LOGISTIKNEWS.ID- Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Capt Subandi, kembali mempertanyakan kenapa kebijakan normalisasi gate pass di pelabuhan Tanjung Priok tidak segera dilakukan, dan untuk alasan apa yang biasanya kuota gate pass maupun receiving delivery bisa 100%, namun sekarang ini hanya 75%.
Pasalnya, kata Subandi, saat ini kemacetan keluar dan masuk pelabuhan Tanjung Priok juga tidak terjadi, bahkan rata-rata tingkat isian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio atau YOR di lini satu pelabuhan tersibuk di Indonesia itu juga rendah dan relatif aman.
“Kecuali alasan menumpuk kontainer supaya lebih lama timbun di lapangan lini satu pelabuhan sehingga menambah pendapatan dari storage akibat kontainer yang sudah diatas 3 hari pun banyak,” ujarnya kepada Logistiknews.id, pada Kamis (16/4/2026).
Kondisi tersebut, imbuhnya, tidak sejalan dengan program Pemerintah agar memperpendek dwelling time (lamanya waktu pengeluaran barang) di pelabuhan untuk menurunkan biaya logistik.
Saat dikonfirmasi hal ini,Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Priok menegaskan, bahwa pada prinsipnya instansi tersebut menunggu permohonan pengelola terminal peti kemas jika dirasakan perlu tambahan terhadap kuota gate pass saat ini yang hanya 75%.
“Bisa kok ditambahkan dari setiap terminal kekurangan yang 25% itu. Pada prinsipnya kami menunggu permohonnanya (dari masing-masing terminal,” ujar Kepala KSOP Tanjung Priok Heru Susanto, saat dikonfirmasi Logistiknews.id, pada Kamis (16/4/2026).
Dia juga menegaskan, normalisasi gate pass ataupun parameter harian receiving dan delivery (R/D) di Pelabuhan Tanjung Priok akan kembali dilakukan pada 19 April 2026.
Berdasarkan data yang dihimpun Logistiknews.id, pada Kamis pagi (16/4/2026), dijadwalkan ada 3 kapal di Jakarta International Container Terminal (JICT) dengan muatan bongkar 1.513 bok dan muat 1.857 bok.
Sedangkan di Terminal Peti Kemas (TPK) Koja dijadwalkan ada 1 kapal dengan muat 803 bok, serta New Priok Container Terminal One (NPCT-1) ada 3 kapal dengan bongkar 1.487 bok dan muat 2.228 bok.
Adapun rerata tingkat isian lapangan penumpukan atau yard occupancy ratio (YOR) di JICT saat ini mencapai 53%, TPK Koja 55% dan NPCT-1 mencapai 57%.
Sementara itu, jumlah kontainer longstay atau yang telah melewati batas waktu penumpukan lebih dari 30 hari di JICT sebanyak 437 bok dan yang menumpuk lebih dari 3 hari mencapai 3.387 bok.
Adapun kontainer longstay yang lebih dari 30 hari di TPK Koja sebanyak 132 bok, dan yang menumpuk lebih dari 3 hari 1.382 bok.
Sedangkan di NPCT-1 kontainer longstay yang lebih dari 30 hari sebanyak 550 bok, dan yang menumpuk lebih dari 3 hari 1.772 bok.
Berdasarkan data tersebut parameter receiving dan delivery (R/D) harian di JICT, TPK Koja dan NPCT-1 sampai per hari ini tercatat hanya 75%, dimana JICT hanya 3.375 bok/hari, TPK Koja 1.500 bok/hari dan NPCT-1 hanya 2.100 bok/hari.
Padahal sebelumnya, parameter R/D harian di JICT sebanyak 4.500 bok/hari, TPK Koja 2.000 bok/hari dan NPCT-1 sebanyak 2.800 bok/hari.[am]













