Sektor Transportasi & Pergudangan Moncer, Ini Pemicunya Menurut SCI

  • Share
Setijadi, Chairman SCI

LOGISTIKNEWS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut ekonomi Indonesia triwulan I-2022 tumbuh sebesar 5,01 persen (y-on-y).

Berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB), perekonomian Indonesia triwulan I-2022 mencapai Rp4.513,0 triliun atas dasar harga berlaku.

Dari beberapa lapangan usaha, Transportasi dan Pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 15,79 persen (y-on-y).

Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi menyatakan pertumbuhan sektor logistik yang tinggi itu didorong terutama oleh pertumbuhan lapangan usaha Perdagangan (5,71 persen), Industri Pengolahan (5,07 persen) dan Konstruksi (4,83 persen).

Pertumbuhan Transportasi dan Pergudangan juga dipacu oleh pertumbuhan ekspor (16,22 persen) dan impor (15,03 persen).

Pada triwulan I-2022, moda transportasi laut turun sebesar 0,59 persen dan moda transportasi rel naik 14,16 persen. Jika dilihat secara q-to-q, moda transportasi laut turun sebesar 1,41 persen dan moda transportasi rel turun 6,33 persen.

Pada triwulan I-2022 itu, jumlah barang yang diangkut dengan moda transportasi rel naik sebesar 14,16 persen menjadi 13,47 juta ton, sedangkan jumlah barang yang diangkut dengan moda transportasi laut turun 0,59 persen atau menjadi 78,06 juta ton dibanding periode yang sama tahun 2021.

Volume angkutan barang dengan moda transportasi rel dan moda transportasi laut mengalami penurunan, sementara sektor logistik menunjukkan pertumbuhan signifikan.

SCI menganalisis kondisi di atas terjadi karena pengangkutan barang pada periode tersebut semakin didominasi oleh moda transportasi jalan (trucking), seperti yang terjadi selama ini.

Berdasarkan data BPS tahun 2021, misalnya, moda transportasi jalan berkontribusi terhadap PDB subsektor transportasi sebesar 69,38 persen, sementara moda transportasi laut sebesar 8,71 persen dan moda transportasi rel 1,38 persen.

Dominasi moda transportasi jalan itu kurang baik karena untuk pengangkutan jarak menengah dan jauh moda ini sebenarnya kurang efisien dibandingkan moda transportasi laut dan rel. Dominasi moda transportasi jalan itu terjadi karena sistem transportasi multimoda belum berkembang secara baik.

Dengan mempertimbangkan karakteristik geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, perlu dikembangkan sistem transportasi multimoda dengan transportasi laut sebagai backbone. Hal ini akan mendorong penggunaan semua moda transportasi secara proporsional.

Setijadi menyatakan pengembangan sistem transportasi multimoda harus dilakukan dengan perencanaan secara terpadu. Secara khusus, perlu perbaikan fasilitas dan proses di simpul-simpul transportasi seperti pelabuhan, bandara, dan terminal barang kereta api.(am)

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.