GINSI Apresiasi Kinerja Kemenperin

  • Share
Erwin Taufan (kanan) bersama Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya N. Bakrie.[photo:dok Logistiknews.id]

LOGISTIKNEWS.ID- Pelaku usaha menilai peran Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebagai lembaga pemerintah yang memiliki tanggung jawab utama dalam menangani urusan di bidang perindustrian, selama ini sudah cukup dirasakan maksimal oleh stakeholders.

“Sebagai Kementerian yang memainkan peran krusial dalam merumuskan, menetapkan, dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan sektor industri nasional. Kemenperin tidak hanya berfokus pada pengembangan industri besar, tetapi juga memberikan perhatian khusus pada pembinaan dan pengembangan industri kecil dan menengah (IKM),” ujar Wakil Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Erwin Taufan, melalui keterangan resminya pada Rabu (11/3/2026).

Kendati begitu, imbuhnya, sebagai pelaku usaha di bidang importasi, Taufan berharap harmonisasi antar Kementerian dan Asosiasi Pelaku Usaha perlu terus ditingkatkan terutama dalam hal perumusan kebijakan guna mewujudkan pengembangan sektor industri nasional dan mendorong daya saing.

Kemenperin juga berperan penting dalam mendorong inovasi dan penerapan teknologi di sektor industri, termasuk upaya-upaya untuk mengadopsi konsep Industri terkini yang melibatkan digitalisasi dan otomatisasi proses industri. Tujuannya adalah untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing industri Indonesia di kancah global.

“Pelaku usaha juga merasakan bahwa selama ini Kemenperin telah aktif dalam mempromosikan produk-produk industri Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional, serta menjaga kestabilan ekonomi di dalam negeri,” ucap Taufan.

Berdasarkan data Kemenperin, bahwa memasuki tahun 2026, kinerja industri nasional masih berada pada fase ekspansi yang tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang berada pada level 54,02.

“Kondisi ini menandakan optimisme pelaku industri dalam meningkatkan produksi, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri,” jelas Taufan.

Adapun sektor industri agro masih menjadi tulang punggung industri pengolahan nasional. Pada tahun 2025, sektor tersebut memberikan kontribusi sebesar 52,09 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri nonmigas dan 9,00 persen terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 4,95 persen.

Dari sisi perdagangan luar negeri, industri agro mencatat nilai ekspor sebesar USD 78,77 miliar dan impor USD 21,19 miliar, sehingga menghasilkan neraca dagang positif sebesar USD 57,58 miliar.

Untuk memperkuat struktur industri agro, pemerintah terus menjalankan kebijakan hilirisasi berbasis sumber daya alam dalam negeri.

Program tersebut dilakukan dengan mengintegrasikan sektor hulu dan hilir dalam satu ekosistem industri yang saling terhubung, sehingga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Strategi ini diproyeksikan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas hingga ratusan kali lipat dibandingkan dengan penjualan bahan mentah.[am]

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *