Oleh : Akhmad Mabrori Managing Editor Logistiknews
KEBERADAAN fasilitas jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) yang kini telah tersambung penuh dengan lima ruas Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2, masih mendapat soroton pelaku usaha logistik lantaran tarifnya dinilai mahal.
Akibatnya, pemanfaatan jalan bebas hambatan yang dibangun dan dioperasikan oleh PT Pelindo Solusi Logistik (Pelindo Group) melalui PT Cibitung Tanjung Priok Port Tollways (PT CTP Tollways) itu tak optimal untuk mendorong efisiensi layanan logistik, khususnya oleh kendaraan/truk logistik.
Sejatinya, JTCC disiapkan untuk menampung arus kendaraan dari selatan dan memfasilitasi kelancaran pergerakan orang dan barang termasuk kendaraan logistik dari dan menuju pelabuhan Tanjung Priok, dan yang paling dekat adalah dari Kawasan Industri MM2100 Cibitung melalui Simpang Susun Setu Utara Cimaci.
Menurut data dari Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), total panjang Jalan Tol JORR 2 mencapai 111 kilometer dan terdiri dari enam ruas jalan tol, yaitu Tol Cengkareng-Kunciran, Kunciran-Serpong, Serpong-Cinere, Cinere-Jagorawi, Cimanggis-Cibitung, dan Cibitung-Cilincing.
Penyelesaian ini menandai penyempurnaan struktur jaringan jalan tol di kawasan Jabodetabek, yang sebelumnya telah memiliki Tol Lingkar Dalam Kota dan Tol JORR 1, sehingga menciptakan sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan efisien.
Sejumlah kalangan pelaku usaha juga masih menyoroti efektifitas pemanfaatan jalan tol tersebut yang relatif tak optimal dari aktivitas truk logistik.
Bahkan, Asosiasi Logistik dan Forwarding Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, menyebut tingkat pemanfaatan JTCC oleh pelaku usaha logistik masih rendah.
“Padahal JTCC ini menjadi penghubung penting antara kawasan industri dan Pelabuhan Tanjung Priok dan sekaligus sebagai solusi dan bagian dari integrasi koridor wilayah logistik,” ujar Ketua Umum DPW ALFI Jakarta Adil Karim.
Dia menyatakan integrasi koridor logiistik menjadi solusi mendesak, di tengah kemacetan di jalur logistik seperti Pelabuhan Tanjung Priok yang semakin padat dan jalan tol eksisting masih belum optimal dimanfaatkan.
Oleh karena itu, sangat disayangkan masih rendahnya tingkat pemanfaatan JTCC oleh pelaku usaha logistik, disebabkan oleh tingginya tarif tol yang dinilai tidak sebanding dengan efisiensi biaya operasional.
Apalagi sudah dari awal, ALFI mendorong pemerintah dan pengelola tol untuk mengevaluasi tarif jalan Tol Cibitung-Cilincing itu.
Peran Pelindo
Hal senada juga pernah dikemukakan oleh Wakil Ketua Umum Angktutan Barang Pelabuhan DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gagan Eryana Gartika.
Bahka asosiasinya telah melakukan survey internal kepada perusahaan anggota bahwa tarif Tol tersebut mahal.
“Makanya trucking enggan masuk Tol JTCC itu, lantaran selisih tarifnya dengan jalan arteri atau tol eksisting (Japek) bisa lebih 50%. Oleh karenanya, Pelindo mesti bisa menginisiasi agar tarif Tol tersebut bisa lebih murah, sehingga lebih optimal dimanfaatkan truk angkutan barang dan peti kemas,” ujar Gagan.
Dia mengatakan, Aptrindo bersedia berdiskusi dengan stakeholders terkait untuk mengoptimalkan fasilitas Tol JTCC itu, sepanjang tarifnya nantinya bisa lebih murah dari yang saat ini berlaku.
“Kalau fasilitas Tol itu jarang dimasuki angkutan barang, itu kan sama saja tidak fasilitas tersebut belum manfaat untuk kelancaran dan efisiensi logistik,” tegas Gagan.
Evaluasi ini perlu dilakukan agar jalan tol yang terhubung dengan Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2 tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri logistik dan meningkatkan efisiensi logistik nasional.
Kurang Diminati
Sebelumnya, Senior Consultant Supply Chain Indonesia (SCI) Sugi Purnoto mengatakan tarif JTCC yang tinggi menjadikan jalan itu kurang diminati, terutama bagi pelaku usaha transportasi dan logistik.
“Tarif tol Cibitung-Cilincing yang berlaku saat ini terlalu tinggi, bahkan lebih mahal hingga 50 persen dibandingkan jalan tol eksisting seperti Japek atau jalan arteri. Hal ini membuat banyak pelaku logistik enggan menggunakan tol tersebut,” ujar Sugi.
Dia menjelaskan tarif yang kompetitif menjadi kunci utama dalam mendorong efisiensi logistik, yang juga merupakan salah satu fokus pemerintah. Jika tarif tol lebih kompetitif, efisiensi logistik bisa meningkat hingga 50 persen.
“Diperkirakan pelaku logistik akan berminat menggunakan JTCC jika tarifnya sama dengan tol JOR 2 atau turun sekitar 60 persen dari tarif JTCC sekarang,” katanya.
Keberadaan JTCC sebenarnya sangat penting karena menghubungkan daerah logistik dengan pelabuhan dan telah lama dinanti oleh para pelaku logistik. Penurunan waktu tempuh, biaya operasional, hingga pengurangan risiko kecelakaan adalah manfaat nyata yang bisa dirasakan pelaku usaha.
Namun, tarif yang tinggi membuat para pengusaha logistik memilih rute tol lain dan baru menggunakan tol ini sebagai alternatif saat kondisi darurat. Hal ini tentu mengurangi potensi efisiensi waktu dalam kelancaran logistik dengan menggunakan Tol Cibitung-Cilincing.
Karenanya, penurunan tarif JTCC akan meningkatkan minat para pengguna sehingga berpotensi meningkatkan pendapatan jalan tol itu serta guna mendukung kelancaran dan efisiensi logistik.*













