LOGISTIKNEWS.ID- Terminal Petikemas (TPK) Teluk Bayur, Padang Sumatera Barat, sukses melakukan eletrifikasi sejumlah alat bongkar muat seperti Rubber Tyred Gantry Crane (RTG) maupun Gantry Lufting Crane (GLC) di terminal petikemas tersebut untuk mendukung green port sekaligus modernisasi layanan jasa kepelabuhanan.
Sebelumnya peralatan bongkar muat di TPK Teluk Bayur menggunakan bahan bakar minyak (BBM) Solar, namun sejak setahun lalu telah merealisasikan program elektrifikasi menggunakan listrik sehingga secara kinerja operasional bisa lebih cepat lantaran daya angkat alat bertambah.
Manager Area IPC TPK Teluk Bayur, Erika Sudarto mengatakan, untuk elektrifikasi semua GLC (sebanyak 4 unit) di TPK Teluk Bayur telah berjalan sejak Agustus 2024. Sedangkan untuk RTG sudah 1 unit (dari 3 unit RTG) yang di elektrifikasi atau menggunakan enggine hybrid sejak Mei 2025.
“Selain mengurangi polusi, nilai tambah atas manfaat elektrifikasi peralatan bongkar muat tersebut telah kami rasakan, termasuk menghemat konsumsi BBM sekitar 30% dari sebelumnya,” ujar Erika yang didampingi Asmen Pendukung Operasi IPC TPK Teluk Bayur, Budi Prasetyo,saat ditemui di Padang pada Selasa (2/9/2025).
Selain mengoperasikan 4 unit GLC dan 3 unit RTG, TPK Teluk Bayur juga mengoperasikan 2 unit Reach Stacker (RS), serta 11 unit Head Truk dan Chaais 11 Unit. Bahkan TPK Teluk Bayur mengusulkan agar ada penambahan 1 unit RS di terminal tersebut pada 2026.
Berdasarkan data IPC TPK Teluk Bayur, realisasi arus peti kemas selama Januari s/d Agustus 2025 mencapai 76.101 twenty foot equivalent units (TEUs) atau naik 17,15% dibanding pencapaian periode yang sama tahun lalu sebanyak 64.960 TEUs.
Rincian arus petikemas selama 8 bulan pertama tahun 2025 di TPK Teluk Bayur itu berasal dari petikemas ekspor impor (internasional) 3.137 TEUs, dan petikemas domestik 72.964 TEUs.
Sedangkan pada periode yang sama tahun 2024, petilemas di TPK Teluk Bayur berasal dari petikemas ekspor impor (internasional) 2.640 TEUs, dan petikemas domestik 64.960 TEUs.

Berdasarkan data tersebut, peti kemas internasional di TPK Teluk Bayur tumbuh sekitar 20%, dan petikemas domestik tumbuh sekitar 16%.
“Pendorong ekspor impor itu salah satunya dari aktivitas pengapalan Jagung, Bungkil Kedelai, dan Pakan Ternak oleh PT Japfa Comfeed, maupun komoditi hasil bumi dari Sumbar,” ungkap Erika.
Adapun komoditi yang ditangani melalui TPK Teluk Bayur, selama ini pada umumnya antara lain; semen, karet, cokelat, kelapa, palm fatty, gambir, kayu manis, kopi, batu, karton/kertas, tiang listrik, besi, plywood, rempah, ikan segar, dan general cargo.
“Sejumlah pelayaran nasional pengangkut peti kemas, juga menjadi market tetap TPK Teluk Bayur yakni Meratus Line, SPIL, Temas Line dan Tanto Intim Line,” jelas Erika.[am]













