Buffer Terbatas Biaya Logistik Meroket, Apa Solusinya ?

  • Share

JAKARTA – Tingginya komponen biaya logistik nasional menjadi persoalan serius yang hingga kini disebabkan berbagai faktor.

Menurut Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan, persoalan kesemerawutan logistik yang sesungguhnya itu berasal dari keterbatasan fasilitas pendukung atau buffer di luar pelabuhan.

Diapun mengilustrasikan terhadap kegiatan di pelabuhan Tanjung Priok. Sebagai pelabuhan yang melayani lebih dari 65% aktivitas ekspor impor maupun antarpulau, buffer atau areal pendukung kegiatan di luar pelabuhan Priok tidak sebanding dengan pertumbuhan arus barang yang terjadi di dalam pelabuhan tersebut.

Padahal, imbuh Gemilang, dengan dikeluarkan depo kontainer keluar pelabuhan maka setiap pertambahan satu unit kontainer dipelabuhan memerlukan dua fasilitas diluar pelabuhan yaitu depo dan garasi truk.

Disisi lain, jumlah pergerakan truk ekspor impor memerlukan 20 gerakan mulai dari garasi truk-depo-gate pelabuhan-pabrik dan sebaliknya sehingga kemacetan tidak dapat dihindari.

“Namun dari jumlah gerakan Truk itu, ada 18 gerakan adalah mengangkut petikemas kosong akibatnya cost logistik tinggi,” ujarnya, kepada logistiknews.id, pada Senin (26/4/2021).

Oleh sebab itu, Aptrindo menyampaikan enam usulan untuk mengatasi kesemerawutan dan kemacetan angkutan logistik dari dan ke pelabuhan Priok.

Pertama, perlu dibuat lahan buffer area truk di wilayah Timur, yang terkoneksi dengan IT semua terminal di dalam lini satu pelabuhan Priok.

Kedua, mengupayakan supaya pool truck dan garasi berada dalam satu Kawasan.

Ketiga, segera menerapkan sistem IT (Single Truck Identity Document /TID, maupun Terminal Booking System & return cargo).

Keempat , agar disiapkan akses tol langsung ke Pelabuhan, dengan meninjau kembali kebijakan dweling time dan window time yang beroerientasi ahir pekan khususnya kapal yg direct.

Kelima, pihak terkait agar mencabut pembatasan waktu operasional Trucking dijalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) ke Cikampek.

Keenam, menerapkan Standard Pelayanan Minimum sesuai PM 60 tahun 2019 Tentang penyelenggaraan angkutan barang dengan kendaraan bermotor dijalan, berkaitan dengan usia kendaraan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pertengahan April 2021 menyebutkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada Maret 2021 mencapai US$18,35 miliar atau naik 20,31 persen dibanding Februari 2021 dan naik 30,47 persen dibanding Maret 2020.

Ekspor pada periode itu didominasi industri sebesar 80,84 persen, disusul tambang (12,07 persen), migas (4,94 persen), dan pertanian (2,15 persen).

Secara kumulatif, nilai ekspor pada Januari–Maret 2021 mencapai US$48,90 miliar atau meningkat 17,11 persen dibanding periode yang sama tahun 2020.

Sementara, nilai impor Indonesia Maret 2021 mencapai US$16,79 miliar, naik 26,55 persen dibandingkan Februari 2021 atau naik 25,73 persen dibandingkan Maret 2020. Struktur impor pada Maret 2021 yang didominasi bahan baku/penolong sebesar 77,26 persen dan barang modal sebesar 14,34 persen.

Kegiatan Ekspor Impor & Permasalahannya via Pelabuhan Priok (Menurut Kajian Aptrindo):

•Dijalan sering ada kemacetan & antri di Gate terminal pelabuhan dan depo lama.
•Pembatasan waktu dijalan masuk Tol JORR-Cikampek jam 6.00-9.00.
•Waktu antrian & stuffing/ stripping di Pabrik yang memakan waktu lama.
•System Pelayanan dokumen pelabuhan lama ,sistem Bea dan Cukai maupun terminal sering mengalami gangguan.
•Letak Depo yang terpencar berada zona lokasi jalan klas 3 atau tidak layak.
•Akses jalan tol yang tidak terhubung langsung dengan terminal.
•Window time kapal yang sempit yakni 4 × 24 jam = 96jam.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.