Sudah Serba Digital, JICT Usung Smart Port & Green Port

  • Share
Dirut JICT Ade Hartono, saat memberikan keterangan kepada wartawan saat Media Visit JICT, Rabu (16/6)-photo: logistiknews.id

JAKARTA – Optimalisasi layanan melalui pemanfaatan teknologi dan digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi jasa kepelabuhan di tanah air, terus dilakukan oleh manajemen Jakarta International Container Terminal (JICT).

“Melihat perekonomian makro dan throughput sudah mulai membaik, maka teknologi yang telah dikembangkan saat ini akan menjadikan JICT sebagai terminal pilihan, untuk sebagai smart port maupun gren port,” ujar Direktur Utama PT JICT, Ade Hartono, dalam konferensi pers ‘Media Visit JICT’, di Jakarta, Rabu (16/6/2021).

Dia mengatakan, JICT yang merupakan bagiandari IPC/Pelindo II dan Hutchison Port Indonesia (HPI) memiliki komitmen yang kuat untuk melayani pengguna jasa, dengan integritas sejalan dengan program IPC bersih dan menolak segala bentuk pungutan liar (Pungli) di pelabuhan.

“Kami Mendukung upaya Kepolisian dalam menegakkan hukum dalam memberantas pungli. Kamipun sudah melakukan tindakan tegas kepada pihak vendor untuk menindak oknum yang terlibat praktik pungli yang mencederai komitmen IPC bersih. Apalagi bagi kami, komitmen JICT bersih sudah dilakukan sejak 12 tahun yang lalu,” ungkapnya.

Ade Hartono mengatakan sebagai upaya untuk mempercepat proses bongkar muat peti kemas, JICT memakai sistem yang canggih dan terintegrasi yaitu NGen.

Sebagai bagian dari Hutchison Port, NGen dipakai di semua pelabuhan Hutchison Port Holding (HPH) di seluruh dunia. Sistem ini memungkinkan dilakukan remote atau ROC. Sehingga apabila terjadi masalah manpower di suatu pelabuhan, bisa di backup dari pelabuhan HPH yang lain.

“Layanan pelabuhan yang efisien merupakan salah satu kunci daya saing ekonomi. Karena itu JICT terus berusaha mengoptimalkan layanan berbasis pemanfaatan teknologi, digitalisasi dan didukung SDM terbaik. JICT adalah Terminal Petikemas pertama di Indonesia yang mendapat sertifikasi ISPS Code di Indonesia, artinya JICT di percaya oleh internasional sebagai tempat bersandar kapal kapal luar negeri karena aman,” tegasnya.

Ade menjelaskan efisiensi di JICT sudah dimulai ketika pelanggan akan melakukan pembayaran biaya ekspor impor. Melalui penerapan sistem billing online di terminal JICT, yang telah terhubung dengan layanan online baik melalui aplikasi Web Billing (WEBI) maupun melalui Mobile Apps berbasis android, pengguna jasa tidak perlu datang ke pelabuhan.

“Para pengguna jasa yang telah terkoneksi dengan WEBI maupun Mobile Apps tersebut dapat melakukan pembayaran melalui Bank Mandiri, BRI, BNI dengan menggunakan anjungan tunai mandiri (ATM), mini ATM maupun internet banking,” jelasnya.

JICT juga sudah dilengkapi JICT Auto Gate System (JAGS) untuk mengefektifkan penanganan peti kemas yang keluar masuk terminal menggunakan truk.

Saat ini JICT 12.000 truk telah terdaftar dan JICT telah mengeluarkan kartu Truck Identification (TID) kepada perusahaan truk untuk akses ke terminal.  Sistem ini secara signifikan mampu mengurangi waktu transaksi di gerbang dan waktu tunggu di area parkir.

Menurut Ade, dengan adanya penerapan operasional yang efektif dan efisien, serta dilengkapi sistem yang mutakhir, terbukti mampu meningkatkan kapasitas penanganan tahunan terminal JICT menjadi 2,8 juta twenty foot equivalent units (TEUs).

Pada bulan Mei 2021 arus peti kemas di JICT tercatat 807,239 TEUs. Hingga akhir tahun lalu, JICT merupakan pemegang 42% Market Share di Seluruh terminal petikemas Internasional di Tanjung Priok.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.