Aptrindo & GINSI, Soroti Kebijakan Pembatasan Angkutan Barang Saat Nataru

  • Share
Truk Barang dan Logistik mengalami kemacetan di akses Tanjung Priok pada Kamis (17/4/2025).

LOGISTIKNEWS.ID- Pemerintah kembali menerbitkan skema pembatasan operasional angkutan barang pada saat hari libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) guna mencegah kemacetan atau peningkatan pergerakan lalu lintas selama periode itu.

Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan, mengatakan dan sekaligus berharap kebijakan pembatasan opersional angkutan barang saat Nataru itu tidak sampai mengganggu kelancaran arus barang dan logistik yang bisa berdampak pada kegiatan perekonomian nasional.

“Jangan sampai terjadi lagi peristiwa macet horor seperti beberapa waktu lalu di Tanjung Priok. Sebab, pembatasan operasional truk atau angkutan barang yang terlalu lama akan berdampak terhadap kebutuhan masyarakat dan perekonomian,” ujarnya melalui keterangannya yang diterima Logistiknews.id pada Kamis (4/12/2025).

Dia mengatakan, Aptrindo telah menerima informasi adanya kebijakan pembatasan operasional angkutan barang saat Nataru sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Bersama atau SKB Nomor: KP – DRJD 6064 Tahun 2025, HK.201/11/19/DJPL/2025, 104/KPTS/Db/2025, Kep/230/XI/2025.

SKB itu ditandatangani oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat Aan Suhanan, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud, Direktur Jenderal Bina Marga Roy Rizali Anwar, dan Kepala Korps Lalu Lintas Kepolisian Irjen Pol Agus Suryonugroho.

Dalam beleid itu disebutkan bahwa pembatasan kendaraan angkutan barang dilakukan pada mobil barang dengan sumbu 3 atau lebih, mobil barang dengan kereta tempelan, kereta gandengan, serta mobil barang yang mengangkut hasil galian, hasil tambang dan bahan bangunan.

Sedangkan untuk angkutan barang yang dikecualikan dari pembatasan atau tetap bisa beroperasi yaitu yang mengangkut BBM/BBG, hantaran uang, hewan dan pakan ternak, pupuk, penanganan bencana alam, sepeda motor gratis dan barang kebutuhan pokok.

Namun kendaraan tersebut harus dilengkapi dengan surat muatan dengan beberapa ketentuan, yakni diterbitkan oleh pemilik barang yang diangkut, surat muatan yang berisi keterangan jenis barang, tujuan, dan nama serta alamat pemilik barang. Terakhir, ditempelkan pada kaca depan sebelah kiri angkutan barang.

Ketum DPP Aptrindo, Gemilang Tarigan. (Photo:Logistiknews.id)

Aptrindo menilai beleid tersebut terkesan tidak mau belajar dari pengalaman macet Horor di pelabuhan Tanjung Priok, beberapa waktu lalu.

Sebab, kata Gemilang, jika jalan tol terus menerus ditutup (dari jam 00 s/d 24) dihari tersebut sedangkan jalan arteri dibuka hanya dari jam 10 malam hingga jam 5 pagi, maka bakal ada potensi kemacetan pergerakan angkutan barang dan logistik.

“Logikanya, kalau pembatasan jalan arteri mulai jam 5.00 pagi sampai pukul 22.00 malam dimana angkutan dapat berjalan mulai jam 22.00 sampai jam 5 pagi hari, saat pabrik dan pergudangan sudah tutup,” ucap Gemilang.

Respon Pemilik Barang

Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Capt Subandi, juga menyoroti rasa keadilan terkait adanya pembatasan operasional angkutan barang selama Nataru.

Menurut Subandi, rasa adil itu bukan harus sama. Karenanya, libur Nataru harusnya berbeda dengan libur Lebaran sebab yang merayakan Natal tidak sebanyak yang merayakan Lebaran.

Saat momen Lebaran, imbuhnya, banyak yang merayakanya dengan pulang kampung lantaran kantor dan tempat kerja begitu juga pabrik libur, sehingga jalanan padat dan macet terutama di akses timur jakarta dan sebagian ke barat ( arah merak ). Tetapi tidak demikian kondisinya saat Nataru.

Capt Subandi juga mengingatkan, jangan sampai adanya skema pembatasan opersional angkutan barang saat Nataru, justru memberikan celah pungli terhadap oknum petugas dilapangan karena armada angkutan barang terutama yang dari dan ke pelabuhan harus ada tambahan biaya kawalan jika ingin barang dari dan ke pelabuhan tetap terkirim ke tujuan selama libur Nataru.

Pemerintah harus berupaya meniadakan biaya-biaya yang semestinya tidak ada yang terkait biaya logistik dan juga arus barang tetap lancar agar pabrik-pabrik tetap berproduksi, sopir tetap bekerja dan pekerja harian dapat penghasilan.

“Prinsipnya, kita tidak menolak (pengaturan) jika memang kondisinya tidak memungkinkan mobil angkutan barang terhenti karena jalanan sedang di gunakan masyarakat mudik, tapi jangan sampai jalanan lengang tetapi angkutan barang tidak boleh melintas akibat pembatasan. Apalagi, jika mau melintas ada biaya kawalan yang sudah pasti ada cost nya, dan jika melanggar truk bisa di tahan dan tidak boleh jalan,” ucap Ketum GINSI.

Ketua Umum BPP GINSI, Capt Subandi.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan menuturkan selama periode libur Nataru diprediksi akan ada peningkatan pergerakan masyarakat utamanya pada tanggal 20 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Untuk itu antisipasi kepadatan lalu lintas perlu dilakukan.

“Maka diperlukan suatu pengaturan agar meningkatkan aspek keselamatan dan kelancaran di jalan,” ungkanya kepada wartawan.

Jadwal Pembatasan

Pembatasan kendaraan angkutan barang di ruas jalan tol diberlakukan mulai tanggal 19 Desember 2025 pukul 00.00 – 20 Desember 2025 pukul 24.00 waktu setempat. Kemudian diberlakukan kembali pada tanggal 23 Desember 2024 hingga 28 Desember 2025 pukul 00.00 sampai pukul 24.00 waktu setempat.

Kemudian, pada periode tahun baru 2026 akan dilaksanakan kembali pembatasan pada tanggal 2 Januari 2026 hingga 4 Januari 2026 pukul 00.00 hingga 24.00 waktu setempat.

Sementara itu untuk pembatasan operasional angkutan barang di ruas jalan non tol berlaku mulai tanggal 19 Desember 2025 hingga 20 Desember 2025 pukul 00.00 sampai 22.00 waktu setempat. Dilanjutkan kembali pada tanggal 23 Desember 2025 hingga 28 Desember 2025 mulai pukul 05.00 – 22.00 waktu setempat.

Kemudian pada momentum tahun baru dilakukan pembatasan mulai tanggal 2 Januari 2026 hingga 4 Januari 2026 mulai pukul 05.00 hingga 22.00 waktu setempat.

Berikut Pengaturan Daftar Ruas Jalan:
Jalan Tol
1. Lampung dan Sumatera Selatan: Bakauheni-Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung – Palembang.
2. DKI Jakarta – Banten: Jakarta – Tangerang- Merak.
3. DKI Jakarta:
a) Prof. DR. Ir. Sedyatmo;
b) Jakarta Outer Ring Road (JORR); dan
c) Dalam Kota Jakarta:
Cawang – Tomang – Pluit
Cawang – Tanjung Priok – Ancol Timur – Jembatan Tiga/Pluit
4. DKI Jakarta dan Jawa Barat:
a) Jakarta – Bogor – Ciawi;
b) Ciawi – Cigombong – Cibadak;
c) Bekasi – Cawang – Kampung Melayu; dan
d) Jakarta – Cikampek.
5. Jawa Barat:
a) Cikampek – Purwakarta – Padalarang – Cileunyi;
b) Cikampek – Palimanan – Kanci – Pejagan;
c) Jakarta – Cikampek II Selatan segmen Sadang – Bojongmangu (Fungsional).
d) Cileunyi – Sumedang – Dawuan;
e) Bogor Ring Road (BORR).
6. Jawa Tengah:
a) Pejagan – Pemalang – Batang – Semarang;
b) Krapyak – Jatingaleh, (Semarang);
c) Jatingaleh – Srondol, (Semarang);
d) Jatingaleh – Muktiharjo, (Semarang);
e) Semarang – Solo – Ngawi;
f) Semarang – Demak; dan
g) Yogyakarta – Solo segmen Kartasura – Klaten – Prambanan.
7. Jawa Timur:
a) Surabaya – Gempol;
b) Gempok – Pandaan – Malang;
c) Surabaya – Gresik;
d) Gempol – Pasuruan – Probolinggo;
e) Probolinggo – Banyuwangi segmen SS Gending – Paiton (Fungsional).

Jalan Non Tol
1. Sumatera Utara:
a) Bts. Provinsi Aceh – Tanjung Pura – Stabat – Binjai – Medan – Lubuk Pakam – Sei Rampah;
b) Sei Rampah – Tebing Tinggi – Lima Puluh – Kisaran – Aek Kanopan – Rantauprapat – Kota Pinang – Bts Riau;
c) Medan – Berastagi; dan
d) Pematang Siantar – Parapat Simalungun – Porsea.
2. Riau :
a) Bts. Sumatera Utara/Riau – Pekanbaru – Bts. Riau/Jambi; dan
b) Pekanbaru – Bangkinang – Bts. Riau/Sumatera Barat.
3. Jambi dan Sumatera Barat:
a) Jambi – Tebo – Dharmasraya – Padang;
b) Padang – Bukit Tinggi – Bts. Riau/Sumatera Barat; dan
c) Bts. Riau/Jambi – Jambi – Bts. Jambi/Sumsel.
4. Jambi – Sumatera Selatan – Lampung:
a) Bts. Jambi/Sumsel – Palembang – Bts. Sumsel/ Lampung – Bujung Tenuk – Bandar Lampung – Bakauheni; dan
b) Bts. Jambi/Sumsel – Palembang – Bts. Sumsel/Lampung – Bujung Tenuk – Sukadana – Bakauheni.
5. DKI Jakarta – Banten: Jakarta – Tangerang – Serang – Cilegon – Merak.
6. Banten:
a) Merak – Cilegon – Lingkar Selatan Cilegon – Anyer – Labuhan;
b) Jalan Raya Merdeka – Jalan Raya Gatot Subroto; dan
c) Serang – Pandeglang – Labuhan.
7. DKI Jakarta – Jawa Barat: Jakarta – Bekasi – Cikampek – Pamanukan – Cirebon.
8. Jawa Barat:
a) Bandung – Nagreg – Tasikmalaya – Ciamis – Banjar;
b) Nagreg – Kadungora – Leles – Garut;
c) Bandung – Sumedang – Majalengka – Cirebon;
d) Bogor – Ciawi – Sukabumi – Cianjur – Bandung;
e) Padalarang – Gadog – Bangkong – Cimahi;
f) Karawang – Subang – Indramayu – Cirebon;
g) Sukabumi – Pelabuhan Ratu – Jampang – Cianjur – Garut – Tasikmalaya – Pangandaran – Banjar; dan
h) Subang – Lembang – Bandung.
9. Jawa Barat – Jawa Tengah: Cirebon – Brebes.
10. Jawa Tengah:
a) Brebes – Tegal – Pemalang – Pekalongan – Batang – Kendal – Semarang – Demak;
b) Tegal – Purwokerto;
c) Bawen – Magelang – Yogyakarta; dan
d) Solo – Klaten – Yogyakarta.
11. Jawa Tengah – Jawa Timur: Solo – Ngawi.
12. Yogyakarta:
a) Yogyakarta – Wates;
b) Yogyakarta – Sleman – Magelang;
c) Yogyakarta – Wonosari; dan
d) Jalur Jalan Lintas Selatan (jalan Daendeles).
13. Jawa Timur:
a) Pandaan – Malang;
b) Probolinggo – Lumajang;
c) Madiun – Caruban – Jombang; dan
d) Banyuwangi – Jember.
14. Bali: Denpasar – Gilimanuk.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *