LOGISTIKNEWS.ID- Pelaku usaha merespon pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa aktivitas ekspor impor selama triwulan pertama tahun ini (Januari – Maret 2026) masih alami pertumbuhan.
Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) DKI Jakarta, Irwandy MA Rajabasa mengungkapkan, meskipun terdapat ketidakpastian ekonomi akibat geopolitik global, namun aktivitas ekspor masih berjalan khususnya untuk komoditi pengolahan ke sejumlah negara.
“Ya memang benar masih ada pertumbuhan (ekspor) meskipun data GPEI juga menyebtkan tidak signifikan jumlahnya. Hal ini lantaran kondisi geopolitik global. Jadi tidak semuanya komoditi ekspor itu terpuruk, ada juga perusahaan eksportir anggota kami yang masih tetap ekspor,” ujar Irwandy, saat dikonfirmasi Logistiknews.id pada Selasa (5/5/2026) mengenai perkembangan data yang dirilis BPS itu.
Sebagai pelaku usaha ekspor, diapun berharap ketegangan atas kondisi geopolitik global saat ini bisa segera berakhir sehingga geliat bisnis maupun UMKM didalam negeri juga bisa tetap berjalan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Menurut kami data yang disampaikan BPS itu cukup valid mewakili situasi pelaku ekspor saat sekarang ini,” ucap Irwandy.
BPS mencatat bahwa pada periode Januari-Maret 2026, kinerja ekspor naik tipis 0,34% menjadi US$ 66,85 miliar atau Rp 1.162,4 triliun (kurs Rp 17.390/US$). Di sisi lain, impor melonjak 10,05% menjadi US$ 61,3 miliar atau Rp 1.065,9 triliun.
Menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono, kesenjangan pertumbuhan ekspor dan impor ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan domestik, baik untuk konsumsi maupun bahan baku dan barang modal. Meski begitu, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan kinerja positif.
Dia mengatakan, sektor industri pengolahan menjadi pendorong dengan pertumbuhan nilai ekspor 3,96% menjadi US$ 54,98 miliar atau Rp 956,05 triliun.
BPS mencatat tiga negara pasar utama ekspor nonmigas Indonesia, yaitu Cina, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini sekitar 44,48% dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Maret 2026.
Adapun Cina masih menjadi pasar ekspor utama dengan nilai mencapai US$ 16,50 miliar (25,94%), diikuti oleh Amerika Serikat US$ 7,29 miliar (11,46%), dan India US$ 4,50 miliar (7,08%).
Sedangkan ekspor nonmigas ke Cina pada periode Januari-Maret 2026 didominasi oleh komoditas besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.
Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorinya.[am]













