LOGISTIKNEWS.ID- Arus peti kemas internasional pada periode Januari-Juli 2026 melalui Terminal Petikemas Surabaya (TPS) tercatat 807 ribu twenty foot equivalent units (TEUs) atau turun 6,94% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 867 ribu TEUs.
Secara total, arus peti kemas-baik domestik maupun internasional, juga turun 8,59% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dari 908 ribu TEUs menjadi 830 ribu TEUS.
Manajemen TPS mengungkapkan, penurunan throughput secara year-on-year (YoY) pada periode itu merupakan konsekwensi proses transisi dan integrasi peralatan baru, yaitu 4 unit Electric Quay Container Crane (E-QCC) dan 14 unit Electric Rubber Tyred Gantry (E-RTG).
Pasalnya, proses instalasi, pengujian dan adaptasi operasional memerlukan waktu agar produktivitas secara bertahap sampai pada titik optimal.
Pengoperasian alat baru selaras dengan optimalnya pengoperasian alat eksisting, didukung dengan sumber daya pendukung yang handal akan dapat meningkatkan kapasitas dan kinerja operasional secara berkelanjutan pada periode mendatang.
Perbandingan arus peti kemas antara ekspor dan impor sepanjang Januari-Juli 2026 adalah 49% (400 ribu TEUs) untuk petikemas ekspor dan 51% (407 ribu TEUs) untuk peti kemas impor.
Dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025, arus peti kemas ekspor impor tahun 2026 untuk persentase perbandingan tidak mengalami perubahan. Persentase ekspor 49% di tahun 2025 merupakan kontribusi arus peti kemas sebanyak 428 ribu TEUs. Sedangkan 51% arus peti kemas impor pada Januari-Juli tercatat sebanyak 439 ribu TEUs.
Dari sisi produktivitas, TPS mencatatkan rata-rata kinerja bongkar muat sebesar 51 box/ship/hour selama dua bulan pertama tahun 2026, melebihi standar minimum yang ditetapkan Kementerian Perhubungan melalui KSOP Utama Tanjung Perak, yaitu 48 box/ship/hour.
Selain itu, TPS berhasil mempertahankan posisi dominan di pasar peti kemas internasional dengan penguasaan pangsa pasar (market share) sebesar 83% di Pelabuhan Tanjung Perak.
Naik 11,79% Pada Juli 2026
Namun, PT Terminal Petikemas Surabaya (TPS) juga mengumumkan pertumbuhan arus peti kemas sebesar 11,79% pada bulan Juli 2026 dibandingkan bulan sebelumnya (month-on-month).
Volume peti kemas meningkat dari 116 ribu Twenty-foot Equivalent Units (TEUs) di bulan Juni menjadi 130 ribu TEUs pada bulan Juli. Kinerja positif di Juli 2026 didorong sepenuhnya oleh kontribusi arus peti kemas internasional. Sebagai perbandingan, pada Juni 2026 arus peti kemas internasional mencapai 116 ribu TEUs.
Menurut Sekretaris Perusahaan TPS, Erika A. Palupi, bahwa pertumbuhan arus peti kemas sebesar 11,79% pada Juli 2026 menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan melalui TPS terus bergerak positif. Kenaikan ini terutama ditopang oleh peti kemas internasional, baik ekspor maupun impor, yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan pelaku usaha terhadap layanan dan kapasitas operasional TPS.
“TPS berkomitmen untuk terus menjaga kinerja operasional yang andal, aman dan berkelanjutan. Dengan produktivitas bongkar muat yang tetap berada di atas standar yang ditetapkan regulator serta penguasaan pangsa pasar internasional sebesar 83% di Pelabuhan Tanjung Perak, kami akan terus mendukung kelancaran rantai logistik nasional dan pertumbuhan perdagangan Indonesia,” ungkapnya melalui keterangan pers-nya pada Sabtu (8/8/2026).
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Timur, Boy G. Rahman, menyampaikan bahwa peningkatan arus peti kemas ekspor pada Juli 2026 sebesar 20,54% dibandingkan bulan sebelumnya merupakan sinyal positif bagi sektor ekspor nasional, khususnya dari Jawa Timur dan kawasan Indonesia Timur.
Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan pasar internasional terhadap produk ekspor Indonesia masih cukup terjaga, di tengah berbagai tantangan ekonomi global yang masih berlangsung.
GPEI Jatim juga mengapresiasi upaya TPS dalam menjaga kelancaran arus logistik dan melakukan modernisasi peralatan terminal. Langkah tersebut sangat penting untuk meningkatkan daya saing pelabuhan serta memberikan kepastian layanan bagi eksportir.
“Ke depan, sinergi antara operator pelabuhan, pelaku usaha dan pemerintah perlu terus diperkuat agar momentum pertumbuhan ekspor dapat terus berlanjut dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional,” ujarnya.[am]













