng & DIY.
Inovasi lainnya yang telah dilakukan, yakni adanya penambahan waiting area, dari sebelumnya hanya untuk 5 unit truk trailler, kini diperluas dengan kapasitas sekitar 54 truk.
Kendati begitu, Arif ALFI Jateng mendorong adanya perluasan kawasan lini 2 pelabuhan Tanjung Emas untuk buffer kontainer impor yang sudah mengantongi surat perintah pengeluaran barang atau SPPB untuk mengurangi kepadatan yard occupancy ratio (YOR) didalam pelabuhan.
Hal ini lantaran banyaknya kontainer impor yang sudah SPPB tetapi belum diambil pemilik barangnya dari container yard.
“ALFI Jateng juga memberikan apresiasi kepada manajemen TPKS yang telah dapat mengurai kepadatan arus barang dan kontainer yang sempat terjadi beberapa waktu lalu di Pelabuhan Tanjung Emas,”ujarnya.
Teguh mengakui, saat ini TPK Semarang juga mencatatkan peningkatan produktivitas bongkar muat rata-rata menjadi 41 B/S/H (box per ship per hour), meningkat dari periode sebelumnya sebesar 36 B/S/H.
“Hal ini turut mendukung kelancaran arus logistik di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang,” ucap Teguh.
Kinerja TPKS
Terminal Petikemas Semarang (TPKS), sebagai bagian dari subholding Pelindo Terminal Petikemas, mencatatkan kinerja positif selama Semester I Tahun 2025. TPKS berhasil menunjukkan tren pertumbuhan baik dalam arus peti kemas maupun efisiensi layanan terminal, sejalan dengan target strategis perusahaan.
Sepanjang Januari hingga Juni 2025, TPKS membukukan arus peti kemas sebesar 473.895 twenty foot equivalent units (TEUs), mengalami pertumbuhan 115% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan ini didorong oleh berkembangnya aktivitas ekspor-impor melalui pertumbuhan kawasan industri, dan penguatan sektor logistik serta perdagangan di wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya.
Manajemen TPKS menyampaikan, bahwa kinerja ini merupakan hasil dari konsistensi dalam peningkatan pelayanan dan investasi pada infrastruktur terminal.
Salah satu highlight dari kinerja semester ini adalah keberhasilan TPK Semarang dalam melakukan beberapa improvement terutama perbaikan operasional dan HSSE untuk meningkatkan efisiensi, keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.
Keberhasilan TPK Semarang dalam melakukan improvement diantaranya unlocking kapasitas Container Yard (CY).
Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan arus petikemas dan meningkatkan efisiensi pengelolaan lahan terminal.
Kedepan, TPK Semarang terus melakukan berbagai inovasi dan pengembangan, salah satunya dengan penambahan 4 unit QCC (Quay Container Crane) Post Panamax pada awal Tahun 2026.
Selain itu penerapan sistem waiting area juga telah dirancang untuk menunjang kelancaran arus kendaraan dan barang, sehingga seluruh kegiatan operasional di terminal dapat berjalan lebih tertib, lancar dan tepat waktu.
Manajemen TPKS juga terus berkomitmen dalam meningkatkan kualitas layanan melalui digitalisasi operasional, optimalisasi peralatan bongkar muat, serta penguatan kerja sama dengan mitra pelayaran. Hal ini terbukti mampu mendorong kinerja terminal tetap tumbuh di tengah tantangan global.
Digital Platform
Disisi layanan pelanggan, TPK Semarang juga memperkuat sistem informasi layanan dengan menerapkan integrasi teknologi berbasis digital platform, termasuk e-booking, e-tracking, dan sistem pembayaran digital, yang meningkatkan transparansi serta kenyamanan pengguna jasa.
Serta sebagai bentuk komitmen dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan para Driver, TPK Semarang menghadirkan waiting area yang aman, nyaman, dan terintegrasi dengan sistem informasi antrian. Inisiatif ini menjadi bagian dari peningkatan layanan dan dukungan terhadap operasional logistik yang lebih humanis dan efisien.
Bahkan, pada Semester II Tahun 2025, TPK Semarang akan fokus pada penguatan program Green Port dan digitalisasi end-to-end guna mendukung target transformasi Pelindo secara nasional.
TPKS juga menargetkan pertumbuhan arus petikemas sebesar 9% hingga akhir tahun 2025, serta mendorong efisiensi layanan terminal dengan waktu sandar dan waktu tunggu kapal yang lebih rendah.
Capaian ini menegaskan posisi TPK Semarang sebagai salah satu terminal petikemas strategis di Indonesia, yang terus berperan aktif dalam mendukung kelancaran logistik nasional dan meningkatkan daya saing pelabuhan Indonesia di kawasan Asia Tenggara.[am]













