LOGISTIKNEWS.ID- Pemerintah dan pelaku industri kemaritiman berkomitmen meningkatkan pengawasan pada implementasi Sistem Manajemen Keselamatan, Kesehatan dan Keamanan Kerja atau SMK3 pada Industri Galangan kapal.
Bahkan, SMK3 menjad prioritas agar industri galangan kapal nasional yang telah memiliki market share domestik yang besar saat ini bisa lebih berdaya saing di tingkat global.
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Mahardi Tunggul Wicaksono mengatakan, tantangan utama dalam penerapan SMK3 selama ini yakni kurangnya pemahaman pekerja terkait K3, dan belum optimalnya pendampingan tehnis, serta keterbatasan anggaran khususnya terhadap perusahaan kecil dan menengah maupun belum kuatnya komitmen manajemen soal K3 di perusahaan tersebut.
“Intinya komitmen SMK3 di industri galangan kapal itu membutuhkan komitmen dari Top Management-nya (owner),” ujar Tunggul, saat membuka Bimbingam Tehnis dan Talk Show Implementasi SMK3 yang dilaksanakan atas kerjasama Ikatan Perusahaan Industri Kapal Indonesia (Iperindo) dan PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), di Auditorium Ali Sadikin PT BKI, di Jakarta Utara pada Selasa (25/11/2025).
Kemenperin juga menyatakan apresiasi lantaraan berdasarkan survey Iperindo, menyebutkan bahwa dari 98 perusahaan yang terdiri dari 76 galangan kapal dan 22 industri penunjangnya sudah menetapkan SMK3.
“Jadi hanya 27% yang belum menerapkanya secara optimal,” ucap Tunggul.
Dia mengatakan saat ini, terdapat 324 industri galangan kapal yang tersebar di 29 Provinsi dengan kapasitas terbesar mencapai 300.000 DWT, serta menyerap 46.000 tenaga kerja.
Industri ini juga telah mampu membangun berbagai jenis kapal mulai kapal niaga, penumpang hingga kapal perang yang didukung 127 perusahaan komponen kapal bersertifikasi marine class.
“Upaya peningkatan daya saing juga terus dilakukan, seiring telah diterbitkanya 560 sertifikat TKDN dengan tingkat kandungan lokal antara 10,24% hingga 81,35%,” ujar Tunggul.
Captive Market
Ketua Umum DPP Iperindo, Anita Puji Utami, dalam sambutannya menegaskan pentingnya edukasi SMK3 pada tataran eksekutif maupun top manajemen industri galangan kapal.
Anita mengungkapkan, pada dasarnya industri galangan kapal nasional telah memiliki captive market tersendiri, namun tetap harus mengedepankan SMK3 maupun mengadopsi kemajuan tehnologi, baik yang berlandaskan fuel maupun energi terbarukan.
“Kita (galangan kapal nasional) sudah punya market domestik sendiri. Namun mari sama-sama kita bersimergi agar galangan kapal nasional juga bisa lebih berdaya saing. Selain itu, kita mesti ikuti kemajuan tehnologi baik yang gunakan fuel maupun alternatif tehnologi,” ucap Anita.

Untuk itu, Iperindo menghimbau agar SMK3 bukan sekedar slogan tetapi mendorong pentingnya arti keselamatan.
Kordinator Bidang Akreditasi K3 Kemenaker, Sudi Astono, mengatakan pihaknya sangat mendorong perkembangan kemajuan K3 di Indonesia, termasuk di sektor Matitim termasuk industri galangan kapal.
“Apalagi salah satu visi misi Pemerintah saat ini termasuk fokus ke soal K3 di semua sektor industri termasuk industri kemaritiman,” ujar Astono.
Pada acara tersebut juga dihadiri Anggota DPR Komisi VII yang juga Pembina Iperindo, Bambang Haryo, serta Dirut PT BKI R. Benny Susanto. [am]













