Sislognas, Ini Capaian & Evaluasinya

  • Share

JAKARTA – Pemerintah telah menginventarisir sejumlah capaian dari cetak biru sistem logistik nasional (Sislognas). Kendati begitu juga masih terdapat evaluasi terhadap implementasi Sislognas tersebut.

Hal tersebut mengemuka dalam acara Fokus Group Discussion (FGD) Arah Kebijakan Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas) Kedepan, yang dilaksanakan secara virtual pada Jumat (26/3/2021).

FGD tersebut dimoderatori oleh Asisten Deputy Pengembangan Logistik Nasional Menko Perekonomian, Erwin Raza.

Dalam pengantar diskusi, Erwin Raza juga mempertegas kembali bagaimana arah kebijakan Sislognas nasional serta bagaimana meningkatkan daya saing nasional demi kepentingan seluruh masyarakat Indonesia.

Meskipun terdapat kemajuan yang berarti dari implementasi Sislognas tetapi impaknya relatif belum signifikan.

“Hal ini ditandai antara lain dengan belum menurunnya biaya logistik nasional yakni masih sekitar 24% dari produk domestik bruto (PDB). Selain itu masih ada gap ketidakseimbangan flow of goods masih besar,” ujarnya.

Selain itu, belum ada tools secara organisasional untuk mengevaluasi implementasi Sislognas.Sehingga tidak ada evaluasi terhadap capaian dan eksekusi program kementerian dan lembaga (K/L) yang terkait dengan Sislognas.

Erwin juga menyampaikan adanya usulan untuk menaikkan payung hukum Sislognas menjadi Undang-Undang dan pembentukan Kelembagaan Logistik Nasional. “Sistem National Logistic Ecosystem (NLE) juga diharapkan dapat memicu perbaikan sektor logistik nasional kedepan,” paparnya.

Sedangkan sejumlah capaian Sislognas antara lain; terbitnya Perpres No 71 tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting yang sudah diubah dengan Perpres No:59 tahun 2020.

Selain itu, sampai dengan akhir tahun 2019, terdapat 46 proyek strategis nasional (PSN) telah dibangun meliputi jalan tol, bandara, pelabuhan, bendungan, pembangkit listrik dan rel Kereta Api dengan investasi mencapai Rp.159 Triliun.

Capaian lainnya, sampai dengan 1 Februari 2021,telah ada 187 Pusat Logistik Berikat di 187 lokasi.

Indikator kinerja logistik yang membaik juga bisa dilihat dari dwelling time di pelabuhan yang semakin baik yakni pada Februari 2021 hanya 2,68 hari

Pada kesempatan yang sama, Direktur Perdagangan Investasi dan Kerjasama Ekonomi Internasional Kementerian PPN/Bapenas, Laksmi Kusumawati, Logistik merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong perkembangan perekonomian.

Dia memaparkan bagaimana Pandemi Covid 19 telah memengaruhi kondisi bisnis dan kegiatan logistik di Indonesia maupun secara global.

“Pandemi Covid 19 telah memberikan tekanan terhadap semua kegiatan bisnis termasuk dampaknya pada mobilitas masyarakat maupun barang,” ujarnya.

Dia berharap dengan adanya vaksinasi yang sedang dilaksanakan saat ini diharapkan bisa mengembalikan keadaan perekonomian menjadi pulih kembali.

“Sektor transportasi dan pergudangan di dalam negeri terkontraksi sangat tajam akibat Pandemi Covid-19 yakni sebesar 15,4 persen,” ujarnya.

Laksmi juga menyoroti hingga saat ini belum ada Lembaga Logistik di Indonesia yang bisa mensinergikan antar stakeholders di sektor logistik nasional.

Ketua Umum Institut Supply Chain dan Logistik Indonesia (ISLI) Nyoman Pujawan, menyoroti antara lain bahwa Sislognas harus lebih fokus mengakomodir balancing volume muatan dari suatu komoditi.

“Kalau kita mau memperbaiki logistik tidak hanya cukup di internal saja, tetapi yang punya barang/komoditi itu siapa. Nah balancing volume barang itu penting. Jadi kita tidak bisa hanya bicara pelabuhan,kapal, truk saja tetapi barangnya ada apa tidak ?. Kita punya persoalan di balancing volume dan geografis trade itu,” ucapnya.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.