LOGISTIKNEWS.ID- Dua unit alat bongkar muat jenis gantry lufting crane (GLC) sedang melakukan bongkar muat petikemas di dermaga 4 Terminal Peti Kemas yang dikelola operasikan IPC TPK Teluk Bayur, saat Logistiknews.id mengunjungi pelabuhan tersibuk di Padang, Sumatera Barat (Sumbar) itu.
Waktu masih menunjukkan pukul 10.00 Wib, saat dua alat bongkar muat petikemas yakni GLC 3 dan GLC 4 itu secara teratur dari kapal Tanto Langgeng Jakarta dengan nomor International Maritime Organization (IMO) 9795353.
Kapal yang sandar pada Rabu 29 Juli 2026 pukul 23.00 Wib dan direncanakan selesai dilayani pada Kamis 30 Juli 2026 pukul 16.00 Wib di dermaga IPC TPK Teluk Bayur itu, melakukan bongkar petikemas 159 twenty foot equivalent units (TEUs) dan muat-nya 169 TEUs.
Namun ditengah dinamika pergerakan petikemas melalui pelabuhan Teluk Bayur, masih ada tantangan tersendiri terhadap kelancaran operasional di Terminal Petikemas lantaran armada truk trailer yang melayani receiving dan delivery (R/D) petikemas kini terimbas antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) Solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum/SPBU.
“Berdasarkan informasi yang kami peroleh, pihak trucking kini sulit isi BBM Solar, sehingga operasionalnya terbatas untuk R/D. Makanya kalau container yard saat ini nampak penuh, namun masih terkendali dan cukup terkontrol,” ujar Terminal Head IPC TPK Teluk Bayur, Erika Sudarto saat ditemui Logistiknews.id di kantornya pada Kamis (30/7/2026).
Dia menjelaskan, saat ini sekitar 90% pergerakan petikemas melalui TPK Teluk Bayur merupakan rute domestik, dan sisanya merupakan angkutan ekspor impor yang di angkut lanjut ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
Adapun market share pelayaran domestik via IPC TPK Teluk Bayur yakni Meratus Line dengan 4-5 kapal perbulan, Tanto Intim Line 4-5 kapal/bulan Salam Pacific Indonesia Line (SPIL) 6 kapal/bulan, Tempuran Emas (Temas Line) 4 kapal/bulan, dan kegiatan Tol Laut 1 kapal perbulan.

Erika juga optimistis, bahwa IPC TPK dapat mencapai target pertumbuhan produktivitas atau throughput bongkar muat peti kemas di tahun 2026 sebagaimana yang telah ditargetkan 114 ribuan TEUs.
“Bahkan produktivitas pada periode Juli 2026 saja, trend-nya alami pertumbuhan dimana target awalnya 6.800 TEUs, namun hingga akhir Juli ini sudah mencapai 11.500 TEUs,” ucapnya.
Erika mengungkapkan, pihaknya juga telah mengusulkan kepada kantor Pusat Pelindo untuk melakukan tambahan investasi Side Loader dan Reach Stacker (masing-masing 1 unit) guna melengkapi peralatan pendukung bongkar muat petikemas pada 2027 sehingga rasionya lebih ideal di lapangan.

Ketua DPC Indonesia National Shipowners Association (INSA) Sumatera Barat, Dodi Andrius mengatakan, pelaku usaha pelayaran berharap pengelola TPK Teluk Bayur dapat terus menambah alat bongkar muat petikemas seiring pertumbuhan arus petikemas melalui pelabuhan tersebut saat ini.
“Kalau bisa kami usulkan investasi peralatannya diperbanyak agar layanan operasional di TPK lebih efisien lagi ,” ungkap Dodi, saat ditemui pada Kamis siang (30/7/2026).
Dia juga mengungkapkan bahwa selama ini harmonisasi operator pelabuhan dengan pelaku usaha di Teluk Bayur terjalin komunikasi yang baik.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) ALFI (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia) Sumatera Barat, Rifdial Zakir, mengatakan saat ini truk logistik terpaksa harus antre mengisi Solar bersubsidi, bahkan ada yang sampai antre hingga dua hari.
“Fenomena antrean bahan bakar minyak jenis Solar terhadap truk pengangkut barang di SPBU ini menyebabkan pergerakan logistik termasuk dari dan ke pelabuhan Teluk Bayur terdampak,” ungkapnya kepada Logistiknews.id, pada Kamis Siang (30/7/2026).
Dia juga mengatakan, ALFI Sumbar telah menyampaikan permasalahan antrean memperoleh BBM jenis Solar bagi truk logistik tersebut kepada Pemerintah Daerah setempat bahkan hingga ke DPR-RI.
“Berdasarkan laporan anggota kami (ALFI Sumbar) bahwa kondisi antrean truk logistik di SPBU yang ada di Sumbar ini sudah terjadi sejak awal tahun ini, namun hingga sekarang belum ada solusinya,” ucap Ketum ALFI Sumbar,” papar Rifdial.
Komitmen SLA/SLG
Baru-baru ini, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) juga telah melakukan penandatanganan kontrak Berthing Window, Service Level Agreement (SLA), dan Service Level Guarantee (SLG) tahun 2026 untuk IPC TPK Teluk Bayur dengan PT Meratus Line, PT Tanto Intim Line, PT Salam Pacific Indonesia Lines (SPIL), dan PT Temas Shipping.
Hal ini merupakan langkah konkret perusahaan untuk memberikan kepastian layanan yang optimal bagi para pengguna jasa strategis dan sebagai upaya untuk mempererat hubungan operator terminal dan pengguna jasa, yang bermuara pada pemenuhan ekspektasi pelayanan yang diharapkan pengguna jasa.
Kolaborasi ini juga diharapkan mampu mengoptimalkan produktivitas bongkar muat dan memberikan kepastian operasional yang lebih terukur bagi kapal-kapal kontainer yang bersandar di Sumatera Barat.[am]













